MABUK DUREN
Duren
Duren
Duren
Dimana-mana tercium bau duren
Dipinggir jalan
Banyak yang jual duren
Beli ?
Nggak
Beli ?
Nggak
Kalau dibeli ?
Aduh durennya bagus-bagus
Kalau dibeli ?
Hhhuuuaaaa ngantuuukkkk
Kok mata berat sekali ya?
Kok badan terasa berat ?
Jadi malas ngapa-ngapain
Pikiranpun terasa buntu
Tidur dulu ah
Duren yang kubeli
Masak dibatang
Isinya tebal
Warna kekuningan
Harum dan manis
Bijinya kecil
Hhhhmmm nikmat
Tangan tak bisa berhenti
Melihat duren yang terbuka
Satu persatu disantap
Bijinya dibuat licin
Hingga tandas satu duren besar berdua
Duren oh duren
Begini rasanya mabuk duren
Minum di lundang
Makan ketimun
Sudah tak mempan
Hhuuuaaaaaa ngantuk
Gara-gara makan duren
Jadi mabuk duren
Bengkulu, 18 November 2009
Hanifah Damanhuri
Rabu, 18 November 2009
Selasa, 17 November 2009
UNI-UNIKU PAHLAWAN KAMI
UNI-UNIKU PAHLAWAN KAMI
Kedua uniku
Menyaksikan pasang naik dan
Pasang surut
Kehidupan keluarga papa kami
Uniku yang kedua
Punya kelebihan yang berbeda
Dia penyayang sama anak kecil
Jiwa sosialnya sangat tinggi
Jadilah dia sejak berumur 8 tahun
Mengasuh aku dan adik-adikku
Sekolahnya dipilihkan yang masuk siang
Sehingga dia terpaksa sekolah jauh dari rumah
Tanpa menoleh kebelakang
Serta dibantu dengan segenap usaha dan doa
Oleh papa dan mamaku
Uniku yang pertama
Berhasil jadi dokter
Setelah bertugas sebagai dokter
Sebagian penghasilannya dikirim
Untuk membantu biaya sekolah kami
Hingga aku dan kedua adikku
Jadi sarjana pula
Abangku meninggal di usia muda
Semasa hidup
Papaku suka mengingatkan
“ Tidak boleh melawan ke uni- uni ya !
Kalian punya tiga ibu
Ibu yang melahirkan
Ibu yang mengasuh ketika kecil
Ibu yang menyekolahkan “
Ketika semua adik
Sudah terseberangkan dan
Ketika berkumpul
Aku dan adikku tertawa-tawa saja
Kalau uni-uniku mengomel
“ Yaaa nasib jadi anak tua “, kata uniku yang tua
“ Yaaa nasib jadi bibik “, kata uniku yang kedua
“ Asyiik jadi anak tengah”, kataku
“ Siapa suruh jadi anak tua “ kata sibontot
Uni-uniku pahlawan kami
Sampai sekarangpun
Sinergi mereka berdua
Telah menyelesaikan banyak perkara
Terima kasih uni
Ya Allah Yang Maha Pengasih
Bahagiakanlah uni-uni kami
Baik di dunia
Maupun di akhirat nanti
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 17 November 2009
Hanifah Damanhuri
Kedua uniku
Menyaksikan pasang naik dan
Pasang surut
Kehidupan keluarga papa kami
Uniku yang kedua
Punya kelebihan yang berbeda
Dia penyayang sama anak kecil
Jiwa sosialnya sangat tinggi
Jadilah dia sejak berumur 8 tahun
Mengasuh aku dan adik-adikku
Sekolahnya dipilihkan yang masuk siang
Sehingga dia terpaksa sekolah jauh dari rumah
Tanpa menoleh kebelakang
Serta dibantu dengan segenap usaha dan doa
Oleh papa dan mamaku
Uniku yang pertama
Berhasil jadi dokter
Setelah bertugas sebagai dokter
Sebagian penghasilannya dikirim
Untuk membantu biaya sekolah kami
Hingga aku dan kedua adikku
Jadi sarjana pula
Abangku meninggal di usia muda
Semasa hidup
Papaku suka mengingatkan
“ Tidak boleh melawan ke uni- uni ya !
Kalian punya tiga ibu
Ibu yang melahirkan
Ibu yang mengasuh ketika kecil
Ibu yang menyekolahkan “
Ketika semua adik
Sudah terseberangkan dan
Ketika berkumpul
Aku dan adikku tertawa-tawa saja
Kalau uni-uniku mengomel
“ Yaaa nasib jadi anak tua “, kata uniku yang tua
“ Yaaa nasib jadi bibik “, kata uniku yang kedua
“ Asyiik jadi anak tengah”, kataku
“ Siapa suruh jadi anak tua “ kata sibontot
Uni-uniku pahlawan kami
Sampai sekarangpun
Sinergi mereka berdua
Telah menyelesaikan banyak perkara
Terima kasih uni
Ya Allah Yang Maha Pengasih
Bahagiakanlah uni-uni kami
Baik di dunia
Maupun di akhirat nanti
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 17 November 2009
Hanifah Damanhuri
Sabtu, 14 November 2009
NASI RAMAS
NASI RAMAS
Tinggal dikampung yang permai
Dirumah yang indah
Lengkap dengan kolam, dan sawah
Mama seorang guru pula
Sekilas pastilah kami termasuk
Orang kaya untuk ukuran kampung
Ketika rumah dibangun
Papaku memang sedang jaya-jayanya
Harta dan tahta papaku punya
Sempat mamaku dilarang papa jadi guru
Jadi nyonya rumah saja
Dengan bayaran sekian kali lipat
Mamaku menolaknya
Usai PRRI
Kehidupan berobah total
Yang tak berobah adalah
Mamaku tetap jadi guru SD dikampungku
Anaknyapun bertambah terus
Hingga yang hidup berjumlah 6 orang
Ketika dua orang kakakku sudah kuliah
Tinggallah kami berempat bersaudara
Dua lelaki, dua perempuan
Keempatnya “cangok-cangok”
Kalau ada rapat di sekolah
Nasi ramas jatah mama
Selalu dibawa pulang
Kampungku yang dingin
Dengan anak-anak yang baru tumbuh
Begitu bungkus nasi dibuka
Langsung diserbu ramai-ramai
Siapa cepat siapa dapat
Aroma cancang dengan nasi dibungkus daun
Hmmm nikmat sekali
Dalam waktu yang singkat
Nasi ramas hilang dari pandangan
Jari-jaripun dijilati
Hingga tak ada sisa kuah cancang
Yang melekat dijari
Mamaku memandang kami
Dengan tatapan penuh kasih
Masa kecil yang indah
Penuh kenangan manis
Bengkulu, 15 November 2009
Hanifah Damanhuri
Tinggal dikampung yang permai
Dirumah yang indah
Lengkap dengan kolam, dan sawah
Mama seorang guru pula
Sekilas pastilah kami termasuk
Orang kaya untuk ukuran kampung
Ketika rumah dibangun
Papaku memang sedang jaya-jayanya
Harta dan tahta papaku punya
Sempat mamaku dilarang papa jadi guru
Jadi nyonya rumah saja
Dengan bayaran sekian kali lipat
Mamaku menolaknya
Usai PRRI
Kehidupan berobah total
Yang tak berobah adalah
Mamaku tetap jadi guru SD dikampungku
Anaknyapun bertambah terus
Hingga yang hidup berjumlah 6 orang
Ketika dua orang kakakku sudah kuliah
Tinggallah kami berempat bersaudara
Dua lelaki, dua perempuan
Keempatnya “cangok-cangok”
Kalau ada rapat di sekolah
Nasi ramas jatah mama
Selalu dibawa pulang
Kampungku yang dingin
Dengan anak-anak yang baru tumbuh
Begitu bungkus nasi dibuka
Langsung diserbu ramai-ramai
Siapa cepat siapa dapat
Aroma cancang dengan nasi dibungkus daun
Hmmm nikmat sekali
Dalam waktu yang singkat
Nasi ramas hilang dari pandangan
Jari-jaripun dijilati
Hingga tak ada sisa kuah cancang
Yang melekat dijari
Mamaku memandang kami
Dengan tatapan penuh kasih
Masa kecil yang indah
Penuh kenangan manis
Bengkulu, 15 November 2009
Hanifah Damanhuri
Selasa, 10 November 2009
KETIKA HATI NURANI BERBICARA
KETIKA HATI NURANI BERBICARA
Terpana aku menyaksikanTV
Seorang saksi Wiliardi
Mencabut BAP palsunya
Yang telah menjebloskan Antasari
Ke dalam penjara
Sehingga Antasari
Kehilangan segala-galanya
Terutama harga diri
Wiliardipun dengan lantang menyatakan
“ Antasari tak bersalah “
“ Petinggi polisi yang mengkondisikan …”
Kelihatan Antasari terkejut
Telapak tangan menutup muka
Kemudian menunduk dan menangis
Semua orang memuji kebesaran Allah
Yang telah memberikan hidayah pada Wiliardi
Untuk berbicara tentang kebenaran
Hati nurani Wiliardi telah berbicara
Mematikan langkah seseorang
Yang mungkin akan menghambat
Perburuan terhadap tahta dan harta
Banyak terjadi dimana-mana
Tak peduli dengan dampak
Ghibah dan fitnah
Tak peduli tuntunan AlQuran
Tentang ghibah dan fitnah
Andai suatu saat
Ketika hati nurani berbicara
Semuanya sudah terlambat
Air mata darah penyesalan
Takkan ada gunanya
Doa orang teraniaya
Akan dikabulkan Allah
Tiada daya
Tiada upaya
Kecuali
Izin Allah
Bengkulu, 11 November 2009
Hanifah Damanhuri
Terpana aku menyaksikanTV
Seorang saksi Wiliardi
Mencabut BAP palsunya
Yang telah menjebloskan Antasari
Ke dalam penjara
Sehingga Antasari
Kehilangan segala-galanya
Terutama harga diri
Wiliardipun dengan lantang menyatakan
“ Antasari tak bersalah “
“ Petinggi polisi yang mengkondisikan …”
Kelihatan Antasari terkejut
Telapak tangan menutup muka
Kemudian menunduk dan menangis
Semua orang memuji kebesaran Allah
Yang telah memberikan hidayah pada Wiliardi
Untuk berbicara tentang kebenaran
Hati nurani Wiliardi telah berbicara
Mematikan langkah seseorang
Yang mungkin akan menghambat
Perburuan terhadap tahta dan harta
Banyak terjadi dimana-mana
Tak peduli dengan dampak
Ghibah dan fitnah
Tak peduli tuntunan AlQuran
Tentang ghibah dan fitnah
Andai suatu saat
Ketika hati nurani berbicara
Semuanya sudah terlambat
Air mata darah penyesalan
Takkan ada gunanya
Doa orang teraniaya
Akan dikabulkan Allah
Tiada daya
Tiada upaya
Kecuali
Izin Allah
Bengkulu, 11 November 2009
Hanifah Damanhuri
Senin, 09 November 2009
HIDUP TPF 8
HIDUP TPF 8
Disepanjang usiaku
Yang sudah separoh baya
Baru sekarang
Aku menyaksikan acara TV
Serunya melebihi
Novel-novel detektif
Sekaliber Agatha Crysti
Bahkan melebihi film-film detektif
Yeng sering kutonton di TV
Ketika masih remaja dulu
Mataku terbelalak
Ketika Polisi membeberkan
Data keterlibatan Bibit & Chandra
Kepalaku jadi pusing
Hatiku berkata
“Apa aku mendukung orang yang salah? “
Setelah Magrib tadi
Kusaksikan pernyataan TPF 8
“ Kasus Bibit-Chandra terlalu dipaksakan”
“ Bukti polisi lemah “
“ Kasusnya lemah karena gunakan pasal karet “
“ Kasus Bibit-Chandra ada kaitannya dg Century”
Pusingku mendadak hilang
Tapi terbayang
Banyak yang tak bisa tidur malam ini
Jangan-jangan WAPRES juga tidak tidur
Jangan-jangan GULTOM sudah mulai menangis
Seperti menonton film detektif
Penonton yang kreatif
Cendrung memperkirakan
Jawaban akhir walau sering meleset
Apapun yang akan terjadi esok
Malam ini aku harus memuji TPF 8
Hidup TPF 8
Engkau harapan kami yang tersisa
Untuk menegakkan kebenaran
Bengkulu, 9 November 2009
Hanifah Damanhuri
Disepanjang usiaku
Yang sudah separoh baya
Baru sekarang
Aku menyaksikan acara TV
Serunya melebihi
Novel-novel detektif
Sekaliber Agatha Crysti
Bahkan melebihi film-film detektif
Yeng sering kutonton di TV
Ketika masih remaja dulu
Mataku terbelalak
Ketika Polisi membeberkan
Data keterlibatan Bibit & Chandra
Kepalaku jadi pusing
Hatiku berkata
“Apa aku mendukung orang yang salah? “
Setelah Magrib tadi
Kusaksikan pernyataan TPF 8
“ Kasus Bibit-Chandra terlalu dipaksakan”
“ Bukti polisi lemah “
“ Kasusnya lemah karena gunakan pasal karet “
“ Kasus Bibit-Chandra ada kaitannya dg Century”
Pusingku mendadak hilang
Tapi terbayang
Banyak yang tak bisa tidur malam ini
Jangan-jangan WAPRES juga tidak tidur
Jangan-jangan GULTOM sudah mulai menangis
Seperti menonton film detektif
Penonton yang kreatif
Cendrung memperkirakan
Jawaban akhir walau sering meleset
Apapun yang akan terjadi esok
Malam ini aku harus memuji TPF 8
Hidup TPF 8
Engkau harapan kami yang tersisa
Untuk menegakkan kebenaran
Bengkulu, 9 November 2009
Hanifah Damanhuri
Kamis, 29 Oktober 2009
UNDANGAN DARI SOLO
UNDANGAN DARI SOLO
Kulihat ada surat berwarna coklat
Yang tergeletak di meja
Surat itu ditujukan untukku
Yang dikirim oleh uni Tuti bakoku
Kubuka sampulnya
Terlihat sebuah undangan yang indah
Berwarna coklat muda
Berpita coklat tua
Dilengkapi dengan tempelan
Rumah Gadang berwarna keemasan
Pertanda bakoku akan “ Baralek Gadang “
Halaman pertama berisi surat Ar Ruum 21
Halaman berikutnya foto calon pengantin
Anggun (keponakan uni Tuti) bersama Apri
Dan puisi cinta nya Matsanawi…
Halaman seterusnya isi undangan
Diantaranya Walimatul Ursy …
Insya Allah …
Minggu, 01 November 2009
Gedung Grha Wisata Niaga
Surakarta
Kupandangi undangan yang indah tersebut
Hatiku jadi berkecamuk tak menentu
Berperang antara keinginan untuk datang
Sementara kendala menghadang
Bayangan masa kecil dirumah bako
Yang terletak di simpang Sungai Tanang
Menari-nari di pelupuk mata
Apalagi bila ada pesta
Lari kesana lari kesini
Naik tangga turun tangga
Pernah di suatu pesta
Aku hampir ditabrak sedan
Menyebrang tak melihat kiri kanan
Bunyi rem yang berdecit
Membuat ibunya Tuti
Yang ku panggil kak Nah
Keluar rumah dan menggendongku
Pernah di suatu pesta
Aku dicubit nenek kandungku
Yang datang dari Medan
Cubitan satu-satunya dari nenekku
Karena aku naik turun tangga
Di pestanya uni Efi
Gara-gara aku begadang
Menonton pasambahan
Hidungku mimisan
Hingga aku terpaksa dirawat di RS Bkt
Kupandangi lagi undangan
Untuk
Terbayang Solo 3 tahun yang lalu
Aku ditunggu uni Tuti di stasiun
Kukatakan padanya lewat SMS
Baju dan kerudungku warna ungu
Sejak itu
Komunikasi aku dan Tuti
Yang sempat terputus
Kembali lancar
Ketika ada tugas ke Jogja
Aku mampir ke Solo
“ Datanglah biar bisa bersilaturrahim
Dengan keluarga besar bako
Ngumpul kita di Solo “
Bunyi SMS uni Tuti
Minggu yang lalu
Tugasku sebagai dosen
Semester ini banyak terganggu
Terbirit-birit aku
Mengejar ketinggalan
Terpaksa kupakai hari Sabtu
Pengganti waktu
Jadwal sidang sarjana yang padat
Membuat aku tak bisa
Meninggalkan Bengkulu
Selama seminggu ini
Maafkan aku uni Tuti
Maafkan aku bakoku
Hanya doa yang bisa kupanjatkan
Semoga acara berjalan sukses
Semoga kedua pengantin
Berbahagia selalu
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 30 Oktober 2009
Hanifah Damanhuri
Kulihat ada surat berwarna coklat
Yang tergeletak di meja
Surat itu ditujukan untukku
Yang dikirim oleh uni Tuti bakoku
Kubuka sampulnya
Terlihat sebuah undangan yang indah
Berwarna coklat muda
Berpita coklat tua
Dilengkapi dengan tempelan
Rumah Gadang berwarna keemasan
Pertanda bakoku akan “ Baralek Gadang “
Halaman pertama berisi surat Ar Ruum 21
Halaman berikutnya foto calon pengantin
Anggun (keponakan uni Tuti) bersama Apri
Dan puisi cinta nya Matsanawi…
Halaman seterusnya isi undangan
Diantaranya Walimatul Ursy …
Insya Allah …
Minggu, 01 November 2009
Gedung Grha Wisata Niaga
Surakarta
Kupandangi undangan yang indah tersebut
Hatiku jadi berkecamuk tak menentu
Berperang antara keinginan untuk datang
Sementara kendala menghadang
Bayangan masa kecil dirumah bako
Yang terletak di simpang Sungai Tanang
Menari-nari di pelupuk mata
Apalagi bila ada pesta
Lari kesana lari kesini
Naik tangga turun tangga
Pernah di suatu pesta
Aku hampir ditabrak sedan
Menyebrang tak melihat kiri kanan
Bunyi rem yang berdecit
Membuat ibunya Tuti
Yang ku panggil kak Nah
Keluar rumah dan menggendongku
Pernah di suatu pesta
Aku dicubit nenek kandungku
Yang datang dari Medan
Cubitan satu-satunya dari nenekku
Karena aku naik turun tangga
Di pestanya uni Efi
Gara-gara aku begadang
Menonton pasambahan
Hidungku mimisan
Hingga aku terpaksa dirawat di RS Bkt
Kupandangi lagi undangan
Untuk
Terbayang Solo 3 tahun yang lalu
Aku ditunggu uni Tuti di stasiun
Kukatakan padanya lewat SMS
Baju dan kerudungku warna ungu
Sejak itu
Komunikasi aku dan Tuti
Yang sempat terputus
Kembali lancar
Ketika ada tugas ke Jogja
Aku mampir ke Solo
“ Datanglah biar bisa bersilaturrahim
Dengan keluarga besar bako
Ngumpul kita di Solo “
Bunyi SMS uni Tuti
Minggu yang lalu
Tugasku sebagai dosen
Semester ini banyak terganggu
Terbirit-birit aku
Mengejar ketinggalan
Terpaksa kupakai hari Sabtu
Pengganti waktu
Jadwal sidang sarjana yang padat
Membuat aku tak bisa
Meninggalkan Bengkulu
Selama seminggu ini
Maafkan aku uni Tuti
Maafkan aku bakoku
Hanya doa yang bisa kupanjatkan
Semoga acara berjalan sukses
Semoga kedua pengantin
Berbahagia selalu
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 30 Oktober 2009
Hanifah Damanhuri
Selasa, 27 Oktober 2009
KEPERGIAN TAK TERDUGA
KEPERGIAN TAK TERDUGA
Kalau Allah berkehendak
Apapun dapat terjadi
Tanpa kita duga sebelumnya
Anakku ijul
Pernah kutitipkan ke kakakku di Jakarta
Membuat kakakku mesti mengasuh
Tiga orang anak kecil
Iis, Ijul dan Icha
Kisaran usia 5,3,2 tahun
Suami kakakku yang kami panggil buya
Disukai anak-anak kecil
Sehingga Ijul sering berebut buya dengan Icha
Hari Sabtu yang lalu 24 Oktober 2009
Kakakku, buya Iis dan Icha
Ikut menghadiri
Acara wisuda Ijul
Di STEI TAZKIA Bogor
Kami semua berbahagia
Apalagi buya senang sekali melihat Icha
Memakai baju muslim dan berkerudung
“ Icha cantik berkerudung” kata buyanya
Acara wisuda dilaksanakan
Di Multifunction Hall Al-Hambra
Andalusia Islamic Center Sentul City Bogor
Dengan Dato’ Sri Anwar Ibrahim dari Malaysia
Sebagai pemakalah utama dalam orasi ilmiahnya
Aku beruntung dapat menyaksikan langsung
Kehebatan Dato’ tersebut di podium
“ Alumni STEI TAZKIA haruslah SPKK
Sholeh, Pintar, Kaya dan Keren “
Kata ketua STEI TAZKIA, Dr M Syafei Antonio
Beliaupun menguraikan maksudnya
Dengan cara yang sangat menarik
Sehingga semua mata tertuju padanya
Selesai acara wisuda dan berfoto-foto
Aku, suamiku dan Ijul
Bergabung dengan keluarga buya
Setelah mampir-mampir dulu di Bogor
Kami pulang menuju Jakarta
Dalam perjalanan itu
Aku tertidur pulas
Setelah diJakarta
Usai makan malam
Aku lanjutkan tidur lagi
Aku benar-benar kelelahan
Minggu pagi 25 Oktober 2009
Aku dan kakakku menyiapkan sarapan pagi
Seyogianya hari itu
Kami akan menghadiri
Acara Halal Bi Halal
Keluarga besar H Abdul Djalil
Yang akan dilaksanakan di Cipinang jam 11 siang
Sambil sarapan pagi
Kami bercanda dan bercerita dengan buya
Aku makan agak lama
Sehingga tinggal aku dan buya di meja makan
Kulihat buya mengambil slang oksigen
Yang terdapat dekat meja makan
Dan dipasangkan ke hidung
Sambil makan kuperhatikan saja
Apa yang dilakukan buya
Kemudian buya melepaskan slang tersebut
Lalu buya menyodorkan ayam bakar untukku
Buyapun berpindah ke kasur di ruang tengah
Buya minta dipasangkan oksigen
Yang menutup mulut ke Icha yang jadi bidan
Aku masih di meja makan memperhatikan
Aku panggil Iis yang tamatan Farmasi
Untuk membatu buya
Yang nafasnya sudah mulai sesak
Sementara Icha berusaha keluar ke apotik
Mencari obat buya yang habis
Nafas buya semakin lama semakin sesak
Kakakku sudah berada disampingnya
Sejak buya pindah kekasur
Dan melap keringat yang mengalir
Membasahi badan buya
Ijul juga sudah ikut bergabung
Begitu juga suamiku yang memijit buya
Tidak mungkin kita ikut HBH
Kataku dalam hati
Iis minta telpon dihubungkan ke uniku dr Fatma
Sambil tangannya sibuk dengan slang oksigen
Iis berkonsultasi dengan uniku
Aku ikut memegang tempat telpon
Aku lihat buya bertambah letih
Mulutkupun spontan membaca
Laillla ha illlallah
Ber ulang-ulang
Ku lihat kakakku juga sudah mulai komat kamit
Di telinga buya
Icha di minta untuk pulang lagi aja
Selesai Iis menelpon
Aku sambar AlQuran yang ada dekat buya
Ku cari-cari dan dibantu Ijul
Surat Yasin
Aku baca surat Yasin
Dengan penuh perasaan
Sama rasanya seperti
Aku membaca surat Yasin
Ketika mengiring kepergian
Mama dan papaku dulu
Sejak mengaji Yasin
Aku tak lagi memperhatikan buya
Yang kudengan Iis dan Icha
Berusaha memberikan nafas buatan
Mereka berhenti
Setelah dokter datang
Dan memastikan bahwa
Buya telah tiada
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun
Buya pergi untuk selama-lamanya
Kepergian yang tak terduga
Selamat Jalan
Buya H MSyarif Hidayat, M.Ag
Aktivis Muhammadyah Jakarta
Semoga Allah
Mengampuni dosa buya
Menerima amal ibadah buya
Menempatkan buya di tempat yang mulia
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 28 Oktober 2009
Hanifah Damanhuri
Kalau Allah berkehendak
Apapun dapat terjadi
Tanpa kita duga sebelumnya
Anakku ijul
Pernah kutitipkan ke kakakku di Jakarta
Membuat kakakku mesti mengasuh
Tiga orang anak kecil
Iis, Ijul dan Icha
Kisaran usia 5,3,2 tahun
Suami kakakku yang kami panggil buya
Disukai anak-anak kecil
Sehingga Ijul sering berebut buya dengan Icha
Hari Sabtu yang lalu 24 Oktober 2009
Kakakku, buya Iis dan Icha
Ikut menghadiri
Acara wisuda Ijul
Di STEI TAZKIA Bogor
Kami semua berbahagia
Apalagi buya senang sekali melihat Icha
Memakai baju muslim dan berkerudung
“ Icha cantik berkerudung” kata buyanya
Acara wisuda dilaksanakan
Di Multifunction Hall Al-Hambra
Andalusia Islamic Center Sentul City Bogor
Dengan Dato’ Sri Anwar Ibrahim dari Malaysia
Sebagai pemakalah utama dalam orasi ilmiahnya
Aku beruntung dapat menyaksikan langsung
Kehebatan Dato’ tersebut di podium
“ Alumni STEI TAZKIA haruslah SPKK
Sholeh, Pintar, Kaya dan Keren “
Kata ketua STEI TAZKIA, Dr M Syafei Antonio
Beliaupun menguraikan maksudnya
Dengan cara yang sangat menarik
Sehingga semua mata tertuju padanya
Selesai acara wisuda dan berfoto-foto
Aku, suamiku dan Ijul
Bergabung dengan keluarga buya
Setelah mampir-mampir dulu di Bogor
Kami pulang menuju Jakarta
Dalam perjalanan itu
Aku tertidur pulas
Setelah diJakarta
Usai makan malam
Aku lanjutkan tidur lagi
Aku benar-benar kelelahan
Minggu pagi 25 Oktober 2009
Aku dan kakakku menyiapkan sarapan pagi
Seyogianya hari itu
Kami akan menghadiri
Acara Halal Bi Halal
Keluarga besar H Abdul Djalil
Yang akan dilaksanakan di Cipinang jam 11 siang
Sambil sarapan pagi
Kami bercanda dan bercerita dengan buya
Aku makan agak lama
Sehingga tinggal aku dan buya di meja makan
Kulihat buya mengambil slang oksigen
Yang terdapat dekat meja makan
Dan dipasangkan ke hidung
Sambil makan kuperhatikan saja
Apa yang dilakukan buya
Kemudian buya melepaskan slang tersebut
Lalu buya menyodorkan ayam bakar untukku
Buyapun berpindah ke kasur di ruang tengah
Buya minta dipasangkan oksigen
Yang menutup mulut ke Icha yang jadi bidan
Aku masih di meja makan memperhatikan
Aku panggil Iis yang tamatan Farmasi
Untuk membatu buya
Yang nafasnya sudah mulai sesak
Sementara Icha berusaha keluar ke apotik
Mencari obat buya yang habis
Nafas buya semakin lama semakin sesak
Kakakku sudah berada disampingnya
Sejak buya pindah kekasur
Dan melap keringat yang mengalir
Membasahi badan buya
Ijul juga sudah ikut bergabung
Begitu juga suamiku yang memijit buya
Tidak mungkin kita ikut HBH
Kataku dalam hati
Iis minta telpon dihubungkan ke uniku dr Fatma
Sambil tangannya sibuk dengan slang oksigen
Iis berkonsultasi dengan uniku
Aku ikut memegang tempat telpon
Aku lihat buya bertambah letih
Mulutkupun spontan membaca
Laillla ha illlallah
Ber ulang-ulang
Ku lihat kakakku juga sudah mulai komat kamit
Di telinga buya
Icha di minta untuk pulang lagi aja
Selesai Iis menelpon
Aku sambar AlQuran yang ada dekat buya
Ku cari-cari dan dibantu Ijul
Surat Yasin
Aku baca surat Yasin
Dengan penuh perasaan
Sama rasanya seperti
Aku membaca surat Yasin
Ketika mengiring kepergian
Mama dan papaku dulu
Sejak mengaji Yasin
Aku tak lagi memperhatikan buya
Yang kudengan Iis dan Icha
Berusaha memberikan nafas buatan
Mereka berhenti
Setelah dokter datang
Dan memastikan bahwa
Buya telah tiada
Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun
Buya pergi untuk selama-lamanya
Kepergian yang tak terduga
Selamat Jalan
Buya H MSyarif Hidayat, M.Ag
Aktivis Muhammadyah Jakarta
Semoga Allah
Mengampuni dosa buya
Menerima amal ibadah buya
Menempatkan buya di tempat yang mulia
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 28 Oktober 2009
Hanifah Damanhuri
Langgan:
Entri (Atom)