Rabu, 05 Desember 2007

MAKAN BERJAMBA

MAKAN BERJAMBA

Antri mengambil nasi
Makan sambil berdiri
Kadang sambil jalan kesana kemari
Itu sudah biasa terjadi
Entah dimana sisi manusiawi

Aku rindu makan berjamba
Makan bersama sanak saudara
Di pesta- pesta keluarga


Begitu kakakku memberi tahu
Pesta beli Sirih dan Sumandan
Akan di gelar dikampungku
Kubayangkan
Orang akan makan berjamba
Kubayangkan
Rasanya aku sudah tidak bisa
Kubayangkan
Aku tetap ikut berjamba
Bersama saudaraku
Biar kalau nasi terpelanting dari mulutku
Akan jatuh ketempat saudaraku

Makan Berjamba
Makan di satu piring besar bersama
Cara menyuap lain dari biasa
Tak boleh makan cepat-cepat
Tak boleh makan capak-capak
Tak boleh makan bertebaran
Tak boleh ambil kapling teman sebelah
Yang dimakan yang ada pada kapling sendiri

Makan berjamba
Menuntut kehalusan budi
Harus bisa menahan diri
Serempak ketika menyuap
Bukan berebut

Makan berjamba
Kadang ditemani tuan rumah
Kadang hanya sesama tamu
Tergantung pesta yang digelar

Makan berjamba
Menunya bervariasi
Untuk pesta tertentu
Menu wajibnya ditentukan

Makan berjamba
Terakhir kali aku ikut serta
Lima tahun yang lalu
Di rumah istri mamakku
Dunsanak laki-laki sesuku

Makan berjamba
Butuh ruang yang besar
Butuh pasumandan yang banyak
Butuh waktu yang lama

Akhirnya
Tanpa bisa di tunda
Makan Berjamba
Tinggal nama


Bengkulu, 8 September 2007


Hanifah Damanhuri

PESTA BELI SIRIH

PESTA BELI SIRIH

" Kita jadi pesta di kampung
Kita punya 60 ikat sirih "
Begitu kata kakakku di telpon
Malam itu dari Payakumbuh

Angka 60 akan bertambah
Andai diantara aku bersaudara
Menikahi rang Banuhampu

Rumah kami di Sungai Tanang
Di lembah Merapi dan Singgalang
Di belakang rumah, sawah membentang
Di depan rumah, ada Tabek Gadang
Selama ini terkunci tanpa penghuni
Sudah lama tak dikunjungi
Sebagai tempat resepsi
Berbagi bahagia dengan dunsanak se Nagari

Pesta beli sirih
Pesta untuk kaum lelaki
Pengikat Silaturahim
Lelaki yang terpilih dan mendapat sirih

Pesta beli sirih
Bertempat di rumah anak daro
Waktunya habis Jumatan
Makan berjamba

Pesta beli sirih
Pasumandannya semua lelaki
Lelaki yang ada di sukuku (mamak-mamak)
Mereka menyambut tamu
Menata jamba
Memantau Jamba
Menyapa yang lagi makan
Untuk makan sepuasnya

Pesta beli sirih
Pesta yang dinanti
Karena nanti
Dapat amplop yang berisi


Bengkulu, 24 Agustus 2007

Yang sedang terkenang akan pesta di kampung

Hanifah Damanhuri

RANG SUMANDO

RANG SUMANDO

Aku trenyuh ketika membaca
Nasib rang sumando di hari tua
Kembali ke rumah orang tua
Atau tidur merana di mushola

Ku ingat-ingat rang sumando di sukuku Payobada
Papaku
Ketika telah duda
Papaku tetap tinggal di Payobada
Jelang meninggal
Minta dikuburkan
Di pandam pekuburan Payobada
Sama seperti beberapa sumando lainnya
Yang telah mendahulu

Suami sepupuku, suami dunsanak sesukuku
Walau telah ditinggal beberapa tahun lamanya
Masih betah di Payobada
Baik di rumah yang dia bangun sendiri
Maupun di rumah milik bersama

Aku jadi bertanya
Di jaman apa ?
Di nagari mana ?
Rang sumando begitu menderita
Di hari tuanya


Bengkulu, 21 Agustus 2007


Hanifah Damanhuri

BUKIT SANGGUL TARAM

BUKIT SANGGUL TARAM

Begitu mendengar nama Taram
Ingatanku melayang ke masa SMP
Masa remaja yang indah sekali
Ketika itu aku aktif jadi Pramuka

" Kita akan berkemah di Payakumbuh "
Begitu kata guru Pembina pramuka ku ketika itu
Dengan semangat yang menyala
Kusiapkan segala keperluan berkemah
Tak lupa kubawa baju renang
Siapa tau bisa berenang di Batang Tabik

Pagi itu aku sudah berseragam lengkap
Pakai peci, pakai kacu, ransel di punggung
Tidak lupa membawa tongkat pramuka dan tali
Aku rasakan semangat patriot mengalir di tubuhku
Ketika pamitan ke mama aku bisikkan
" Kalau sudah besar aku mau jadi POLWAN "
Kulihat mamaku jadi gusar

Kutinggalkan:
Kamarku yang luas
Kasurku yang empuk
Selimut cap angsaku yang hangat
Tabek Gadang Sungai Tanang
Lapangan Volli ....

Di sekolah kulihat oto Prah
Yang akan membawa kami ke Payakumbuh
Berebut kami naik ke oto Prah
Kami nikmati perjalanan
Seperti lazimnya anak pramuka

Lokasi perkemahan berada dilapangan Taram
Air sebagai sumber kehidupan mudah didapat
Tak jauh dari lapangan
Berdiri dengan kokok sebuah bukit
Bukit yang bentuknya seperti sanggul
Namanya Bukit Sanggul

Bukit Sanggul
Walau tidak tinggi
Tapi tidak mudah untuk di daki
Terlalu terjal untukku

Hari itu kami menjelajah
Rute yang akan dilalui ada pada bahasa sandi
Sandi tersebut kadang disembunyikan
Tugas kami menemukannya
Pemandangan sepanjang jalan sangat indah
Kiri kanan sawah membentang
Ketika sudah jauh berjalan
Kutolehkan kembali pandangan ke belakang
Ke arena perkemahan
Duh.... Bukit Sanggul
Sangat indah dari kejauhan

Bukit Sanggul Taram
Ku ingat gemuruhnya tepuk pramuka disana
Merdunya nyanyian api unggun
" Geeeeemmmaaaaaa, gemaa indaah di angkasaaaaaaaaaa "
Berbagai atraksi dan nyanyian tak henti sampai api padam
Ingat juga janji pada Indonesia
" Kamiiii jaaadiiii paaaannnduuuumuuuu "


Bengkulu, 20 Agustus 2007


Hanifah Damanhuri

INTI & PINJARAM

INTI & PINJARAM

Inti adalah makanan yang terbuat dari ketan
Bentuknya seperti bola ping pong
Di dalamnya ada wajik kelapa
Rasanya gurih dan enak sekali

Begitu ingat Inti
Aku jadi ingat pesta dikampungku
Aku jadi ingat gaek Udo
Gaek Udo tukang bikin Inti
Kalau sukuku payobada yang punya hajat

Waktu itu aku masih kecil
Aku dan dunsanak sebayaku
Sering ikut menemani perempuan dewasa
Menumbuk beras ketan di lasung sukuku
Kadang kami membantu meng ayak tepungnya

Setelah beras jadi tepung
Kami tungguin gaek Udo
Mengadon tepung tersebut dengan santan
Setelah sempurna
Gaek udo membuat bola bola yang berlobang

Tugas kami mengisi lobang tersebut dengan wajik
Lalu ditutup kembali
Butuh keahlian agar wajik tidak keluar
Dan inti bentuknya bulat sempurna

Setelah selesai proses pembuatan
Inti tersebut di goreng
Tugas menggoreng dilakukan oleh perempuan lain
Yang ahli dalam menggoreng inti tersebut
Ketika inti di goreng
Kami melihat dan menunggu gorengan pertama
Inti yang masih panas rasanya enak sekali

Pinjaram berbentuk lingkaran
Warnanya coklat
Biasanya langsung beli jadi di pasar
Jadi aku tidak tau cara membuatnya

Ingat Inti & Pinjaram
Aku juga ingat adik perempuanku yang bungsu
Usianya terpaut 9 tahun denganku
Aku sering membawanya ke pesta
Aku mewakili mama yang sibuk
Ya sebagai mama, ya sebagai guru SD

Setiap pergi ke pesta
Biasanya kami berangkat berombongan
Rombongan yang terdiri dari dunsanak sesuku
Adikku dan teman sebayanya
Selalu membawa saputangan

Inti dan pinjaram serta kue-kue lainnya
Dimakan setelah makan nasi "bajamba"
Saat itu perut sudah kenyang
Berdiri saja susah
Sudah tidak mungkin lagi makan makanan lain

Inti & pinjaram dibagikan ke anak-anak
Mereka membungkusnya dengan sapu tangan
Mungkin di makan dijalan
Mungkin di bawa pulang kerumah

Adikku kadang tidak sabaran
Kalau orang lambat mengasihkan inti dan pinjaram
Dia berteriak teriak
" Agiah den inti jo pinjaram untuak papa den "
Teriakannya kadang membuat kami tertawa

Sesampai di rumah
Bungkusan sapu tangan di buka
Pinjaram dikasih ke papa
Inti dia makan sendiri


Bengkulu, 18 Agustus 2007

Nan sadang taragak makan bajambo dan makan inti jo pinjaram.


Hanifah Damanhuri

INDAHNYA BERPIKIRAN POSITIF

INDAHNYA BERPIKIRAN POSITIF

Sebenarnya aku
Termasuk yang sulit
Berpikiran positif

Apa karena :
Aku wanita ?
Pencemas ?
Perhitungan ?
Pelit ?
Curiga ?
Pencemburu ?
Entahlah

Berbeda dengan suamiku
Polos
Pemurah
Berbaik sangka
Dan lain lain

Suatu ketika
Dia berikan TV hitam putih kami ketemannya
Ketika kami sudah memiliki TV berwarna
Aku cemberut padanya
Karena TV itu dulu belinya nyicil

Suatu kali
Diam-diam dia pinjamkan SK nya
Untuk membantu temannya di pasar
Begitu tau
Aku ngomel padanya

Banyak lagi
Kebaikan yang dia lakukan untuk orang lain
Yang kadang membuatku cemas dan kesal

Entahlah
Antah karena kebaikkannya
Banyak urusannya
Lancar-lancar saja

Pindah dari Sumbar Ke Bengkulu
Sebagai PNS (Guru SMP) yang ikut istri
Tanpa bayar seperserpun
Alhamdulillah

Setelah kuliah lagi dan selesai S1.
Dengan gampang dia pindah dari SMP ke SMA
Tanpa membayar seperserpun
Tanpa melukiai siapapun
Alhamdulillah

Mulanya aku agak malu juga
Suamiku hanya guru SMP
Gajinya bisa di tebak
Tak dinyana
Rumah kami kena gusur
Kami dapat satu ruko dan
Rumah di tempat yang lebih nyaman dari semula
Kendaraanpun kami punya
Alhamdulillah

Tadi pagi
Suamiku berteriak
" Horeeee aku lolos sertifikasi "
Alhamdullillah
Akhirnya gajinya akan lebih besar dari gajiku
Nikmat Tuhan yang manakah yang aku dustakan ?

Bengkulu, 3 Desember 2007


Hanifah Damanhuri

MUTIARA MUTIARA RANAHMINANG

MUTIARA MUTIARA RANAHMINANG
(Untuk Firdaus HB dkk)


Alhamdulillah
Ranahminang masih memiliki mutiara-mutiara
Mutiara yang mulai menyibakkan lumpur
Membungkus dirinya
Sehingga kilauannya
Mulai memancar
Di seantero Nusantara
Kapan perlu
Kesemua jagat raya
Amin

Mutiara mutiara ranahminang
Yang masih terselubung lumpur
Bangkitlah
Sibakkan lumpur yang membungkus dirimu
Tunjukkan pada dunia
Kilauan cahayamu yang tiada tara
Jadikan orang terpesona
Bangga dan kagum padamu

Mutiara mutiara ranahminang
Berilah cahaya pada generasi muda yang lain
Pancarkan kilauan bersama sama
Sibakkanlah
Kegelapan yang membungkus ranahmu
Tebaslah kemiskinan dan kebodohan
Baik untuk rang ranah
Maupun untuk semua
Semoga Allah memberikan Rahmah dan Hidayah Nya.
Amin


Bengkulu, 5 Desember 2007