PULANG POKOK
Tak terasa begitu cepat waktu berlalu
Terasa baru kemaren kami menempuh hidup baru
Kemudian lahirlah berturut turut dari rahimku
Seorang putra dan seorang putriku yang lucu-lucu
Ketika mereka dalam perutku
Mereka sudah suka menggodaku
Tiap sebentar menendang dan menggelitikku
Aku menjadi geli dan meng usap-usap perutku
Ketika mereka sudah lahir dan menyusu
Aku tak peduli pada tubuhku
Yang kupikirkan saat itu
Anakku tumbuh sehat, pintar dan lucu
Kudaftarkan putraku masuk TK pagi itu
Sore harinya di RSU lahirlah putriku
Masih kuingat hari pertama sekolah anakku itu
Dia tak langsung pulang karena tak ditunggu
Walau hanya berdua anak-anakku
Dirumah terasa ramai selalu
Entah karena cemburu
Tiap sebentar mereka berseteru
Tak terasa waktu berlalu
Setamat SMA putraku pergi meninggalkanku
Rumah yang tadinya ramai selalu
Mulai terasa sepi karena hanya ada putriku
Tamat pula dari SMA putriku itu
Dia juga memilih tinggalkan aku
Dengan berat hati ku ikuti yang dia mau
Allahpun melapangkan jalan untuk putriku
Kukira aku masih akan bersama untuk beberapa minggu
Panggilan kota Jakarta tempat di rawat kakakku
Telah membuatku mengirim putriku
Untuk menggantikanku menemani kakakku
Kini tinggallah aku dan suamiku
Kembali berdua seperti pengantin baru
Pulang pokok kata orang padaku
Hari ini 23 tahun usia pernikahanku
Bengkulu, 20 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Kamis, 30 Juli 2009
MENYUSUI
MENYUSUI
> Membaca tentang pentingnya menyusui
> Aku jadi teringat ketika anak-anak masih bayi
> Alhamdulillah keduanya kususui
> Mungkin waktu itu karena faktor ekonomi
>
> Kulahirkan di Padang anak pertamaku
> Kubawa anakku memasuki rumah baru
> Perumnas yang potongannya terasa besar bagiku
> Dua pertiga dari gajiku
>
> Gabungan sisa uangku dan uang suamiku
> Membuatku harus pandai-pandai mengatur menu
> Ku hitung-hitung andai kebelikan susu
> Yang teririt dan praktis adalah menyusu padaku
>
> Aku beruntung sabagi ibu
> Yang bisa atur jadwal kuliah sesuai seleraku
> Kegiatan lain aku tak mau tau
> Sampai anakku berhenti menyusu
>
> Dua tahun lamanya anak pertamaku menyusu
> Sudah malu pula orang melihatku
> Ketika kususukan saja dimana dia mau
> Entah kemana perginya malu
>
> Tak mudah menyuruhnya berhenti
> Pahir sedikit dia tidak peduli
> Akhirnya kuusap putingku dengan akar ali-ali
> Baru dia berhenti karena pahit sekali
>
> Anakku yang kedua
> Tak serakus yang pertama
> Kususukan enam belas bulan lamanya
> Berhenti sendiri karena ku tinggal lama
>
> Waktu itu aku tinggalkan dia bersama bapaknya
> Aku ikut penataran di USU FMIPA Matematika
> Sebenarnya aku tersiksa disana
> Susuku bengkak dan sakit karena penuh isinya
>
> Kubeli penyedot air susu
> Ku sedot air susuku
> Beberapa hari berlalu
> Berkurang sendiri air susuku
>
> Begitu aku kembali ke Bengkulu
> Ku susukan lagi anakku
> Entah kenapa aku tak tau
> Tak mau lagi dia menyusu padaku
>
>
> Bengkulu, 17 Juli 2009
>
>
> Hanifah Damanhuri
> Membaca tentang pentingnya menyusui
> Aku jadi teringat ketika anak-anak masih bayi
> Alhamdulillah keduanya kususui
> Mungkin waktu itu karena faktor ekonomi
>
> Kulahirkan di Padang anak pertamaku
> Kubawa anakku memasuki rumah baru
> Perumnas yang potongannya terasa besar bagiku
> Dua pertiga dari gajiku
>
> Gabungan sisa uangku dan uang suamiku
> Membuatku harus pandai-pandai mengatur menu
> Ku hitung-hitung andai kebelikan susu
> Yang teririt dan praktis adalah menyusu padaku
>
> Aku beruntung sabagi ibu
> Yang bisa atur jadwal kuliah sesuai seleraku
> Kegiatan lain aku tak mau tau
> Sampai anakku berhenti menyusu
>
> Dua tahun lamanya anak pertamaku menyusu
> Sudah malu pula orang melihatku
> Ketika kususukan saja dimana dia mau
> Entah kemana perginya malu
>
> Tak mudah menyuruhnya berhenti
> Pahir sedikit dia tidak peduli
> Akhirnya kuusap putingku dengan akar ali-ali
> Baru dia berhenti karena pahit sekali
>
> Anakku yang kedua
> Tak serakus yang pertama
> Kususukan enam belas bulan lamanya
> Berhenti sendiri karena ku tinggal lama
>
> Waktu itu aku tinggalkan dia bersama bapaknya
> Aku ikut penataran di USU FMIPA Matematika
> Sebenarnya aku tersiksa disana
> Susuku bengkak dan sakit karena penuh isinya
>
> Kubeli penyedot air susu
> Ku sedot air susuku
> Beberapa hari berlalu
> Berkurang sendiri air susuku
>
> Begitu aku kembali ke Bengkulu
> Ku susukan lagi anakku
> Entah kenapa aku tak tau
> Tak mau lagi dia menyusu padaku
>
>
> Bengkulu, 17 Juli 2009
>
>
> Hanifah Damanhuri
JUBAH BESAR
JUBAH BESAR
Ketika memulai karir sebagai staff pengajar
Aku terlanjur men-set diriku hanya sebagai pengajar
Biar aku punya waktu untuk keluarga
Yang membutuhkan perhatian seorang ibu
Beberapakali kusaksikan rombongan senat universitas
Dengan memakai jubah besar
Berjalan berbaris
Dari ruang rektor ke gedung C
Mataku selalu terpesona dan
Bibirku berdecak kagum
Alangkah gagah-gagahnya
Rombongan rektor dengan jubah besar tersebut
Mungkin sudah suratan nasibku
Hari ini tanggal 14 Juli 2009
Aku mengenakan jubah besar
Yang membuat badan dan kepalaku jadi besar
Menurut berita
Jarang sekali senat wakil dosen wanita
Sekarang ada aku dan bu cory wanitanya
“ Wah ada yang beda “ kata salah seorang anggota
Ketika sudah tiba waktunya
Rombongan senat menuju panggung kehormatan
Dengan langkah pasti kami melangkah
Seperti langkah pramuka
Mulanya semua anggota duduk dengan rapi
Mengikuti rangkaian acara rutin
Begitu memasuki babak dimana rektor mewisuda
Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 600 orang
Mulailah ada yang permisi ke kamar mandi
Termasuk aku
Kemudian ada yang pergi agak lama
Di susul yang lainnya
Pengaruh AC yang dingin
Membuat aku agak pusing
Aku berniat ke ruangan dekat kamar mandi
Biar aku terbebas dari dinginnya AC
Ketika ku buka pintu ke ruangan itu
Aku jadi terkejut
Ada merokok berjamaah disana
Aku tak jadi masuk dan memilih duduk dekat pintu
Jelang acara penutupan
Semua anggota kembali keposisi semula
Duduk dengan rapi sampai acara selesai
Hingga akhirnya kembali ke ruangan berkumpul
Tak kulihat rasa lelah di wajah rektor
Yang berdiri sekian lamanya
Mewisuda setiap mahasiswa
Dalam waktu yang cukup lama
Itulah kenanganku
Dihari pertama
Jadi senat universitas dan
Duduk di panggung kehormatan
Bengkulu, 14 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Ketika memulai karir sebagai staff pengajar
Aku terlanjur men-set diriku hanya sebagai pengajar
Biar aku punya waktu untuk keluarga
Yang membutuhkan perhatian seorang ibu
Beberapakali kusaksikan rombongan senat universitas
Dengan memakai jubah besar
Berjalan berbaris
Dari ruang rektor ke gedung C
Mataku selalu terpesona dan
Bibirku berdecak kagum
Alangkah gagah-gagahnya
Rombongan rektor dengan jubah besar tersebut
Mungkin sudah suratan nasibku
Hari ini tanggal 14 Juli 2009
Aku mengenakan jubah besar
Yang membuat badan dan kepalaku jadi besar
Menurut berita
Jarang sekali senat wakil dosen wanita
Sekarang ada aku dan bu cory wanitanya
“ Wah ada yang beda “ kata salah seorang anggota
Ketika sudah tiba waktunya
Rombongan senat menuju panggung kehormatan
Dengan langkah pasti kami melangkah
Seperti langkah pramuka
Mulanya semua anggota duduk dengan rapi
Mengikuti rangkaian acara rutin
Begitu memasuki babak dimana rektor mewisuda
Dengan jumlah mahasiswa lebih dari 600 orang
Mulailah ada yang permisi ke kamar mandi
Termasuk aku
Kemudian ada yang pergi agak lama
Di susul yang lainnya
Pengaruh AC yang dingin
Membuat aku agak pusing
Aku berniat ke ruangan dekat kamar mandi
Biar aku terbebas dari dinginnya AC
Ketika ku buka pintu ke ruangan itu
Aku jadi terkejut
Ada merokok berjamaah disana
Aku tak jadi masuk dan memilih duduk dekat pintu
Jelang acara penutupan
Semua anggota kembali keposisi semula
Duduk dengan rapi sampai acara selesai
Hingga akhirnya kembali ke ruangan berkumpul
Tak kulihat rasa lelah di wajah rektor
Yang berdiri sekian lamanya
Mewisuda setiap mahasiswa
Dalam waktu yang cukup lama
Itulah kenanganku
Dihari pertama
Jadi senat universitas dan
Duduk di panggung kehormatan
Bengkulu, 14 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
SELAMAT JALAN BU ANIMAR
SELAMAT JALAN BU ANIMAR
Mendengar namamu yang barusan mendahulu
Aku terkenang masa yang lalu
Ketika aku jadi muridmu
Di SD Sungai Tanang kampungku
Sebelum kehadiranmu di sekolahku
Hampir tak ada yang istimewa waktu itu
Murid-murid bebas berbaju
Belum ada yang pakai sepatu
Begitu ibu hadir mengelola SDku
Kami memiliki guru-guru baru
Ibu tegakkan disiplin dimana perlu
Termasuk menyeragamkan baju
Terbayang ketika aku dan teman-teman berbaju baru
Putih semua mulai dari sepatu
Kami di suruh berdiri untuk di tiru
Itulah contoh seragam baju
Sejak ibu mengelola SDku
Ibu jadikan SDku untuk ditiru
Tak sia-sia kerja keras ibu
Teladan tingkat kabupaten diantara murid ibu
Kami-kami yang pernah ibu bina dulu
Akan selalu mengenang jasamu
Selamat jalan ibu
Semoga pintu sorga terbuka untukmu
Bengkulu 10 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Mendengar namamu yang barusan mendahulu
Aku terkenang masa yang lalu
Ketika aku jadi muridmu
Di SD Sungai Tanang kampungku
Sebelum kehadiranmu di sekolahku
Hampir tak ada yang istimewa waktu itu
Murid-murid bebas berbaju
Belum ada yang pakai sepatu
Begitu ibu hadir mengelola SDku
Kami memiliki guru-guru baru
Ibu tegakkan disiplin dimana perlu
Termasuk menyeragamkan baju
Terbayang ketika aku dan teman-teman berbaju baru
Putih semua mulai dari sepatu
Kami di suruh berdiri untuk di tiru
Itulah contoh seragam baju
Sejak ibu mengelola SDku
Ibu jadikan SDku untuk ditiru
Tak sia-sia kerja keras ibu
Teladan tingkat kabupaten diantara murid ibu
Kami-kami yang pernah ibu bina dulu
Akan selalu mengenang jasamu
Selamat jalan ibu
Semoga pintu sorga terbuka untukmu
Bengkulu 10 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
MAIN BULU TANGKIS
MAIN BULU TANGKIS
Biar langsing lagi tubuhku yang mulai temok
Prof Suheimi menganjurkanku untuk olah raga
Memakan buah kurma, tempe dan madu
Pagi ini suamiku mengajak jalan pagi
Di jalan kami lihat orang main bulu tangkis
Pulangnya singgah kami di warung dan beli bulu
Kami jemput raket ke rumah
Kamipun main bulu tangkis di halaman SMP 18
Yang tak jauh dari rumah kami
Kami berdua sudah sama-sama temok
Gerakan sudah lamban
Tidak bisa lagi lari kesana ke mari dengan lincah
Ketika badan dikiri lalu bola datang ke kanan
Sangat sering bola akhirnya jatuh ke tanah
Napaspun jadi ter engah-engah
Keringatpun bercucuran
Aku terkenang kemasa tahun tujuh puluhan
Aku masih sekolah di SD
Waktu itu listrik baru menyala dikampungku
TV pun yang punya baru beberapa rumah
Saat itu lagi demam Liem Swi King
Yang menjuarai All England beberapa kali
Tak ingin mengganggu orang tua
Karena ingin punya raket untuk main bulu tangkis
Aku dan teman-teman sepermainan
Mengumpuilkan uang jajan selama beberapa hari
Sehingga dapat kami belikan dua buah raket
Dengan dua buah raket ini
Kami mulai bermain berganti ganti
Siapa kalah keluar
Kalau ingin bermain lama-lama
Jadilah pemenang di setiap pertandingan
Akhirnya lama-lama masing-masing
Memiliki raket sendiri-sendiri
Biar bisa main sepuas hati
Gaya loncat Liem Swi King
Menjadi kebanggaan bagi yang menguasai
Asyik sekali meloncat menyambar bulu tinggi
Sambil memukul bulu dengan kencang
Tidak mudah untuk menagkis bola yang menukik tajam
Tidak mudah pula bermain di depan net
Tidak masalah ketika berada dikanan bulu dilempar kekiri
Begitu pula ketika lagi di belakang bulu di lempar di depan
Dengan lincah para pemain mengejarnya
Bermain di sejuknya hawa pegunungan
Di lingkungan pepohonan
Membuat kami bisa bermain kapan saja
Badan jadi sehat
Hatipun senang
Capek bermain bulu tangkis
Kami lanjutkan merenangi tabek gadang
Sekarang semua tinggal kenangan
Bengkulu, 9 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Biar langsing lagi tubuhku yang mulai temok
Prof Suheimi menganjurkanku untuk olah raga
Memakan buah kurma, tempe dan madu
Pagi ini suamiku mengajak jalan pagi
Di jalan kami lihat orang main bulu tangkis
Pulangnya singgah kami di warung dan beli bulu
Kami jemput raket ke rumah
Kamipun main bulu tangkis di halaman SMP 18
Yang tak jauh dari rumah kami
Kami berdua sudah sama-sama temok
Gerakan sudah lamban
Tidak bisa lagi lari kesana ke mari dengan lincah
Ketika badan dikiri lalu bola datang ke kanan
Sangat sering bola akhirnya jatuh ke tanah
Napaspun jadi ter engah-engah
Keringatpun bercucuran
Aku terkenang kemasa tahun tujuh puluhan
Aku masih sekolah di SD
Waktu itu listrik baru menyala dikampungku
TV pun yang punya baru beberapa rumah
Saat itu lagi demam Liem Swi King
Yang menjuarai All England beberapa kali
Tak ingin mengganggu orang tua
Karena ingin punya raket untuk main bulu tangkis
Aku dan teman-teman sepermainan
Mengumpuilkan uang jajan selama beberapa hari
Sehingga dapat kami belikan dua buah raket
Dengan dua buah raket ini
Kami mulai bermain berganti ganti
Siapa kalah keluar
Kalau ingin bermain lama-lama
Jadilah pemenang di setiap pertandingan
Akhirnya lama-lama masing-masing
Memiliki raket sendiri-sendiri
Biar bisa main sepuas hati
Gaya loncat Liem Swi King
Menjadi kebanggaan bagi yang menguasai
Asyik sekali meloncat menyambar bulu tinggi
Sambil memukul bulu dengan kencang
Tidak mudah untuk menagkis bola yang menukik tajam
Tidak mudah pula bermain di depan net
Tidak masalah ketika berada dikanan bulu dilempar kekiri
Begitu pula ketika lagi di belakang bulu di lempar di depan
Dengan lincah para pemain mengejarnya
Bermain di sejuknya hawa pegunungan
Di lingkungan pepohonan
Membuat kami bisa bermain kapan saja
Badan jadi sehat
Hatipun senang
Capek bermain bulu tangkis
Kami lanjutkan merenangi tabek gadang
Sekarang semua tinggal kenangan
Bengkulu, 9 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
NDAHNYA PEMANDANGAN KE BATUSANGKAR
INDAHNYA PEMANDANGAN KE BATUSANGKAR
Sebenarnya sudah beberapakali
Aku mengunjungi Batusangkar ini
Baik ketika masih mahasiswi
Maupun sesudah jadi pegawai negri
Entah dulu aku tak peduli
Karena terbiasa di lembah Singgalang dan Merapi
Keindahan suatu negeri
Tak jadi perhatianku seperti saat ini
Ketika kabut asap menyelimuti bumi
Aku kehilangan gunung Singgalang dan Merapi
Jarak pandang dekat sekali
Lebaran saat itu terasa sunyi dan sepi
Saat itu jalan ke Batusangkar yang kami telusuri
Terasa gelap sekali
Tak henti-henti klakson mobil berbunyi
Lampu mobil menyala bak malam hari
Beberapa hari yang lalu kami kembali
Menelusuri jalan menuju Batusangkar ini
Decak kagum tak henti-henti
Menyaksikan pemandangan yang indah sekali
Saat terlihat danau Singkarak dari suatu posisi
Mataku terbelalak besar sekali
Wow indahnya negeri ini
Tak mampu ku lukiskan lewat puisi
Sawah menghijau bertingkat-tingkat rapi
Menoleh ke belakang terlihat gunung Merapi
Dilayangkan pandang kedepan jauh sekali
Bukit Barisan berlapis-lapis indah sekali
Lama aku merenungi diri
Apa yang kucari di rantau ini
Kutinggalkan negeri yang indah sekali
Negeri bak potongan sorgawi
Ya Allah Ya Rabbi
Terima kasih atas kesempatan yang Engkau beri
Menyaksikan keindahan duniawi
Izinkanlah suatu saat aku kembali
Bengkulu 8 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Sebenarnya sudah beberapakali
Aku mengunjungi Batusangkar ini
Baik ketika masih mahasiswi
Maupun sesudah jadi pegawai negri
Entah dulu aku tak peduli
Karena terbiasa di lembah Singgalang dan Merapi
Keindahan suatu negeri
Tak jadi perhatianku seperti saat ini
Ketika kabut asap menyelimuti bumi
Aku kehilangan gunung Singgalang dan Merapi
Jarak pandang dekat sekali
Lebaran saat itu terasa sunyi dan sepi
Saat itu jalan ke Batusangkar yang kami telusuri
Terasa gelap sekali
Tak henti-henti klakson mobil berbunyi
Lampu mobil menyala bak malam hari
Beberapa hari yang lalu kami kembali
Menelusuri jalan menuju Batusangkar ini
Decak kagum tak henti-henti
Menyaksikan pemandangan yang indah sekali
Saat terlihat danau Singkarak dari suatu posisi
Mataku terbelalak besar sekali
Wow indahnya negeri ini
Tak mampu ku lukiskan lewat puisi
Sawah menghijau bertingkat-tingkat rapi
Menoleh ke belakang terlihat gunung Merapi
Dilayangkan pandang kedepan jauh sekali
Bukit Barisan berlapis-lapis indah sekali
Lama aku merenungi diri
Apa yang kucari di rantau ini
Kutinggalkan negeri yang indah sekali
Negeri bak potongan sorgawi
Ya Allah Ya Rabbi
Terima kasih atas kesempatan yang Engkau beri
Menyaksikan keindahan duniawi
Izinkanlah suatu saat aku kembali
Bengkulu 8 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
BAJUKU JADI SEMPIT
BAJUKU JADI SEMPIT
Sekembali dari rumah sakit dan
Beristirahat total beberapa hari lamanya
Ku upayakan untuk memasak sendiri
Memasak masakan yang praktis tapi enak
Biar seleraku yang patah
Kembali normal
Aku yang semula tak suka susu
Setiap pagi meminumnya dicampur madu
Tak lupa kumakan telur ayam kampung
Yang diolah dengan berbagai cara
Supaya kesehatanku kembali normal
Mungkin apa yang kumakan
Semua jadi daging
Hingga badanku jadi melar
Haruskah aku menahan makan ?
Sementara aku dalam pemulihan ?
Buat sementara waktu
Kubiarkan saja apa yang terjadi pada badanku
Asalkan rasa pusing yang menderaku sewaktu-waktu
Tak penah lagi datang menyiksaku
Teman-teman yang sudah lama tak bertemu
Jadi tercengang dan terharu
Matanya tertuju pada bajuku
Yang melekat ketat ditubuhku
“ Katanya sakit, kok gemuk begitu? “
Kata mereka meledekku
Kubalas ledekannya dengan tersenyum malu
Ketika aku mampir dan nginap dirumah kakakku
Di Payakumbuh beberapa hari yang lalu
Kakakku juga berseru
“ Kok badan jadi gendut begitu ? “
Esoknya dia bilang lagi padaku
“ Itu pengaruh obat anti alergi waktu sakit dulu
Dampaknya memang begitu
Tapi nanti pasti berlalu “
Beberapa tahun yang lalu
Ketika anak-anak masih menyusu
Betapa langsing badanku
Aku dan kakakku bisa sebaju
Di hari lebaran aku tak perlu beli baju baru
Tinggal pakai baju kakakku
Pernah di suatu waktu
Kukatakan pada kakakku
“ Baju ini adem, nyaman dan tidak kaku”
Kuminta baju itu untukku
“ Itu baju sutra “ katanya padaku
Betapa terkejutnya dan bangganya aku
Sutra rupanya bajuku
Ketika mama dirawat dirumah sakit waktu itu
Aku yang menemani beliau disepanjang waktu
Melihat badanku langsing begitu
Mamaku selalu menyediakan minum susu untukku
Susu yang harusnya untuk mamaku
SUSTAGEN merek itu susu
Yang terasa mahal untuk kantongku waktu itu
Kurasakan kasih mama sepanjang waktu
Dari hari ke hari
Badanku mulai berisi
Hingga akhirnya mama pergi
Pergi tak akan kembali lagi
Setiap mengenang masa langsing sekali
Aku sering tersenyum sendiri
Ingat kasih ibu yang abadi
Tak berhenti hingga mati
Bengkulu, 12 Mei 2009 dan 7 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Sekembali dari rumah sakit dan
Beristirahat total beberapa hari lamanya
Ku upayakan untuk memasak sendiri
Memasak masakan yang praktis tapi enak
Biar seleraku yang patah
Kembali normal
Aku yang semula tak suka susu
Setiap pagi meminumnya dicampur madu
Tak lupa kumakan telur ayam kampung
Yang diolah dengan berbagai cara
Supaya kesehatanku kembali normal
Mungkin apa yang kumakan
Semua jadi daging
Hingga badanku jadi melar
Haruskah aku menahan makan ?
Sementara aku dalam pemulihan ?
Buat sementara waktu
Kubiarkan saja apa yang terjadi pada badanku
Asalkan rasa pusing yang menderaku sewaktu-waktu
Tak penah lagi datang menyiksaku
Teman-teman yang sudah lama tak bertemu
Jadi tercengang dan terharu
Matanya tertuju pada bajuku
Yang melekat ketat ditubuhku
“ Katanya sakit, kok gemuk begitu? “
Kata mereka meledekku
Kubalas ledekannya dengan tersenyum malu
Ketika aku mampir dan nginap dirumah kakakku
Di Payakumbuh beberapa hari yang lalu
Kakakku juga berseru
“ Kok badan jadi gendut begitu ? “
Esoknya dia bilang lagi padaku
“ Itu pengaruh obat anti alergi waktu sakit dulu
Dampaknya memang begitu
Tapi nanti pasti berlalu “
Beberapa tahun yang lalu
Ketika anak-anak masih menyusu
Betapa langsing badanku
Aku dan kakakku bisa sebaju
Di hari lebaran aku tak perlu beli baju baru
Tinggal pakai baju kakakku
Pernah di suatu waktu
Kukatakan pada kakakku
“ Baju ini adem, nyaman dan tidak kaku”
Kuminta baju itu untukku
“ Itu baju sutra “ katanya padaku
Betapa terkejutnya dan bangganya aku
Sutra rupanya bajuku
Ketika mama dirawat dirumah sakit waktu itu
Aku yang menemani beliau disepanjang waktu
Melihat badanku langsing begitu
Mamaku selalu menyediakan minum susu untukku
Susu yang harusnya untuk mamaku
SUSTAGEN merek itu susu
Yang terasa mahal untuk kantongku waktu itu
Kurasakan kasih mama sepanjang waktu
Dari hari ke hari
Badanku mulai berisi
Hingga akhirnya mama pergi
Pergi tak akan kembali lagi
Setiap mengenang masa langsing sekali
Aku sering tersenyum sendiri
Ingat kasih ibu yang abadi
Tak berhenti hingga mati
Bengkulu, 12 Mei 2009 dan 7 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Langganan:
Postingan (Atom)