Kamis, 30 Juli 2009

JUBAH BESAR

JUBAH BESAR


Ketika memulai karir sebagai staff pengajar
Aku terlanjur men-set diriku hanya sebagai pengajar
Biar aku punya waktu untuk keluarga
Yang membutuhkan perhatian seorang ibu


Beberapakali kusaksikan rombongan senat universitas
Dengan memakai jubah besar
Berjalan berbaris
Dari ruang rektor ke gedung C


Mataku selalu terpesona dan
Bibirku berdecak kagum
Alangkah gagah-gagahnya
Rombongan rektor dengan jubah besar tersebut


Mungkin sudah suratan nasibku
Hari ini tanggal 14 Juli 2009
Aku mengenakan jubah besar
Yang membuat badan dan kepalaku jadi besar


Menurut berita
Jarang sekali senat wakil dosen wanita
Sekarang ada aku dan bu cory wanitanya
“ Wah ada yang beda “ kata salah seorang anggota


Ketika sudah tiba waktunya
Rombongan senat menuju panggung kehormatan
Dengan langkah pasti kami melangkah
Seperti langkah pramuka


Mulanya semua anggota duduk dengan rapi
Mengikuti rangkaian acara rutin
Begitu memasuki babak dimana rektor mewisuda
Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 600 orang


Mulailah ada yang permisi ke kamar mandi
Termasuk aku
Kemudian ada yang pergi agak lama
Di susul yang lainnya


Pengaruh AC yang dingin
Membuat aku agak pusing
Aku berniat ke ruangan dekat kamar mandi
Biar aku terbebas dari dinginnya AC


Ketika ku buka pintu ke ruangan itu
Aku jadi terkejut
Ada merokok berjamaah disana
Aku tak jadi masuk dan memilih duduk dekat pintu


Jelang acara penutupan
Semua anggota kembali keposisi semula
Duduk dengan rapi sampai acara selesai
Hingga akhirnya kembali ke ruangan berkumpul


Tak kulihat rasa lelah di wajah rektor
Yang berdiri sekian lamanya
Mewisuda setiap mahasiswa
Dalam waktu yang cukup lama


Itulah kenanganku
Dihari pertama
Jadi senat universitas dan
Duduk di panggung kehormatan


Bengkulu, 14 Juli 2009




Hanifah Damanhuri

SELAMAT JALAN BU ANIMAR

SELAMAT JALAN BU ANIMAR


Mendengar namamu yang barusan mendahulu
Aku terkenang masa yang lalu
Ketika aku jadi muridmu
Di SD Sungai Tanang kampungku

Sebelum kehadiranmu di sekolahku
Hampir tak ada yang istimewa waktu itu
Murid-murid bebas berbaju
Belum ada yang pakai sepatu

Begitu ibu hadir mengelola SDku
Kami memiliki guru-guru baru
Ibu tegakkan disiplin dimana perlu
Termasuk menyeragamkan baju

Terbayang ketika aku dan teman-teman berbaju baru
Putih semua mulai dari sepatu
Kami di suruh berdiri untuk di tiru
Itulah contoh seragam baju

Sejak ibu mengelola SDku
Ibu jadikan SDku untuk ditiru
Tak sia-sia kerja keras ibu
Teladan tingkat kabupaten diantara murid ibu


Kami-kami yang pernah ibu bina dulu
Akan selalu mengenang jasamu
Selamat jalan ibu
Semoga pintu sorga terbuka untukmu



Bengkulu 10 Juli 2009




Hanifah Damanhuri

MAIN BULU TANGKIS

MAIN BULU TANGKIS


Biar langsing lagi tubuhku yang mulai temok
Prof Suheimi menganjurkanku untuk olah raga
Memakan buah kurma, tempe dan madu

Pagi ini suamiku mengajak jalan pagi
Di jalan kami lihat orang main bulu tangkis
Pulangnya singgah kami di warung dan beli bulu
Kami jemput raket ke rumah
Kamipun main bulu tangkis di halaman SMP 18
Yang tak jauh dari rumah kami


Kami berdua sudah sama-sama temok
Gerakan sudah lamban
Tidak bisa lagi lari kesana ke mari dengan lincah
Ketika badan dikiri lalu bola datang ke kanan
Sangat sering bola akhirnya jatuh ke tanah
Napaspun jadi ter engah-engah
Keringatpun bercucuran


Aku terkenang kemasa tahun tujuh puluhan
Aku masih sekolah di SD
Waktu itu listrik baru menyala dikampungku
TV pun yang punya baru beberapa rumah
Saat itu lagi demam Liem Swi King
Yang menjuarai All England beberapa kali


Tak ingin mengganggu orang tua
Karena ingin punya raket untuk main bulu tangkis
Aku dan teman-teman sepermainan
Mengumpuilkan uang jajan selama beberapa hari
Sehingga dapat kami belikan dua buah raket


Dengan dua buah raket ini
Kami mulai bermain berganti ganti
Siapa kalah keluar
Kalau ingin bermain lama-lama
Jadilah pemenang di setiap pertandingan
Akhirnya lama-lama masing-masing
Memiliki raket sendiri-sendiri
Biar bisa main sepuas hati


Gaya loncat Liem Swi King
Menjadi kebanggaan bagi yang menguasai
Asyik sekali meloncat menyambar bulu tinggi
Sambil memukul bulu dengan kencang
Tidak mudah untuk menagkis bola yang menukik tajam
Tidak mudah pula bermain di depan net
Tidak masalah ketika berada dikanan bulu dilempar kekiri
Begitu pula ketika lagi di belakang bulu di lempar di depan
Dengan lincah para pemain mengejarnya


Bermain di sejuknya hawa pegunungan
Di lingkungan pepohonan
Membuat kami bisa bermain kapan saja
Badan jadi sehat
Hatipun senang
Capek bermain bulu tangkis
Kami lanjutkan merenangi tabek gadang
Sekarang semua tinggal kenangan



Bengkulu, 9 Juli 2009





Hanifah Damanhuri

NDAHNYA PEMANDANGAN KE BATUSANGKAR

INDAHNYA PEMANDANGAN KE BATUSANGKAR


Sebenarnya sudah beberapakali
Aku mengunjungi Batusangkar ini
Baik ketika masih mahasiswi
Maupun sesudah jadi pegawai negri


Entah dulu aku tak peduli
Karena terbiasa di lembah Singgalang dan Merapi
Keindahan suatu negeri
Tak jadi perhatianku seperti saat ini


Ketika kabut asap menyelimuti bumi
Aku kehilangan gunung Singgalang dan Merapi
Jarak pandang dekat sekali
Lebaran saat itu terasa sunyi dan sepi


Saat itu jalan ke Batusangkar yang kami telusuri
Terasa gelap sekali
Tak henti-henti klakson mobil berbunyi
Lampu mobil menyala bak malam hari


Beberapa hari yang lalu kami kembali
Menelusuri jalan menuju Batusangkar ini
Decak kagum tak henti-henti
Menyaksikan pemandangan yang indah sekali


Saat terlihat danau Singkarak dari suatu posisi
Mataku terbelalak besar sekali
Wow indahnya negeri ini
Tak mampu ku lukiskan lewat puisi


Sawah menghijau bertingkat-tingkat rapi
Menoleh ke belakang terlihat gunung Merapi
Dilayangkan pandang kedepan jauh sekali
Bukit Barisan berlapis-lapis indah sekali


Lama aku merenungi diri
Apa yang kucari di rantau ini
Kutinggalkan negeri yang indah sekali
Negeri bak potongan sorgawi


Ya Allah Ya Rabbi
Terima kasih atas kesempatan yang Engkau beri
Menyaksikan keindahan duniawi
Izinkanlah suatu saat aku kembali



Bengkulu 8 Juli 2009




Hanifah Damanhuri

BAJUKU JADI SEMPIT

BAJUKU JADI SEMPIT


Sekembali dari rumah sakit dan
Beristirahat total beberapa hari lamanya
Ku upayakan untuk memasak sendiri
Memasak masakan yang praktis tapi enak
Biar seleraku yang patah
Kembali normal


Aku yang semula tak suka susu
Setiap pagi meminumnya dicampur madu
Tak lupa kumakan telur ayam kampung
Yang diolah dengan berbagai cara
Supaya kesehatanku kembali normal


Mungkin apa yang kumakan
Semua jadi daging
Hingga badanku jadi melar
Haruskah aku menahan makan ?
Sementara aku dalam pemulihan ?


Buat sementara waktu
Kubiarkan saja apa yang terjadi pada badanku
Asalkan rasa pusing yang menderaku sewaktu-waktu
Tak penah lagi datang menyiksaku


Teman-teman yang sudah lama tak bertemu
Jadi tercengang dan terharu
Matanya tertuju pada bajuku
Yang melekat ketat ditubuhku
“ Katanya sakit, kok gemuk begitu? “
Kata mereka meledekku
Kubalas ledekannya dengan tersenyum malu


Ketika aku mampir dan nginap dirumah kakakku
Di Payakumbuh beberapa hari yang lalu
Kakakku juga berseru
“ Kok badan jadi gendut begitu ? “
Esoknya dia bilang lagi padaku
“ Itu pengaruh obat anti alergi waktu sakit dulu
Dampaknya memang begitu
Tapi nanti pasti berlalu “


Beberapa tahun yang lalu
Ketika anak-anak masih menyusu
Betapa langsing badanku
Aku dan kakakku bisa sebaju


Di hari lebaran aku tak perlu beli baju baru
Tinggal pakai baju kakakku
Pernah di suatu waktu
Kukatakan pada kakakku
“ Baju ini adem, nyaman dan tidak kaku”


Kuminta baju itu untukku
“ Itu baju sutra “ katanya padaku
Betapa terkejutnya dan bangganya aku
Sutra rupanya bajuku


Ketika mama dirawat dirumah sakit waktu itu
Aku yang menemani beliau disepanjang waktu
Melihat badanku langsing begitu
Mamaku selalu menyediakan minum susu untukku


Susu yang harusnya untuk mamaku
SUSTAGEN merek itu susu
Yang terasa mahal untuk kantongku waktu itu
Kurasakan kasih mama sepanjang waktu


Dari hari ke hari
Badanku mulai berisi
Hingga akhirnya mama pergi
Pergi tak akan kembali lagi


Setiap mengenang masa langsing sekali
Aku sering tersenyum sendiri
Ingat kasih ibu yang abadi
Tak berhenti hingga mati



Bengkulu, 12 Mei 2009 dan 7 Juli 2009





Hanifah Damanhuri

Senin, 15 Juni 2009

TIDAK CANTIK PERMAINAN

TIDAK CANTIK PERMAINAN

Kata temanku Bermain Cantik adalah
Bermain dengan kesepakatan-kesepakatan
Antar wakil-wakil dari suatu kumpulan
Dengan pembagian siapa dapat apa

Mulailah kasak kusuk menghitung
Berapa kekuatan kita
Berapa kekuatan lawan
Siapa yang akan dijagokan

Begitu sudah terbaca
Berapa komposisi kawan dan lawan
Rayuan maut mulai dilancarkan
Sehingga seseorang mungkin jadi
Pahlawan atau Pecundang di saat yang sama
Tergantung pihak mana yang menilai

Sekarang permainan tak bisa dibaca
Berapa sesungguhnya
Kekuatan kelompokn kita dan
Kekuatan keompok lawan
Dengan siapa kesepakatan akan dibuat ?

Kalau di suku JAWA
Biasanya bawahan akan nurut abis
Apa yang diperintahkan oleh atasan atau oleh
Orang yang mereka anggap BESAR

Mungkin menganggap hal yang sama
Juga berlaku di budaya kita
Atau berharap hal yang sama berlaku pada kita
Maka dimintalah pemimpin kita dan bawahan langsungnya
Untuk mendukung Y

Tidak Cantik Permainan
Begitu komentar yang cocok
Untuk fenomena tersebut

Namun lawan harusnya tak usah gentar
Rakyat pastilah bisa menilai
Kepada siapa suara akan diberikan
Kalau mereka ragu seperti kebanyakan kita
Tugas Ulama mengajak mereka
Untuk melaksanakan sholat Istikharah
Kapan perlu Sholat Istikharah Massal
Siapaun yang menang nanti
Yang kalah tak perlu sakit hati


Bengkulu, 15 Juni 2009


Hanifah Damanhuri

Sabtu, 13 Juni 2009

TAK BISA BERSORAK BERSAMA

TAK BISA BERSORAK BERSAMA

Akhirnya pengumuman yang dinanti disiarkan sudah
Anakku dinyatakan lulus sudah
Riang gembira tertumpah ruah
Air matapun bersimbah
Tak lupa mengucapkan Alhamdulillah
Penderitaan menanti berakhir sudah

Kegembiraan yang tertumpah
Hanya dirasakan di rumah
Dokter melarang keluar rumah
Anakku terserang cacar air yang sedang mewabah

“ Ma apa aku boleh kesekolah “
“ Aku ingin bertemu teman sebelum berpisah “
“ Ma dengarlah teman-temanku berteriak di sekolah “
“ Yaaah HPnya dimatikan sudah “

Aku menggeleng dan mencegah
“ Nanti penyakitmu berpindah “
Kutatap wajahnya dengan perasaan gundah
Berharap penyakitnya cepat punah

Dibalik kebahagiaan yang tiada tara
Telah diterima pula di UNAND lewat jalur Peemdeka
Sementara ribuan temannya masih tanda tanya
Entah akan kuliah dimana
Allah memberikan cobaan padanya
Penyakit yang menahannya untuk dirumah saja
Hingga tak bisa bersorak bersama

Ya Allah yang Maha Kuasa
Sembuhkanlah anakku seperti sediakala


Bengkulu, 13 Juni 2009


Hanifah Damanhuri