DOA-DOA INDAH DI UJUNG TAHUN 2008
Hari demi hari kita telah jalani
Sampai di penghujung tahun dan
Akhirnya 1429h/2008 ini segera kita lewati
Masih banyak waktu yang terlewati
Dengan sia-sia
Terlalu sedikit kebaikan
Yang telah dilakukan
Terlalu dini untuk disebut
Sebagai amal shalih
Terlalu sombong untuk di klaim
Sebagai amal ikhlas
Astaghfiruka…wa atuubu ilaik
Memasuki th 1430h/2009 ini
Beri kami ya Allah
Kekuatan untuk mengisinya
Dengan amal ikhlas
Yang engkau ridhoi … amin
(Prof Suheimi)
“Selamat tahun baru 1430 H / 2009
Mudah-mudahan di tahun yang baru ini
Menjadikan kita
Insan yang berakhlakul karimah
Dalam Ridho Allah SWT. Aamin
( Fakhrul Rozy)
“Selamat tahun baru 1430 H/2009
Semoga Allah SWT
Senantiasa memberikan
Barokah, hidayah, inayah & ridhoNya,
Pada keluarga kita
Dengan langkah: Niat, Doa, Dzikir
Iman dan Taqwa.
(Dedi Suryadi)
Semoga Allah mengabulkannya
Bengkulu, 31 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Senin, 05 Januari 2009
Kamis, 25 Desember 2008
DAPAT SERTIFIKAT PENDIDIKAN
DAPAT SERTIFIKAT PENDIDIKAN
Alhamdulillah
Aku termasuk
Dosen UNIB
Yang dapat Sertifikat Pendidikan
Jangankan orang lain
Aku sendiri mulanya
Tak pernah membayangkan
Akan dapat sertifikat tersebut
Terkait dengan karirku yang
Berpindah pindah
Akhirnya aku percaya
Rejeki elang tidak akan untuk musang
Tertutup pintu rejeki
Di tempat yang semulanya kita harapkan
Terbuka lebar pintu rejeki
Dari pintu yang lain
Yang kadang tak pernah terbayangkan
Nikmat Tuhan yang manakah
Yang aku dustakan ?
Ya Allah
Yang Maha pengasih
Yang Maha Bijaksana
Yang Maha Mengetahui
Ku serahkan hidup dan matiku untuk Mu
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Berilah kami kesabaran
Hadirkanlah rasa syukur pada diri kami
Atas Rahmat dan KurniaMu yang tiada tara
Amin
Bengkulu, 26 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Alhamdulillah
Aku termasuk
Dosen UNIB
Yang dapat Sertifikat Pendidikan
Jangankan orang lain
Aku sendiri mulanya
Tak pernah membayangkan
Akan dapat sertifikat tersebut
Terkait dengan karirku yang
Berpindah pindah
Akhirnya aku percaya
Rejeki elang tidak akan untuk musang
Tertutup pintu rejeki
Di tempat yang semulanya kita harapkan
Terbuka lebar pintu rejeki
Dari pintu yang lain
Yang kadang tak pernah terbayangkan
Nikmat Tuhan yang manakah
Yang aku dustakan ?
Ya Allah
Yang Maha pengasih
Yang Maha Bijaksana
Yang Maha Mengetahui
Ku serahkan hidup dan matiku untuk Mu
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Berilah kami kesabaran
Hadirkanlah rasa syukur pada diri kami
Atas Rahmat dan KurniaMu yang tiada tara
Amin
Bengkulu, 26 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
SABAR YAA
SABAR YAA
Dulu ketika aku masih muda
Hitam mengkilap
Jangan di tanya
Betapa perkasanya diriku
Mendaki
Menurun
Berkelok-kelok
Di jalan lurus apa lagi
Aku melaju dengan lancar
Tidak banyak tingkah
Namun tetap dengan prinsipku
Terbujur lalu
Terbelintang patah
Selain diriku
Aku mampu menarik beberapa gerbong
Yang isinya jangan di tanya ragamnya
Semua ku angkut
Semua ku bawa
Ketika tak banyak lagi yang bisa kubawa
Tak ada lagi pasokan energi untukku
Aku dianggap tak berarti lagi
Aku di kirim kerantau
Rantau yang indah dan ramah
Jalannya tidak banyak tanjakkan
jalannya tidak banyak tikungan
Jalannya tidak banyak menurun
Pengagumku banyak
Dengan limpahan kasih dan sayangnya
Aku terlena
Hampir merantau cina
Sekarang
Di usiaku yang mulai uzur
Aku dijemput dari rantau
Lihatlah
Mereka menangis melepasku
Tak ingin berpisah denganku
Namun aku harus pulang
Terpaksa pulang
Pokoknya pulang
Huuhhhh
Perjalanan yang melelahkan
Woowww
Aku menghadang rombongan Presiden
Aduh
Akupun terganjal rombongan presiden
Wah asyik
Istirahat dulu ah
Sejak beberapa hari ini
Aku disiapkan
Untuk bisa berjalan
Dengan roda sendiri
Bunyiku yang heboh
Telah dinanti-nanti banyak orang
Kulihat wajah-wajah lelah
Lelah bagaimana caranya
Agar aku bisa berjalan di REL KA
Beberapa kali rencana yang sudah di susun
Gagal dan gagal lagi
Ada saja dari tubuhku yang sudah renta
Yang tidak berfungsi lagi
SABAR YA
Aku sudah tua
Dengan begitu
Aku bisa menguji
Siapa yang benar-benar mencintaiku
Siapa yang tepat menjagaku, merawatku
Eh eh eh lihat
Aku sudah siap untuk berjalan
Ayo kita berangkat
Tut tut tuuuuuutttttt
Siiiaaapa hendak turuuuuut
Bengkulu, 18 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Dulu ketika aku masih muda
Hitam mengkilap
Jangan di tanya
Betapa perkasanya diriku
Mendaki
Menurun
Berkelok-kelok
Di jalan lurus apa lagi
Aku melaju dengan lancar
Tidak banyak tingkah
Namun tetap dengan prinsipku
Terbujur lalu
Terbelintang patah
Selain diriku
Aku mampu menarik beberapa gerbong
Yang isinya jangan di tanya ragamnya
Semua ku angkut
Semua ku bawa
Ketika tak banyak lagi yang bisa kubawa
Tak ada lagi pasokan energi untukku
Aku dianggap tak berarti lagi
Aku di kirim kerantau
Rantau yang indah dan ramah
Jalannya tidak banyak tanjakkan
jalannya tidak banyak tikungan
Jalannya tidak banyak menurun
Pengagumku banyak
Dengan limpahan kasih dan sayangnya
Aku terlena
Hampir merantau cina
Sekarang
Di usiaku yang mulai uzur
Aku dijemput dari rantau
Lihatlah
Mereka menangis melepasku
Tak ingin berpisah denganku
Namun aku harus pulang
Terpaksa pulang
Pokoknya pulang
Huuhhhh
Perjalanan yang melelahkan
Woowww
Aku menghadang rombongan Presiden
Aduh
Akupun terganjal rombongan presiden
Wah asyik
Istirahat dulu ah
Sejak beberapa hari ini
Aku disiapkan
Untuk bisa berjalan
Dengan roda sendiri
Bunyiku yang heboh
Telah dinanti-nanti banyak orang
Kulihat wajah-wajah lelah
Lelah bagaimana caranya
Agar aku bisa berjalan di REL KA
Beberapa kali rencana yang sudah di susun
Gagal dan gagal lagi
Ada saja dari tubuhku yang sudah renta
Yang tidak berfungsi lagi
SABAR YA
Aku sudah tua
Dengan begitu
Aku bisa menguji
Siapa yang benar-benar mencintaiku
Siapa yang tepat menjagaku, merawatku
Eh eh eh lihat
Aku sudah siap untuk berjalan
Ayo kita berangkat
Tut tut tuuuuuutttttt
Siiiaaapa hendak turuuuuut
Bengkulu, 18 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
KOTA KENANGAN
KOTA KENANGAN
Akhirnya perjalanan panjangku
Yang melelahkan
Berakhir di kota kenangan
Kota Sawahlunto
Kota kenangan
Kota yang mengukir banyak kenangan
Kenangan manis
Kenangan pahit
Kenangan masa jaya
Kenangan masa terjajah
Kenangan masa merdeka
Terasa baru kemaren
Terdengar jerit tangis
Para romusha
Terasa baru kemaren
Terdengar jerit tangis
Korban peperangan
Terasa baru kemaren
Terdengar canda dan tawa
Para pejabat serta karyawan
Yang menikmati batubara
Aku juga masih ingat
Betapa banyak airmata duka
Yang terurai di gerbongku
Karena kasih yang tak sampai
Atau kasih yang terputus
Beda suku
Beda agama
Beda status sosial
PHK
Salah satu penyebabnya
Tak sedikit pula
Air mata bahagia yang mengalir
Karena cinta yang bersemi di gerbongku
Ketika memasuki kota kenangan
Kulihat
Kota yang dulu telah tiada
Tak ada lagi
Bukit batu bara
Tak ada lagi hiruk pikuk kendaraan
Pembawa batu bara
Sawahlunto
Kota yang dulu terkenaL
Sampai ke penjuru dunia
Kini
Ah aku tak bisa mengatakannya
Pantaslah
Aku mak itam yang sudah tua
Di panggil pulang
Biar ada orang
Yang ingin datang
Mengenang masa yang silam
Bengkulu, 24 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Akhirnya perjalanan panjangku
Yang melelahkan
Berakhir di kota kenangan
Kota Sawahlunto
Kota kenangan
Kota yang mengukir banyak kenangan
Kenangan manis
Kenangan pahit
Kenangan masa jaya
Kenangan masa terjajah
Kenangan masa merdeka
Terasa baru kemaren
Terdengar jerit tangis
Para romusha
Terasa baru kemaren
Terdengar jerit tangis
Korban peperangan
Terasa baru kemaren
Terdengar canda dan tawa
Para pejabat serta karyawan
Yang menikmati batubara
Aku juga masih ingat
Betapa banyak airmata duka
Yang terurai di gerbongku
Karena kasih yang tak sampai
Atau kasih yang terputus
Beda suku
Beda agama
Beda status sosial
PHK
Salah satu penyebabnya
Tak sedikit pula
Air mata bahagia yang mengalir
Karena cinta yang bersemi di gerbongku
Ketika memasuki kota kenangan
Kulihat
Kota yang dulu telah tiada
Tak ada lagi
Bukit batu bara
Tak ada lagi hiruk pikuk kendaraan
Pembawa batu bara
Sawahlunto
Kota yang dulu terkenaL
Sampai ke penjuru dunia
Kini
Ah aku tak bisa mengatakannya
Pantaslah
Aku mak itam yang sudah tua
Di panggil pulang
Biar ada orang
Yang ingin datang
Mengenang masa yang silam
Bengkulu, 24 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
ISTIRAHAT
ISTIRAHAT
Kini aku lagi istirahat
Sambil istirahat
Ku ingat-ingat lagi
Wajah-wajah yang menantiku
Kulihat beberapa orang tua
Dengan tatapan penuh makna memandangku
Dari mata tuanya terbaca
Banyak kisah yang dia jalani bersamaku dulu
Ku tatap lagi mata orang-orang dengan kategori
Tua belum, muda terlampau
Sebagian besar cengar cengir menatapku
Mungkin mereka ingat
Ikut denganku tanpa izin
Kulayangkan pandangan
Ke mata anak-anak yang mengerumuniku
Tatapan mereka
Tatapan ingin tahu
Mudah-mudahan mereka
Tidak ingin mencoba
Berurut denganku kelak
Walau pijitanku terkenal sangat ampuh
Penghilang rasa sakit yang tak tertahankan
Tak banyak ABG yang hadir menantiku
Mungkin mereka tidak tau
Aku yang paling romantis di dunia
Kulihat lagi wajah-wajah orang
Yang menjemputku pulang
Jemput terbawa
Dari rantauku Ambarawa
Bermacam-mac am ekspresinya
Ada yang lelah
Ada yang gundah
Ada yang bangga
Ada yang tak kenal lelah
Ada yang pesimis
Ada yang optimis
Ada yang benar-benar cinta
Ada yang butuh pujian
Ada yang munafik
Yang tidak suka
Tidak mungkin menungguku
Ku ingat lagi
Sebelum merantau
Bunyiku
Susah susah susah cariiiiiii dduuuiiiiitttt
Begitu aku dikirim merantau
Yang ikut denganku
Tak lagi sembarang orang
Mereka pilihan
Mereka orang-orang yang senang menikmati alam
Bersamaku yang romantis
Bunyiku jadi berubah
Lasuah-lasuah cariiiiiiii dduuuiiiiitttt
Bunyi yang mana
Yang mungkin akan keluar dariku nanti ?
Hanya waktu yang menjawab
Tentunya yang kuinginkan
Lasuah lasuah nyariii dduuuuiiiiittttt
Hingga aku simamak yang hitam
Jadi pujaan wisatawan
Bengkulu, 20 Desember 2008
Kini aku lagi istirahat
Sambil istirahat
Ku ingat-ingat lagi
Wajah-wajah yang menantiku
Kulihat beberapa orang tua
Dengan tatapan penuh makna memandangku
Dari mata tuanya terbaca
Banyak kisah yang dia jalani bersamaku dulu
Ku tatap lagi mata orang-orang dengan kategori
Tua belum, muda terlampau
Sebagian besar cengar cengir menatapku
Mungkin mereka ingat
Ikut denganku tanpa izin
Kulayangkan pandangan
Ke mata anak-anak yang mengerumuniku
Tatapan mereka
Tatapan ingin tahu
Mudah-mudahan mereka
Tidak ingin mencoba
Berurut denganku kelak
Walau pijitanku terkenal sangat ampuh
Penghilang rasa sakit yang tak tertahankan
Tak banyak ABG yang hadir menantiku
Mungkin mereka tidak tau
Aku yang paling romantis di dunia
Kulihat lagi wajah-wajah orang
Yang menjemputku pulang
Jemput terbawa
Dari rantauku Ambarawa
Bermacam-mac am ekspresinya
Ada yang lelah
Ada yang gundah
Ada yang bangga
Ada yang tak kenal lelah
Ada yang pesimis
Ada yang optimis
Ada yang benar-benar cinta
Ada yang butuh pujian
Ada yang munafik
Yang tidak suka
Tidak mungkin menungguku
Ku ingat lagi
Sebelum merantau
Bunyiku
Susah susah susah cariiiiiii dduuuiiiiitttt
Begitu aku dikirim merantau
Yang ikut denganku
Tak lagi sembarang orang
Mereka pilihan
Mereka orang-orang yang senang menikmati alam
Bersamaku yang romantis
Bunyiku jadi berubah
Lasuah-lasuah cariiiiiiii dduuuiiiiitttt
Bunyi yang mana
Yang mungkin akan keluar dariku nanti ?
Hanya waktu yang menjawab
Tentunya yang kuinginkan
Lasuah lasuah nyariii dduuuuiiiiittttt
Hingga aku simamak yang hitam
Jadi pujaan wisatawan
Bengkulu, 20 Desember 2008
BINTANG-BINTANG KECILKU MULAI BERSINAR
BINTANG-BINTANG KECILKU MULAI BERSINAR
Kubuka kembali lembaran jawaban UTS mahasiswa baruku
Ku teliti dan ku tinjau ulang nilai-nilai yang kuberikan
Hampir aku keliru memberi nilai
Untuk Ari Akbarsyah
Yang telah memperbaiki sendiri soalku yang salah kurung
Sementara aku tetap memeriksa
Berdasarkan soalku yang salah kurung
Pertama mengenal Ari Akbarsyah
Aku agak terkejut
Fisiknya tidak sesempurna teman-temannya
Badannya kurus
Jari-jarinya halus
Se akan-akan tidak bertenaga
Mula-mula kuliah
Setiap bertemu aku
Dia mencium tanganku
Lazimnya anak mencium ibunya
Ku lihat semangatnya sangat tingi
Kadang dia bertanya padaku di luar kelas
Yang kadang kujawab
“ nanti saja kita bahas di kelas ya “
Dua minggu ini tugasnya lain dari yang lain
Karena ada dua kelas paralel
Aku harus menunggu semua tugas terkumpul
Baru kami bahas tugas-tugas tersebut
Ku minta si Ari maju
Mempresentasikan karyanya 2 minggu terakhir
Sekaligus menjelaskan ke teman-temannya
Cara yang dia lakukan
Mulanya dia malu sekali dan
Menungkupkan kepalanya di meja depan
” Karya kamu bagus, perlihatkanlah pada teman-teman ”
Pintaku padanya
Begitu gugupnya hilang
Mulailah dia mempresentasikan tugasnya
Ketika ku minta coba lihatkan yang ada fotonya
Kembali dia menungkup malu
Ku bujuk lagi dan mengatakan " PD aja lagi "
Kembali dia bangun dan presentasi
Kuminta dia menuliskan dipapan tulis
Cara yang dia gunakan
Dengan lancar dan tanpa melihat buku
Dia jelaskan ke teman-temannya
Lengkap dengan perintah yang digunakan
Alhamdulillah
Bintang kecilku sudah mulai bersinar
Pancaran bahagia setelah tampil di kelas
Masih kelihatan
Ketika kuliah sudah usai
Ku biarkan saja
Teman-temannya mengopi
Hasil karyanya
Wajahnya menjadi sangat cerah
Semalam ketika menonton
Lasykar Pelangi
Aku tersenyum melihat si Lintang
Yang maju jadi guru
Ketika gurunya tidak ada
Minggu lalu Edho Akmal Hakim yang bikin kejutan
Teknisi yang kupanggil untuk memperbaiki CPU
Hanya punya sedikit waktu
Aku lihat si Edho ikut membantu teknisi
Dan dia teruskan pekerjaan teknisi
Sehingga CPU tersebut bisa dipakai kembali
Edho juga telah mulai memperlihatkan bakatnya
Sebagai programmer
Selain Edho, ada Rahmat, dan Suci serta yang lain
Bintang-bintang kecilku yang mulai bersinar
Bengkulu, 13 November 2008
Hanifah Damanhuri
Kubuka kembali lembaran jawaban UTS mahasiswa baruku
Ku teliti dan ku tinjau ulang nilai-nilai yang kuberikan
Hampir aku keliru memberi nilai
Untuk Ari Akbarsyah
Yang telah memperbaiki sendiri soalku yang salah kurung
Sementara aku tetap memeriksa
Berdasarkan soalku yang salah kurung
Pertama mengenal Ari Akbarsyah
Aku agak terkejut
Fisiknya tidak sesempurna teman-temannya
Badannya kurus
Jari-jarinya halus
Se akan-akan tidak bertenaga
Mula-mula kuliah
Setiap bertemu aku
Dia mencium tanganku
Lazimnya anak mencium ibunya
Ku lihat semangatnya sangat tingi
Kadang dia bertanya padaku di luar kelas
Yang kadang kujawab
“ nanti saja kita bahas di kelas ya “
Dua minggu ini tugasnya lain dari yang lain
Karena ada dua kelas paralel
Aku harus menunggu semua tugas terkumpul
Baru kami bahas tugas-tugas tersebut
Ku minta si Ari maju
Mempresentasikan karyanya 2 minggu terakhir
Sekaligus menjelaskan ke teman-temannya
Cara yang dia lakukan
Mulanya dia malu sekali dan
Menungkupkan kepalanya di meja depan
” Karya kamu bagus, perlihatkanlah pada teman-teman ”
Pintaku padanya
Begitu gugupnya hilang
Mulailah dia mempresentasikan tugasnya
Ketika ku minta coba lihatkan yang ada fotonya
Kembali dia menungkup malu
Ku bujuk lagi dan mengatakan " PD aja lagi "
Kembali dia bangun dan presentasi
Kuminta dia menuliskan dipapan tulis
Cara yang dia gunakan
Dengan lancar dan tanpa melihat buku
Dia jelaskan ke teman-temannya
Lengkap dengan perintah yang digunakan
Alhamdulillah
Bintang kecilku sudah mulai bersinar
Pancaran bahagia setelah tampil di kelas
Masih kelihatan
Ketika kuliah sudah usai
Ku biarkan saja
Teman-temannya mengopi
Hasil karyanya
Wajahnya menjadi sangat cerah
Semalam ketika menonton
Lasykar Pelangi
Aku tersenyum melihat si Lintang
Yang maju jadi guru
Ketika gurunya tidak ada
Minggu lalu Edho Akmal Hakim yang bikin kejutan
Teknisi yang kupanggil untuk memperbaiki CPU
Hanya punya sedikit waktu
Aku lihat si Edho ikut membantu teknisi
Dan dia teruskan pekerjaan teknisi
Sehingga CPU tersebut bisa dipakai kembali
Edho juga telah mulai memperlihatkan bakatnya
Sebagai programmer
Selain Edho, ada Rahmat, dan Suci serta yang lain
Bintang-bintang kecilku yang mulai bersinar
Bengkulu, 13 November 2008
Hanifah Damanhuri
MAK ITAM PULANG KAMPUNG
MAK ITAM PULANG KAMPUNG
Suka dan duka
Bersatu jadi satu
Atas kepulangan
Mak Itam ke kampungnya
Mak Itam jadi legenda
Tukang urut ternama
Menghilangkan rangkik-rangkik
Serta duka dan nestapa
Bagi insan yang lemah imannya
Mak Itam yang berjasa dijaman kejayaanya
Sempat terlupakan
Hampir saja Mak Itam merantau Cina
Karena di rantau dia di puja
Mak Itam kini menuju kampung
Dengan perasaan bingung
Mak Itam berkata-kata sendiri
" Akankah kampung seramah rantau ?
Yang memujaku dan merawatku penuh kasih
Andaikan aku dijadikan besi tua
Terlonggok tak berguna
Betapa malangnya nasibku dikampung
Ah aku tak bpleh cengeng
Tak boleh berfikir negatif
Aku harus tunjukkan pada dunia
Aku mak Itam yang perkasa
Akan membawa siapa saja
Dari mana saj di penjuru dunia
Melintasi Ranah yang indah
Dengan santai dan tak terburu buru
Di kejar-kejar waktu "
Mak Itam kadang juga berfikir
" Benar juga mungkin
Aku mak itam
Berubah jadi monster
Bagi warga penghuni rel KA
Ah biarlah jadi urusan CALEG "
" Sekarang aku mantap
Menuju kampung
Jadi mak Itam
Mamak kandung
Yang akan mensejahterakan
Anak dan kemenakan di Ranah
Insya Allah "
Bengkulu, 8 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Suka dan duka
Bersatu jadi satu
Atas kepulangan
Mak Itam ke kampungnya
Mak Itam jadi legenda
Tukang urut ternama
Menghilangkan rangkik-rangkik
Serta duka dan nestapa
Bagi insan yang lemah imannya
Mak Itam yang berjasa dijaman kejayaanya
Sempat terlupakan
Hampir saja Mak Itam merantau Cina
Karena di rantau dia di puja
Mak Itam kini menuju kampung
Dengan perasaan bingung
Mak Itam berkata-kata sendiri
" Akankah kampung seramah rantau ?
Yang memujaku dan merawatku penuh kasih
Andaikan aku dijadikan besi tua
Terlonggok tak berguna
Betapa malangnya nasibku dikampung
Ah aku tak bpleh cengeng
Tak boleh berfikir negatif
Aku harus tunjukkan pada dunia
Aku mak Itam yang perkasa
Akan membawa siapa saja
Dari mana saj di penjuru dunia
Melintasi Ranah yang indah
Dengan santai dan tak terburu buru
Di kejar-kejar waktu "
Mak Itam kadang juga berfikir
" Benar juga mungkin
Aku mak itam
Berubah jadi monster
Bagi warga penghuni rel KA
Ah biarlah jadi urusan CALEG "
" Sekarang aku mantap
Menuju kampung
Jadi mak Itam
Mamak kandung
Yang akan mensejahterakan
Anak dan kemenakan di Ranah
Insya Allah "
Bengkulu, 8 Desember 2008
Hanifah Damanhuri
Langganan:
Postingan (Atom)