Hari Raya Kemenangan
Kembali Fitrah
Suci seperti bayi
Harapan semua yang beriman
Kembali fitrah
Ingin fitrah
Tak semudah
Membalik telapak tangan
Kembali fitrah
Kadang tak tefikirkan
Kadang hanya impian
Kadang hanya slogan
Kembali fitrah
Sangat mudah ketika anak-anak
Belum banyak godaan
Belum banyak keinginan
Belum banyak pikiran
Dapat hidayah
Tingkah berobah
Tobat dari salah
Beribadah karena Allah
Insya Allah
Akan kembali fitrah
Karena nilai ibadah
Milik Allah
Kita tidak tau
Apa sudah kembali fitrah
Kita rayakan saja
Idul Fitri ini
Sambil bersilaturrahim
Selamat Hari raya bagi yang menang
Selamat hari raya walau belum menang
Selamat hari raya untuk semua
Semoga kita masih bertemu
Bulan Ramadhan di tahun depan
Amin ya Rabbal Alamin
Bengkulu 10 Oktober 2007
Hanifah Damanhuri
Kamis, 06 Desember 2007
Rabu, 05 Desember 2007
PUJIAN PAPA
PUJIAN PAPA
Aku jadi ingat
Papa selalu memujiku
Kalau aku memasak sesuatu
Suatu kali aku belajar bikin kue
Resep nya dikasih teman sekolah
Biar wangi
Adonan kukasih vanile banyak banyak
Setelah kue matang
Bentuknya indah
Kuenya ku potong
Ku bagikan ke papa
Ku makan
Pahit
Ku buang
Papa makan
Papa tetap memakannya
Hanya papa yang bisa memakan
" Enak dan bergizi " kata papa
Lain kali aku bikin gulai
" Wah enak sekali ...
Sudah bisa jualan lontong
Nanti yang beli tinggal telpon "
Besok dan besoknya aku memasak lagi
Biar dapat pujian papa
Bengkulu, 4 Oktober 2007
Aku jadi ingat
Papa selalu memujiku
Kalau aku memasak sesuatu
Suatu kali aku belajar bikin kue
Resep nya dikasih teman sekolah
Biar wangi
Adonan kukasih vanile banyak banyak
Setelah kue matang
Bentuknya indah
Kuenya ku potong
Ku bagikan ke papa
Ku makan
Pahit
Ku buang
Papa makan
Papa tetap memakannya
Hanya papa yang bisa memakan
" Enak dan bergizi " kata papa
Lain kali aku bikin gulai
" Wah enak sekali ...
Sudah bisa jualan lontong
Nanti yang beli tinggal telpon "
Besok dan besoknya aku memasak lagi
Biar dapat pujian papa
Bengkulu, 4 Oktober 2007
SOBATKU “ITA”
SOBATKU “ITA”
Ita adalah anak piatu
Neneknya sangat miskin
Abaknya kusir bendi dan sudah kawin lagi
Jadi ita punya 2 orang adik sebapak
Abaknya pandai menjaga silaturahim
Kuda dan bendi di tarok di rumah ita
Adik lelaki ita yang sebapak
Lebih banyak tinggal bersama ita
Mereka kemana mana sering bersama
Ketika sudah dewasa
Betapa aku terkejut ketika tau
Adiknya suku pisang
Kami (aku dan ita) suku payobada
Saat itu aku jauh lebih beruntung dari ita
Aku punya ortu yang lengkap
Tidak miskin miskin amat
Ikan tinggal pancing
Telur itik dan telur ayam ada dikandang
Padi tak pernah kosong dari rumah
Sehingga satu kamar diberi nama bilik padi
Aku senang bermain dengan ita
Tak pernah sekalipun kami bertengkar
Kami juga tak pernah membicarakan orang lain
Kami lebih banyak bermain
Main apa saja yang lagi musim
Tak peduli mainan laki-laki atau perempuan
Bersama ita, aku bisa berlari lari dipipa air
Sementara orang dewasa merangkak rangkak disana
Bersama ita, aku bermain ombak di tabek gadang pakai biduak
Banyak lagi dan banyak lagi mainan kami
Main apapun ita sering menang
Kelerengnya “sekambuik”, menang bertaruh
Layangan baik layangan “kaluak” maupun “darek”
Begitu juga mainan lain
Ita bikin sendiri
Kemiskinan
Perbedaan status sosial
Tak halangi kami untuk bergembira
Menikmati masa anak-anak yang ceria
Aku sering juga temani ita menangkap ikan di selokan /bandar
Aku bantu dia memegang tempat ikan
Kadang aku bantu dia menghalau ikan
Bahagianya kalau kami dapat ikan
Di belakang rumah ita
Banyak tumbuh “robai”
Kami hampir setiap hari memanennya
Buahnya sangat manis dimusim panas
Di musim hujan robainya sering kami taburi gula
Oh ya rumah kami sama-sama dekat ke tabek gadang
Tapi letaknya berseberangan
Kalau ada biduk
Aku berbiduk ke rumahnya dan sebaliknya
Atau kami saling teriak di pinggir tabek gadang
Kami bikin tabek gadang seolah olah kami punya
Alhamdulillah sekarang ita sudah jadi juragan
Juragan Nasi Goreng merek Jam Gadang
Ita sudah memiliki beberapa rumah dan ruko
Mobil gonta ganti
Anak-anak sudah ada yang tamat Perguruan Tinggi
Ita juga berhasil membantu saudara-saudaranya
Bergabung bersama dan buka cabang
Sementara aku
Baru bisa hidupi keluarga sendiri
Itupun harus sederhana
Entah apa yang bisa ku banggakan
Bengkulu, 17 Oktober 2007
Ita adalah anak piatu
Neneknya sangat miskin
Abaknya kusir bendi dan sudah kawin lagi
Jadi ita punya 2 orang adik sebapak
Abaknya pandai menjaga silaturahim
Kuda dan bendi di tarok di rumah ita
Adik lelaki ita yang sebapak
Lebih banyak tinggal bersama ita
Mereka kemana mana sering bersama
Ketika sudah dewasa
Betapa aku terkejut ketika tau
Adiknya suku pisang
Kami (aku dan ita) suku payobada
Saat itu aku jauh lebih beruntung dari ita
Aku punya ortu yang lengkap
Tidak miskin miskin amat
Ikan tinggal pancing
Telur itik dan telur ayam ada dikandang
Padi tak pernah kosong dari rumah
Sehingga satu kamar diberi nama bilik padi
Aku senang bermain dengan ita
Tak pernah sekalipun kami bertengkar
Kami juga tak pernah membicarakan orang lain
Kami lebih banyak bermain
Main apa saja yang lagi musim
Tak peduli mainan laki-laki atau perempuan
Bersama ita, aku bisa berlari lari dipipa air
Sementara orang dewasa merangkak rangkak disana
Bersama ita, aku bermain ombak di tabek gadang pakai biduak
Banyak lagi dan banyak lagi mainan kami
Main apapun ita sering menang
Kelerengnya “sekambuik”, menang bertaruh
Layangan baik layangan “kaluak” maupun “darek”
Begitu juga mainan lain
Ita bikin sendiri
Kemiskinan
Perbedaan status sosial
Tak halangi kami untuk bergembira
Menikmati masa anak-anak yang ceria
Aku sering juga temani ita menangkap ikan di selokan /bandar
Aku bantu dia memegang tempat ikan
Kadang aku bantu dia menghalau ikan
Bahagianya kalau kami dapat ikan
Di belakang rumah ita
Banyak tumbuh “robai”
Kami hampir setiap hari memanennya
Buahnya sangat manis dimusim panas
Di musim hujan robainya sering kami taburi gula
Oh ya rumah kami sama-sama dekat ke tabek gadang
Tapi letaknya berseberangan
Kalau ada biduk
Aku berbiduk ke rumahnya dan sebaliknya
Atau kami saling teriak di pinggir tabek gadang
Kami bikin tabek gadang seolah olah kami punya
Alhamdulillah sekarang ita sudah jadi juragan
Juragan Nasi Goreng merek Jam Gadang
Ita sudah memiliki beberapa rumah dan ruko
Mobil gonta ganti
Anak-anak sudah ada yang tamat Perguruan Tinggi
Ita juga berhasil membantu saudara-saudaranya
Bergabung bersama dan buka cabang
Sementara aku
Baru bisa hidupi keluarga sendiri
Itupun harus sederhana
Entah apa yang bisa ku banggakan
Bengkulu, 17 Oktober 2007
Sepeda Papaku
Sepeda Papaku
Ketika jaya
Kata orang kampung
Papa di antar jemput
Pakai Sedan Impala merah
Wah
Kendaraan mewah
Di akhir tahun 50 an
Ketika aku kecil
Yang ku tau
Kendaraan papaku adalah sepeda
Sepeda yang ada batang di tengahnya
Ada boncengan di belakang
Ketika aku kecil
Papa masih bekerja di Bukittinggi
Setiap pagi aku ikut menghantar papa
Aku duduk di boncengan
Nanti aku diturunkan papa di dekat lapangan
Ketika papa pulang
Aku kembali jemput papa di situ
Aku boncengan lagi
Sampai di rumah
Upahnya
Aku harus memijit papa
Papa telungkup
Aku jalan-jalan di punggung papa
Biar tidak capek
Aku mijit papa sambil nyanyi
Nyanyian wajib di sekolah
Atau nyayian yang lagi musim dikampung
(Anak kampung yang pandai nyanyi
Akan menyanyi sepanjang jalan, tak banyak yang punya radio)
Waktu itu lagi musim main sepeda
Aku dan ita hanya punya sepeda papa
Sepeda laki-laki
Meminjam keteman
Belum tentu dikasih
Apalagi kami belum bisa
Kami bawa sepeda papa ketempat yang lapang
Kami taklukkan sepeda papa
Pinggang kanan kami tekuk
Sehingga batang sepeda tetap di kanan
Kami latih keseimbangan dengan posisi tersebut
Alhamdulillah
Lama-lama sepeda papa bisa kami kebut
Bisa pula sambil boncengan
Bengkulu, 20 Oktober 2007
Hanifah Damanhuri
Ketika jaya
Kata orang kampung
Papa di antar jemput
Pakai Sedan Impala merah
Wah
Kendaraan mewah
Di akhir tahun 50 an
Ketika aku kecil
Yang ku tau
Kendaraan papaku adalah sepeda
Sepeda yang ada batang di tengahnya
Ada boncengan di belakang
Ketika aku kecil
Papa masih bekerja di Bukittinggi
Setiap pagi aku ikut menghantar papa
Aku duduk di boncengan
Nanti aku diturunkan papa di dekat lapangan
Ketika papa pulang
Aku kembali jemput papa di situ
Aku boncengan lagi
Sampai di rumah
Upahnya
Aku harus memijit papa
Papa telungkup
Aku jalan-jalan di punggung papa
Biar tidak capek
Aku mijit papa sambil nyanyi
Nyanyian wajib di sekolah
Atau nyayian yang lagi musim dikampung
(Anak kampung yang pandai nyanyi
Akan menyanyi sepanjang jalan, tak banyak yang punya radio)
Waktu itu lagi musim main sepeda
Aku dan ita hanya punya sepeda papa
Sepeda laki-laki
Meminjam keteman
Belum tentu dikasih
Apalagi kami belum bisa
Kami bawa sepeda papa ketempat yang lapang
Kami taklukkan sepeda papa
Pinggang kanan kami tekuk
Sehingga batang sepeda tetap di kanan
Kami latih keseimbangan dengan posisi tersebut
Alhamdulillah
Lama-lama sepeda papa bisa kami kebut
Bisa pula sambil boncengan
Bengkulu, 20 Oktober 2007
Hanifah Damanhuri
Temanku Eri, Eni, Idang, Yerri dan Ina
Temanku Eri, Eni, Idang, Yerri dan Ina
Kuceritakan sebagian dari masalaluku
Masa yang indah di kampung
Bersama teman-teman yang istimewa
Yang tak mudah ku lupa
Eri (i)
Aku berteman akrab dengannya sejak kelas 5 SD
Anaknya manis, lincah dan serba bisa
Usianya lebih tua 2 tahun dariku
Tapi dia sekelas denganku
Eri dan idang serumah
Mereka saudara sepupu
Rumah mereka saat itu sangat sederhana
Terdiri dari dua kamar ukuran 2 x 3 m
Ruang keluarga ukuran 5 x 2 m
Dapur yang lumayan luas
Di bahagian depan kayu,
Samping dan belakang anyaman bamboo
Pintu masuk dekat dapur dan lewat dapur
Saat ini rumah tersebut sudah berubah jadi istana
(Tak goyah dan tak retak oleh goyangan gempa waktu lalu)
Walau rumahnya sederhana
Rumah ini tempat kami sering berkumpul
Belajar satu jam
Main kartu remi tiga jam
Pernah kartunya di bakar mamanya
Esok lusanya kami sudah punya kartu yang baru
Ketika SMP kami berdua sangat aktif di pramuka
Eri punya talenta yang tinggi
Dia sering jadi komandan upacara
Eri juga yang jadi teman main basketku di Bukittinggi
Biar irit ongkos kami sering berpelukkan di angkot
Aku yang selalu dipeluk
Sisa ongkos kami belikan bakso di bawah Jam Gadang
Sesekali kami nonton gratis di bioskop Sofia
Masa lalu yang sangat indah
Saat ini Eri tetap di kampung
Eni
Usianya lebih kecil dariku setahun
Sekolahnyapun di bawah aku
Orangnya sangat cantik dan lincah
Eni teman berenangku di Tiagan
Eni lebih jagoan berenang dariku
Tenaganya lebih kuat
Sehingga mampu berenang gaya kupu kupu
Aku sendiri tak pernah mampu pakai gaya kupu-kupu
Bersama Eni
Bukan hanya Tiagan yang kami renangi
Tabek gadang dari depan Mesjid sampai Tiagan
Kembali lagi ke depan Mesjid
Batang Tabik dan Lubuk Mato Kucing pernah juga kami renangi
Saat ini Eni jadi saudagar di Jambi
Idang, Yerri dan Ina
Usia mereka lebih tua dariku setahun
Mereka kakak kelasku
Mereka sering berkumpul di rumah Yerri
Rumah Yerri tidak jauh dari rumahku
Berbeda dengan teman-temanku sebelumnya
Mereka lebih banyak di rumah
Kalau tidak sedang belajar
Mungkin baca komik
Mungkin main halma
Mungkin mendengarkan radio suara Malaysia
Yerri punya banyak sahabat pena di Malaysia
Kalau aku pengen belajar
Atau pengen baca komik gratis
Aku main kerumah Yerri
Di rumah Yerri semua tersedia
Apalgi dia anak bungsu
Dimanja keluarga
Rumah tersebut sekarang sudah tiada
Rata gara-gara gempa
Sekarang Yerri dan Ina berada di Jakarta
Yerri diperusahaan swasta
Ina jadi ahli paru-paru, doktor keluaran Jepang
Idang jadi guru SMA
Alhamdulillah
Oh ya jelang ujian akhir SMP
Ku tinggalkan sejenak kegiatan rutinku
Aku ikut gabung belajar dengan teman-teman di Cingkaring
Alhamdulillah aku berhasil lolos dari SMP
Begitu juga jelang ujian akhir SMA
Aku ikut begabung dengan teman-temanku di Belakang Balok
Alhamdulillah aku berhasil lolos dari SMA
Sekarang teman-temanku tersebut jadi dosen semua
Salah satunya Dr Rasmi Wetti di UNRI
Tak terhingga banyaknya Rahmat Allah yang tercurah padaku
Yang kuperoleh melebihi dari usahaku
Kalau bukan karena Rahmat Allah SWT
Entah bagaimana jadinya aku saat ini
Bengkulu, 18 Oktober 2007
Hanifah Damnhuri
Kuceritakan sebagian dari masalaluku
Masa yang indah di kampung
Bersama teman-teman yang istimewa
Yang tak mudah ku lupa
Eri (i)
Aku berteman akrab dengannya sejak kelas 5 SD
Anaknya manis, lincah dan serba bisa
Usianya lebih tua 2 tahun dariku
Tapi dia sekelas denganku
Eri dan idang serumah
Mereka saudara sepupu
Rumah mereka saat itu sangat sederhana
Terdiri dari dua kamar ukuran 2 x 3 m
Ruang keluarga ukuran 5 x 2 m
Dapur yang lumayan luas
Di bahagian depan kayu,
Samping dan belakang anyaman bamboo
Pintu masuk dekat dapur dan lewat dapur
Saat ini rumah tersebut sudah berubah jadi istana
(Tak goyah dan tak retak oleh goyangan gempa waktu lalu)
Walau rumahnya sederhana
Rumah ini tempat kami sering berkumpul
Belajar satu jam
Main kartu remi tiga jam
Pernah kartunya di bakar mamanya
Esok lusanya kami sudah punya kartu yang baru
Ketika SMP kami berdua sangat aktif di pramuka
Eri punya talenta yang tinggi
Dia sering jadi komandan upacara
Eri juga yang jadi teman main basketku di Bukittinggi
Biar irit ongkos kami sering berpelukkan di angkot
Aku yang selalu dipeluk
Sisa ongkos kami belikan bakso di bawah Jam Gadang
Sesekali kami nonton gratis di bioskop Sofia
Masa lalu yang sangat indah
Saat ini Eri tetap di kampung
Eni
Usianya lebih kecil dariku setahun
Sekolahnyapun di bawah aku
Orangnya sangat cantik dan lincah
Eni teman berenangku di Tiagan
Eni lebih jagoan berenang dariku
Tenaganya lebih kuat
Sehingga mampu berenang gaya kupu kupu
Aku sendiri tak pernah mampu pakai gaya kupu-kupu
Bersama Eni
Bukan hanya Tiagan yang kami renangi
Tabek gadang dari depan Mesjid sampai Tiagan
Kembali lagi ke depan Mesjid
Batang Tabik dan Lubuk Mato Kucing pernah juga kami renangi
Saat ini Eni jadi saudagar di Jambi
Idang, Yerri dan Ina
Usia mereka lebih tua dariku setahun
Mereka kakak kelasku
Mereka sering berkumpul di rumah Yerri
Rumah Yerri tidak jauh dari rumahku
Berbeda dengan teman-temanku sebelumnya
Mereka lebih banyak di rumah
Kalau tidak sedang belajar
Mungkin baca komik
Mungkin main halma
Mungkin mendengarkan radio suara Malaysia
Yerri punya banyak sahabat pena di Malaysia
Kalau aku pengen belajar
Atau pengen baca komik gratis
Aku main kerumah Yerri
Di rumah Yerri semua tersedia
Apalgi dia anak bungsu
Dimanja keluarga
Rumah tersebut sekarang sudah tiada
Rata gara-gara gempa
Sekarang Yerri dan Ina berada di Jakarta
Yerri diperusahaan swasta
Ina jadi ahli paru-paru, doktor keluaran Jepang
Idang jadi guru SMA
Alhamdulillah
Oh ya jelang ujian akhir SMP
Ku tinggalkan sejenak kegiatan rutinku
Aku ikut gabung belajar dengan teman-teman di Cingkaring
Alhamdulillah aku berhasil lolos dari SMP
Begitu juga jelang ujian akhir SMA
Aku ikut begabung dengan teman-temanku di Belakang Balok
Alhamdulillah aku berhasil lolos dari SMA
Sekarang teman-temanku tersebut jadi dosen semua
Salah satunya Dr Rasmi Wetti di UNRI
Tak terhingga banyaknya Rahmat Allah yang tercurah padaku
Yang kuperoleh melebihi dari usahaku
Kalau bukan karena Rahmat Allah SWT
Entah bagaimana jadinya aku saat ini
Bengkulu, 18 Oktober 2007
Hanifah Damnhuri
Uni Isna Rais dan Adik-Adiknya
Uni Isna Rais dan adik-adiknya
Ketika SD
Rambutnya panjang tergerai sampai pinggang
Cantik, lincah dan suaranya merdu
Jagoan di kelas maupun di podium
Sopan dalam bersikap dan santun dalam berkata
Tak pernah ada cela
Uni Isna jadi kebanggaan
Ke banggan ortu dan sekolah
Uni Isna adalah bakoku
Dia sesuku dengan papaku
Mamak dari ibunya adalah
Kakek dari sepupuku
Aku kurang tau pekerjaan bapaknya
Sepertinya seorang guru
Ibunya petani sayur
Sekarang ibunya ikut uni Isna
Yang jadi dosen di UIN Jakarta
Uni Isna doktor di bidang agama Islam
Adiknya Zaim
Teman sekelasku ketika SD
Orangnya putih, pemalu
Sering juara Satu
Bahkan dia murid teladan tingkat kabupaten Agam
Kadang-kadang bangku kami bersebelahan
Karena dia pemalu
Ada teman yang suka usil
Mereka tertawakan kami
Bikin pipi kami jadi merah
Akhirnya karena malu
Aku dan Zaim musuhan
Musuhan dalam waktu yang lama
Bertegur sapa lagi ketika sudah mahasiswa
Info terakhir yang ku tau
Zaim kandidat doktor UIN Jakarta
Adiknya Elfiani
Juga teladan tingkat kabupaten agam
Kurang tau pendidikkan tersakhirnya saat ini
Tadi dosen juga di Bukittinggi
Begitu juga dengan adiknya Anni
Juga seorang dosen di Batusangkar
Alhamdulillah bakoku hebat-hebat
Hebat bukan karena mamaknya
Bukan karena harta pusaka
Bukan pula karena besar dikota
Hebat karena usaha
Dan Rahmat Allah SWT
Walau tinggal di desa
Dalam kungkungan adat dan budaya
Minangkabau yang tercinta
Mereka setau aku
Tidak pernah protes tentang Adat dan Budaya
Nganjurkan agar warga
Jalankan Syariat Agama Islam
Tinggalkan maksiat
Dan lain sebagainya
Bengkulu, 22 Oktober 2007
Hanifah Damanhuri
Ketika SD
Rambutnya panjang tergerai sampai pinggang
Cantik, lincah dan suaranya merdu
Jagoan di kelas maupun di podium
Sopan dalam bersikap dan santun dalam berkata
Tak pernah ada cela
Uni Isna jadi kebanggaan
Ke banggan ortu dan sekolah
Uni Isna adalah bakoku
Dia sesuku dengan papaku
Mamak dari ibunya adalah
Kakek dari sepupuku
Aku kurang tau pekerjaan bapaknya
Sepertinya seorang guru
Ibunya petani sayur
Sekarang ibunya ikut uni Isna
Yang jadi dosen di UIN Jakarta
Uni Isna doktor di bidang agama Islam
Adiknya Zaim
Teman sekelasku ketika SD
Orangnya putih, pemalu
Sering juara Satu
Bahkan dia murid teladan tingkat kabupaten Agam
Kadang-kadang bangku kami bersebelahan
Karena dia pemalu
Ada teman yang suka usil
Mereka tertawakan kami
Bikin pipi kami jadi merah
Akhirnya karena malu
Aku dan Zaim musuhan
Musuhan dalam waktu yang lama
Bertegur sapa lagi ketika sudah mahasiswa
Info terakhir yang ku tau
Zaim kandidat doktor UIN Jakarta
Adiknya Elfiani
Juga teladan tingkat kabupaten agam
Kurang tau pendidikkan tersakhirnya saat ini
Tadi dosen juga di Bukittinggi
Begitu juga dengan adiknya Anni
Juga seorang dosen di Batusangkar
Alhamdulillah bakoku hebat-hebat
Hebat bukan karena mamaknya
Bukan karena harta pusaka
Bukan pula karena besar dikota
Hebat karena usaha
Dan Rahmat Allah SWT
Walau tinggal di desa
Dalam kungkungan adat dan budaya
Minangkabau yang tercinta
Mereka setau aku
Tidak pernah protes tentang Adat dan Budaya
Nganjurkan agar warga
Jalankan Syariat Agama Islam
Tinggalkan maksiat
Dan lain sebagainya
Bengkulu, 22 Oktober 2007
Hanifah Damanhuri
ADAT BAKARILAHAN
ADAT BAKARILAHAN
Kakakku yang tinggal di kota Payakumbuh
Hari Jumat yang lalu mantu
Besannya dari Bogor
Nginap di Penginapan
Tetangga kakakku orang yang beradat
Jemput Marapulai
Jemput terbawa
Berpakaian saluak mukena
Di tempat anak Daro
Rombongan disambut
Tari gelombang dan
Tari Pasambahan
Di tingkah patatah petitih oleh MC
Tanpa balasan
Selesai akad nikah dilaksanakan
Tak ada Pasambahan
Hari Sabtu resepsi digelar
Semua makanan di pesan
Makan ala Swalayan
Yang datang umumnya berpasangan
Hari Minggu Pesta dilanjutkan
Di Sungai Tanang
Pesta beli sirih dan
Pesta Sumandan
Pesta Beli Sirih
Untuk kaum bapak-bapak
Dilaksanakan setelah Sholat Zuhur
Tanpa makan berjamba
Tanpa Inti dan Pinjaram
Bukan pula Swalayan
Pasumandannya lelaki muda di sukuku
Pesta Sumandan
Untuk kaum ibu-ibu
Dilaksanakan setelah pesta Beli Sirih
Tanpa makan Berjamba
Tanpa Inti dan Pinjaram
Bukan pula Swalayan
Pasumandannya wanita-wanita disukuku
Pesta di Sungai Tanang
Makanan ada yang dipesan
Ada yang di masak bersama sama
Oleh wanita-wanita di sukuku Payobada
Dan tetangga
Ketika makan
Walau tidak berjamba
Komunikasi tetap ada
Antara pasumandan dengan tamu
Dari dua ala makan yang berbeda
Aku tetap bangga dan bahagia
Menyaksikan pesta dikampungku
Walau makannya tidak lagi berjamba
Makan berjamba
Makan bersama
Tak ada saling rebut
Tak ada saling serobot
Makan berjamba yang kudamba
Sepertinya akan tinggal kenangan
Tergilas oleh ruang dan waktu
Bengkulu, 4 September 2007
Kakakku yang tinggal di kota Payakumbuh
Hari Jumat yang lalu mantu
Besannya dari Bogor
Nginap di Penginapan
Tetangga kakakku orang yang beradat
Jemput Marapulai
Jemput terbawa
Berpakaian saluak mukena
Di tempat anak Daro
Rombongan disambut
Tari gelombang dan
Tari Pasambahan
Di tingkah patatah petitih oleh MC
Tanpa balasan
Selesai akad nikah dilaksanakan
Tak ada Pasambahan
Hari Sabtu resepsi digelar
Semua makanan di pesan
Makan ala Swalayan
Yang datang umumnya berpasangan
Hari Minggu Pesta dilanjutkan
Di Sungai Tanang
Pesta beli sirih dan
Pesta Sumandan
Pesta Beli Sirih
Untuk kaum bapak-bapak
Dilaksanakan setelah Sholat Zuhur
Tanpa makan berjamba
Tanpa Inti dan Pinjaram
Bukan pula Swalayan
Pasumandannya lelaki muda di sukuku
Pesta Sumandan
Untuk kaum ibu-ibu
Dilaksanakan setelah pesta Beli Sirih
Tanpa makan Berjamba
Tanpa Inti dan Pinjaram
Bukan pula Swalayan
Pasumandannya wanita-wanita disukuku
Pesta di Sungai Tanang
Makanan ada yang dipesan
Ada yang di masak bersama sama
Oleh wanita-wanita di sukuku Payobada
Dan tetangga
Ketika makan
Walau tidak berjamba
Komunikasi tetap ada
Antara pasumandan dengan tamu
Dari dua ala makan yang berbeda
Aku tetap bangga dan bahagia
Menyaksikan pesta dikampungku
Walau makannya tidak lagi berjamba
Makan berjamba
Makan bersama
Tak ada saling rebut
Tak ada saling serobot
Makan berjamba yang kudamba
Sepertinya akan tinggal kenangan
Tergilas oleh ruang dan waktu
Bengkulu, 4 September 2007
Langganan:
Postingan (Atom)