TERASA RINGAN
Enam bulan telah berlalu
Setelah aku di rawat di rumah sakit
Selama itu yang terjadi dikepalaku
Seperti ada awan menyelimuti matahari
Mula-mula awannya tebal sekali
Lama-lama mulai menipis
Sesekali terasa jernih tanpa awan
Ketika seperti awan yang sangat tebal
Membuat sinar mata jadi sayu dan berkunang-kunang
Suara jadi lemah
Bibir kering
Badan terasa berat
Di bawa berfikir agak keras
Kepala jadi pusing
Seiring berjalannya waktu
Langkah mulai terasa ringan
Wajah sudah kembali cerah
Namun aku masih kesulitan membaca dan memahami
Apa yang dibaca tadi
Terasa sekali kalau sedang membimbing mahasiswa
Suatu hari seorang mahasiswi menemuiku
“ Bu, apa ibu bersedia jadi penguji saya ? ” tanyanya
“ Saya tidak bisa janji, tentang apa? “ tanyaku
“ Aplikasi Sistim Pakar X bu “ jawabnya
“ Saya coba ya, saya senang topiknya “ jawabku
Betapa terkejutnya aku ketika membaca makalahnya
Mata sayu, bibir kering, suara lemah ….
Adalah ciri-ciri orang stress berat
Haah berarti aku stress berat dong ??
Dengan suara yang masih belum seperti biasanya
Kuminta padanya untuk hati-hati dan
Mencari referensi sebanyak-banyaknya
Bertanya kepada ahlinya
Walau memiliki ciri yang sama
Kesimpulannya maunya tidak sama
Memang terjadi penurunan daya tangkap padaku
Biasanya aku bisa dengan cepat memahami sesuatu
Sehingga sering tulisan mahasiswa yang ku bimbing
Ku respon saat itu juga di depannya
Belakangan kalau ada yang bimbingan
Pelan-pelan ku baca tulisannya
Lebih sering kuminta dia menjelaskan langsung
Kami berdiskusi tanpa kubaca tulisannya
Lalu pembimbing pendamping yang merapikan tulisannya
Kemaren aku ikut menentukan nilai makalah dosen
Yang dipresentasikan di depan senat
Yang mesti dibaca dalam waktu yang singkat
Nilai yang berpengaruh untuk kenaikan pangkat
Alhamdulillah
Aku merasa kepalaku sedang ringan
Aku bisa membaca makalah dengan cepat
Aku bisa bertanya dengan suara lantang
Aku berharap
Awan yang menyelimuti kepalaku
Benar benar pergi meninggalkanku
Hingga kepalaku terasa ringan
Ya Allah Yang Maha Kuasa
Kumohon bantuanMu
Bengkulu, 14 Agustus 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
Rabu, 12 Agustus 2009
RAHMAT KURNIAWAN
RAHMAT KURNIAWAN
Aku disambut senyum cerah
Ketika aku memasuki ruangan yang berisi
Sekelompok mahasiswa yang sedang berkumpul
Mereka kebetulan yang mendapat nilai A
Untuk matakuliah yang ku asuh semester yang lalu
“ Mana si Edho Akmal ?” tanyaku
“ Kok nilainya tak seperti yang saya harapkan ya? “
“ Tidak tau bu, mungkin pindah
Si Rahmat Kurniawan pindah ke UNDIP bu
Ke Jurusan Teknik Sipil
Sekarang dia sudah ke UNDIP ” kata mereka
Rahmat Kurniawan seorang mahasiswa yang tampan
Dengan wajah selalu tersenyum dan
Jauh dari kesan sombong
Memiliki wibawa yang tinggi
Santun kepadaku
Dialah bintang kelasku di semester satu
Kelompok dia yang sering kupilih untuk maju
Menjelaskan materi yang sudah ku tentukan
Untuk matakuliah yang ku asuh semester dua yll
Edho Akmal adalah teman kelompoknya
Dia pandai menjelaskan sesuatu di depan kelas
Ketika ketemu bahan yang baru dan sulit
Serta belum terpahami saat itu
Dengan senang hati mereka maju kembal minggu depan
Dengan materi sudah terpahami
Hasil ujiannyapun kembali jadi yang tertinggi denganku
Kepergian Rahmat Kurniawan
Membuat perasaanku bercampur aduk
Antara sedih dan bangga
Sedih karena aku kehilangan bintang kelas
Bangga karena aku pernah jadi dosennya
Selamat berjuang ditempat baru Rahmat Kurniawan
Semoga sukses dan tetap menjadi yang terbaik
Bengkulu, 13 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Aku disambut senyum cerah
Ketika aku memasuki ruangan yang berisi
Sekelompok mahasiswa yang sedang berkumpul
Mereka kebetulan yang mendapat nilai A
Untuk matakuliah yang ku asuh semester yang lalu
“ Mana si Edho Akmal ?” tanyaku
“ Kok nilainya tak seperti yang saya harapkan ya? “
“ Tidak tau bu, mungkin pindah
Si Rahmat Kurniawan pindah ke UNDIP bu
Ke Jurusan Teknik Sipil
Sekarang dia sudah ke UNDIP ” kata mereka
Rahmat Kurniawan seorang mahasiswa yang tampan
Dengan wajah selalu tersenyum dan
Jauh dari kesan sombong
Memiliki wibawa yang tinggi
Santun kepadaku
Dialah bintang kelasku di semester satu
Kelompok dia yang sering kupilih untuk maju
Menjelaskan materi yang sudah ku tentukan
Untuk matakuliah yang ku asuh semester dua yll
Edho Akmal adalah teman kelompoknya
Dia pandai menjelaskan sesuatu di depan kelas
Ketika ketemu bahan yang baru dan sulit
Serta belum terpahami saat itu
Dengan senang hati mereka maju kembal minggu depan
Dengan materi sudah terpahami
Hasil ujiannyapun kembali jadi yang tertinggi denganku
Kepergian Rahmat Kurniawan
Membuat perasaanku bercampur aduk
Antara sedih dan bangga
Sedih karena aku kehilangan bintang kelas
Bangga karena aku pernah jadi dosennya
Selamat berjuang ditempat baru Rahmat Kurniawan
Semoga sukses dan tetap menjadi yang terbaik
Bengkulu, 13 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Sabtu, 08 Agustus 2009
NYARIS JATUH
NYARIS JATUH
“ Ma aku nanti ke Padang tanggal 8 jam 21 WIB “
Begitu bunyi SMS dari Fadilla waktu itu dari Jakarta
“ Wah malam-malam, cari yang siang aja
Biarlah harganya lebih mahal “ kataku membalas
“ Biarlah ma, jangan khawatir … “ jawabnya lagi
Kubiarkan dia liburan di Jakarta
Boar dia punya modal sebelum masuk asrama
Dari Jakarta Fadilla langsung menuju Padang
“ Hemat energi “ katanya
Sebelum meninggalkan rumah kakakku
Ku beritahu dia apa yang harus dia lakukan
Mulai dari berberes-beres
Sampai meminta maaf kalau ada kesalahan
Setelah Magrib Fadilla sudah di Bandara Cengkareng
Jadwal yang semula pukul 19 di tunda ke pukul 21 WIB
Pukul 21 di tunda lagi jadi pukul 22 WIB
Oukul 22.05 Fadilla sudah berada dipesawat
Setelah pukul 23
SMS dari Fadilla belum datang juga
Pukul 23.30 ku SMS adikku yang menunggu di Padang
“ Belum sampai katanya “
Tapacak peluhku seketika
Melayang rasanya perasaanku
Kumatikan Komputer lalu aku tak berhenti berdoa
“ Lahaula Walakuata Illabillah
Subhanalla
Walhamdulillah
Wa Lailla ha Illallah
Allahu Akbar
Ya Allah selamatkanlah perjalanan Fadilla “
Serasa mau copot jantung didada
Pukul 23.47 datang pesan dari adikku
“ alah tibo, Alhamdulillah “
“ Fadilla bagaimana berjalan malam ?
Apa bisa melihat pemandangan ? “
Tanyaku pada Fadilla
“Nyaris mati, suer, dak ngicu.
Wajar mama cemas.
Sekarang dah sampai. Antri keluar. “
“Apa yang terjadi ?” tanyaku
“mw jatuh” jawabnya
“ Apa orang-orang pada nangis?” tanyaku
“Nggak…. Pada ngucap semua “ jawabnya
“ Alhamdulillah akhirnya selamat “ jawabku
Akupun tertidur dengan lelap
Ngak kebayang
Kalau Allah berkehendak lain
Sepertinya akupun akan turut serta
Serasa copot nafas di dada
Pagi tadi kutanya lagi bagaimana kejadiannya
Sampai saat ini pesanku belum dibalasnya
Kucoba buka FBnya
Belum nulis lagi Fadilla
Bengkulu, 9 Agustus 2009
Hanifah Damnhuri
“ Ma aku nanti ke Padang tanggal 8 jam 21 WIB “
Begitu bunyi SMS dari Fadilla waktu itu dari Jakarta
“ Wah malam-malam, cari yang siang aja
Biarlah harganya lebih mahal “ kataku membalas
“ Biarlah ma, jangan khawatir … “ jawabnya lagi
Kubiarkan dia liburan di Jakarta
Boar dia punya modal sebelum masuk asrama
Dari Jakarta Fadilla langsung menuju Padang
“ Hemat energi “ katanya
Sebelum meninggalkan rumah kakakku
Ku beritahu dia apa yang harus dia lakukan
Mulai dari berberes-beres
Sampai meminta maaf kalau ada kesalahan
Setelah Magrib Fadilla sudah di Bandara Cengkareng
Jadwal yang semula pukul 19 di tunda ke pukul 21 WIB
Pukul 21 di tunda lagi jadi pukul 22 WIB
Oukul 22.05 Fadilla sudah berada dipesawat
Setelah pukul 23
SMS dari Fadilla belum datang juga
Pukul 23.30 ku SMS adikku yang menunggu di Padang
“ Belum sampai katanya “
Tapacak peluhku seketika
Melayang rasanya perasaanku
Kumatikan Komputer lalu aku tak berhenti berdoa
“ Lahaula Walakuata Illabillah
Subhanalla
Walhamdulillah
Wa Lailla ha Illallah
Allahu Akbar
Ya Allah selamatkanlah perjalanan Fadilla “
Serasa mau copot jantung didada
Pukul 23.47 datang pesan dari adikku
“ alah tibo, Alhamdulillah “
“ Fadilla bagaimana berjalan malam ?
Apa bisa melihat pemandangan ? “
Tanyaku pada Fadilla
“Nyaris mati, suer, dak ngicu.
Wajar mama cemas.
Sekarang dah sampai. Antri keluar. “
“Apa yang terjadi ?” tanyaku
“mw jatuh” jawabnya
“ Apa orang-orang pada nangis?” tanyaku
“Nggak…. Pada ngucap semua “ jawabnya
“ Alhamdulillah akhirnya selamat “ jawabku
Akupun tertidur dengan lelap
Ngak kebayang
Kalau Allah berkehendak lain
Sepertinya akupun akan turut serta
Serasa copot nafas di dada
Pagi tadi kutanya lagi bagaimana kejadiannya
Sampai saat ini pesanku belum dibalasnya
Kucoba buka FBnya
Belum nulis lagi Fadilla
Bengkulu, 9 Agustus 2009
Hanifah Damnhuri
MAIN KARTU REMI
MAIN KARTU REMI
Listrik mati
Kalau terjadi
Waktunya lama sekali
Kegelisahan terjadi
Gelisah tak bisa melakukan sesuatu
Yang energinya berasal dari tenaga listrik
Gelisah tak bisa melakukan sesuatu
Yang penerangannya menggunakan lampu listrik
Listrik mati
Kalau terjadi
Waktunya lama sekali
Di cari cara menghibur hati
Suatu hari di jam kantor
Listrik mati lama sekali
Apa yang di dilakukan pekerja kantor
Menggelar permainan remi
Kartu di kocok lalu di bagikan
Pemainnya duduk berhadapan
Semua perempuan
Di ruangan yang sedang di tinggalkan
Aku tertawa pada mereka
Dalam hati ingin ikut pula
Terbayang masa jelang remaja
Main remi bersama teman sebaya
Main cangkul
Main 41
Main remi
Jenis permainan yang ku tahu
Jenis permainan yang dipilih
Tergantung situasi
Paling asyik main 41
Kalau pemain ada berempat
Susah sekali mengumpulkan nilai
Yang jumlahnya 41
Ketika menyatakn coki
Tangan di jentik kelantai
Sambil berkata “coki”
Kadang kita yang “coki”, tapi orang yang “sampai“
Lain candunya main remi
Catatan pelajaran berobah jadi catatan remi
Permainan berhenti
Kalau hitungan sudah sampai
Hampir saja permainan remi
Yang menyita waktu belajar
Kalau tidak cepat dihentikan orang tua kami
Akan mengganggu hasil belajar
Bengkulu, 8 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Listrik mati
Kalau terjadi
Waktunya lama sekali
Kegelisahan terjadi
Gelisah tak bisa melakukan sesuatu
Yang energinya berasal dari tenaga listrik
Gelisah tak bisa melakukan sesuatu
Yang penerangannya menggunakan lampu listrik
Listrik mati
Kalau terjadi
Waktunya lama sekali
Di cari cara menghibur hati
Suatu hari di jam kantor
Listrik mati lama sekali
Apa yang di dilakukan pekerja kantor
Menggelar permainan remi
Kartu di kocok lalu di bagikan
Pemainnya duduk berhadapan
Semua perempuan
Di ruangan yang sedang di tinggalkan
Aku tertawa pada mereka
Dalam hati ingin ikut pula
Terbayang masa jelang remaja
Main remi bersama teman sebaya
Main cangkul
Main 41
Main remi
Jenis permainan yang ku tahu
Jenis permainan yang dipilih
Tergantung situasi
Paling asyik main 41
Kalau pemain ada berempat
Susah sekali mengumpulkan nilai
Yang jumlahnya 41
Ketika menyatakn coki
Tangan di jentik kelantai
Sambil berkata “coki”
Kadang kita yang “coki”, tapi orang yang “sampai“
Lain candunya main remi
Catatan pelajaran berobah jadi catatan remi
Permainan berhenti
Kalau hitungan sudah sampai
Hampir saja permainan remi
Yang menyita waktu belajar
Kalau tidak cepat dihentikan orang tua kami
Akan mengganggu hasil belajar
Bengkulu, 8 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Kamis, 06 Agustus 2009
TAHUN PENUH BERKAH
TAHUN PENUH BERKAH
Tinggal menghitung hari
Datangnya bulan suci Ramadhan yang dinanti
Bulan penuh berkah Illahi
Kesempatan untuk memperbaiki diri
Kesempatan untuk jadi lebih baik lagi
Berharap semua dosa diampuni
Ku berharap bisa bertemu bulan suci yang dinanti
Tahun ini untukku pribadi
Tahun penuh berkah Illahi
Tahun tebuangnya penyakit dari tubuh ini
Yang telah lama bersemayam di rahimku ini
Tahun ini untukku pribadi
Tahun dimana aku merasa di kasihi
Oleh orang-orang yang kusayangi dan
Orang-orang yang menyayangi
Tahun ini untukku pribadi
Banyak kemudahan yang kutemui
Baik urusan anak maupun urusanku pribadi
Termasuk mengajar mahasiswa dan mahasiswi
Dalam kondisi suara lemah, mata sayu dan tak kuat berdiri
Engkau gerakkan hati mahasisaku untuk menggati
Menulis dan berbicara sampai semua mengerti
Sementara aku duduk memandang di kursi
Satu lagi tugas yang harus ku jalani
Tugas yang di fakultas lain harus berkompetisi
Membuat dosen lain mungkin iri
Aku salah satu senator universitas padusi
Barusan ku selesikan tugas ku ini
Mengoreksi semua pekerjaan mahasiswa dan mahasiswi
Nilai mereka bervariasi
Sesuai prestasi
Alhamdulillah Ya Rabbi
Tanpa pertolonganMu Ya Rabbi
Tak mungkin aku sanggup menjalani
Liku-liku hidup yang tak mudah ini
Bengkulu, 7 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Tinggal menghitung hari
Datangnya bulan suci Ramadhan yang dinanti
Bulan penuh berkah Illahi
Kesempatan untuk memperbaiki diri
Kesempatan untuk jadi lebih baik lagi
Berharap semua dosa diampuni
Ku berharap bisa bertemu bulan suci yang dinanti
Tahun ini untukku pribadi
Tahun penuh berkah Illahi
Tahun tebuangnya penyakit dari tubuh ini
Yang telah lama bersemayam di rahimku ini
Tahun ini untukku pribadi
Tahun dimana aku merasa di kasihi
Oleh orang-orang yang kusayangi dan
Orang-orang yang menyayangi
Tahun ini untukku pribadi
Banyak kemudahan yang kutemui
Baik urusan anak maupun urusanku pribadi
Termasuk mengajar mahasiswa dan mahasiswi
Dalam kondisi suara lemah, mata sayu dan tak kuat berdiri
Engkau gerakkan hati mahasisaku untuk menggati
Menulis dan berbicara sampai semua mengerti
Sementara aku duduk memandang di kursi
Satu lagi tugas yang harus ku jalani
Tugas yang di fakultas lain harus berkompetisi
Membuat dosen lain mungkin iri
Aku salah satu senator universitas padusi
Barusan ku selesikan tugas ku ini
Mengoreksi semua pekerjaan mahasiswa dan mahasiswi
Nilai mereka bervariasi
Sesuai prestasi
Alhamdulillah Ya Rabbi
Tanpa pertolonganMu Ya Rabbi
Tak mungkin aku sanggup menjalani
Liku-liku hidup yang tak mudah ini
Bengkulu, 7 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Rabu, 05 Agustus 2009
FENOMENA MBAH SURIP
FENOMENA MBAH SURIP
Sambil ngoreksi kertas ujian-ujian mahasiswa
Yang terpaksa kutumpuk selama satu semester
Karena aku kesulitan membaca dan memahami
Tulisan para mahasiswa akibat kondisiku yang buruk
Mataku kadang ku alihkan ke layar TV
Waktu itu sedang diliput kecelakaan KA di Bogor
Di saat semua mata tertuju menyaksikan berita KA
Tiba-tiba muncul berita tak terduga
Mbah Surip barusan meninggal dunia
Aku terbelalak tak percaya
Ku SMS Jepe dan mengabarkan berita duka
Aku yakin Jepe pasti juga terkejut seperti aku
Apalagi Jepe barusan beberapa hari yang lalu
Menurunkan tulisan tentang mbah Surip
Aku mulai menonton mbah Surip
Setelah membaca tulisan Jepe
Yang sangat menarik untuk dibaca
Aku ingin membuktikan cerita Jepe tersebut
Ku tunggu tunggu nyanyian “ Bangun Tidur “
Yang kusaksikan hanya nyanyian “ Tak Gendong “
Tetap ku saksikan setiap mbah Surip muncul di TV
Sambil berfikir dimana letak indahnya nyanyian ini
Sejak pertama berita kematian mbah Surip
Sepertinya TV di Chanel manapun sedang berduka
Sampai hari ini mbah Surip masih jadi berita utama
Mengalahkan berita penting lainnya
Sayup-sayup ku dengar nyanyian “ Bangun Tidur “
Yang telah ku nanti-nanti selam ini
Ketika mendengarkan nyanyian tersebut
Ingatanku melayang ke masa kuliah di IKIP Padang
Terbayang kelompok teater FPBS
Salah seorang anggotanya adalah temanku sejak kecil
Yang mengajakku menyaksikan mereka berlatih
Salah satu nyanyian mereka
“ Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tidur lagi
Malas kerja karna kurang gizi “
Aku tak habis pikir
Mungkin itu rahasia Tuhan
Mbah Surip yang tak pernah ku kenal sebelumnya
Tiba-tiba terkenal namanya
Lalu di saat sangat terkenal
Nyawanya di ambil Yang Kuasa
Innalillahi Wa Innalillahi Rajiun
Semua orang tanpa batas usia dan status sosial
Merasa kehilangan mbah Surip
Dan memanjatkan doa
Untuk mengiringi kepergiannya
Menghadap Yang Maha Kuasa
Mbah Surip jadi fenomena
Bengkulu, 6 Agustus 2008
Hanifah Damanhuri
Sambil ngoreksi kertas ujian-ujian mahasiswa
Yang terpaksa kutumpuk selama satu semester
Karena aku kesulitan membaca dan memahami
Tulisan para mahasiswa akibat kondisiku yang buruk
Mataku kadang ku alihkan ke layar TV
Waktu itu sedang diliput kecelakaan KA di Bogor
Di saat semua mata tertuju menyaksikan berita KA
Tiba-tiba muncul berita tak terduga
Mbah Surip barusan meninggal dunia
Aku terbelalak tak percaya
Ku SMS Jepe dan mengabarkan berita duka
Aku yakin Jepe pasti juga terkejut seperti aku
Apalagi Jepe barusan beberapa hari yang lalu
Menurunkan tulisan tentang mbah Surip
Aku mulai menonton mbah Surip
Setelah membaca tulisan Jepe
Yang sangat menarik untuk dibaca
Aku ingin membuktikan cerita Jepe tersebut
Ku tunggu tunggu nyanyian “ Bangun Tidur “
Yang kusaksikan hanya nyanyian “ Tak Gendong “
Tetap ku saksikan setiap mbah Surip muncul di TV
Sambil berfikir dimana letak indahnya nyanyian ini
Sejak pertama berita kematian mbah Surip
Sepertinya TV di Chanel manapun sedang berduka
Sampai hari ini mbah Surip masih jadi berita utama
Mengalahkan berita penting lainnya
Sayup-sayup ku dengar nyanyian “ Bangun Tidur “
Yang telah ku nanti-nanti selam ini
Ketika mendengarkan nyanyian tersebut
Ingatanku melayang ke masa kuliah di IKIP Padang
Terbayang kelompok teater FPBS
Salah seorang anggotanya adalah temanku sejak kecil
Yang mengajakku menyaksikan mereka berlatih
Salah satu nyanyian mereka
“ Bangun tidur kuterus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tidur lagi
Malas kerja karna kurang gizi “
Aku tak habis pikir
Mungkin itu rahasia Tuhan
Mbah Surip yang tak pernah ku kenal sebelumnya
Tiba-tiba terkenal namanya
Lalu di saat sangat terkenal
Nyawanya di ambil Yang Kuasa
Innalillahi Wa Innalillahi Rajiun
Semua orang tanpa batas usia dan status sosial
Merasa kehilangan mbah Surip
Dan memanjatkan doa
Untuk mengiringi kepergiannya
Menghadap Yang Maha Kuasa
Mbah Surip jadi fenomena
Bengkulu, 6 Agustus 2008
Hanifah Damanhuri
Minggu, 02 Agustus 2009
ENDINA PUTRI
ENDINA PUTRI
Sudah setahun yang lalu Endina Putri di Wisuda
Saat itu Endina berhasil menjadi mahasiswa teladan
Yang lulus dengan Predikat Pujian
Kamipun sebagai dosen-dosennya merasa tersanjung
Endina Putri adalah alumni Teknik Informatika FT UNIB
Angkatan ke-2 yang masuk tahun 2004
Semua dosen yang pernah mengajar di TI
Sejak dari angkatan I sampai angkatan V
Sepakat bahwa angkatan ke-2 adalah angkatan terbaik
Endina Putri berwajah manis dan bertubuh mungil
Masih terbayang ketika aku jadi dosennya
Tugas apa saja yang kuberikan padanya
Selalu dilakukannya dengan sempurna
Kadang-kadang tugas kelompok yang ku berikan
Membuat Endina dan teman-temannya
Mesti bekerja keras dan kadang
Harus belajar sendiri atau belajar berkelompok
Beruntungnya aku sebagai dosen
Karena antar kelompok di kelas tersebut
Ingin tampil luar biasa
Mereka berlomba-lomba
Menjadi yang terbaik di kelas
Tak jarang diantara mereka
Sudah punya jejaring untuk bertanya
Kadang mereka mencari buku sampai ke Jawa
Tugasku tinggal mendorong mereka
Agar bekerja sebaik-baiknya dan
Memberika pengarahan di bagian tertentu
Ketika tiba giliran menilai
Biar tidak salah dalam penilaian
Setiap kelompok ku ajak serta
Untuk menilai kerjaan kelompok lainnya
Tak jarang tugas-tugas mereka
Ku perlihatkan kepada adik-adik tingkatnya
Untuk di teladani sambil kukatakan pada mereka
“ Kerjakanlah tugas apapun sebaik mungkin
Seperti yang dicontahkan kakak kelas kalian
Kemanapun kalian terlempar nanti
Kalian tidak akan canggung lagi “
Ku katakan juga padanya
“ Mbak Arie Vatresia dan mbak Ruvita angkatan I
Yang jadi dosen kalian sekarang
Serta kak Andriansyah yang tercepat tamatnya dan
Sekarang bertugas di Telkom Palembang
Ketika jadi mahasiswa adalah pekerja keras dan
Memiliki pergaulan yang luas di dunia maya
Untuk dijadikan tempat bertanya “
Lama menghilang dari pandangan mata
Tiba-tiba kami dapat berita suka cita
Endina Putri mahasiswi kebanggaan kami
Di terima di MIK FASILKOM UI
Dia mengikuti jejak mbak Arie Vatresia
Yang duluan masuk ke MTI FASIKOM UI
Alhamdulillah
Dengan segala keterbatasan
Baik dari sisi staf pengajar maupun sarana
Endina masuk ke FASILKOM UI
Selamat belajar Endina Putri
Semoga berhasil dan mendapat pujian
Semoga kelak bisa mengikuti jejak mamamu Dr Endang Widi
Doa kami menyertaimu
Bengkulu, 2 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Sudah setahun yang lalu Endina Putri di Wisuda
Saat itu Endina berhasil menjadi mahasiswa teladan
Yang lulus dengan Predikat Pujian
Kamipun sebagai dosen-dosennya merasa tersanjung
Endina Putri adalah alumni Teknik Informatika FT UNIB
Angkatan ke-2 yang masuk tahun 2004
Semua dosen yang pernah mengajar di TI
Sejak dari angkatan I sampai angkatan V
Sepakat bahwa angkatan ke-2 adalah angkatan terbaik
Endina Putri berwajah manis dan bertubuh mungil
Masih terbayang ketika aku jadi dosennya
Tugas apa saja yang kuberikan padanya
Selalu dilakukannya dengan sempurna
Kadang-kadang tugas kelompok yang ku berikan
Membuat Endina dan teman-temannya
Mesti bekerja keras dan kadang
Harus belajar sendiri atau belajar berkelompok
Beruntungnya aku sebagai dosen
Karena antar kelompok di kelas tersebut
Ingin tampil luar biasa
Mereka berlomba-lomba
Menjadi yang terbaik di kelas
Tak jarang diantara mereka
Sudah punya jejaring untuk bertanya
Kadang mereka mencari buku sampai ke Jawa
Tugasku tinggal mendorong mereka
Agar bekerja sebaik-baiknya dan
Memberika pengarahan di bagian tertentu
Ketika tiba giliran menilai
Biar tidak salah dalam penilaian
Setiap kelompok ku ajak serta
Untuk menilai kerjaan kelompok lainnya
Tak jarang tugas-tugas mereka
Ku perlihatkan kepada adik-adik tingkatnya
Untuk di teladani sambil kukatakan pada mereka
“ Kerjakanlah tugas apapun sebaik mungkin
Seperti yang dicontahkan kakak kelas kalian
Kemanapun kalian terlempar nanti
Kalian tidak akan canggung lagi “
Ku katakan juga padanya
“ Mbak Arie Vatresia dan mbak Ruvita angkatan I
Yang jadi dosen kalian sekarang
Serta kak Andriansyah yang tercepat tamatnya dan
Sekarang bertugas di Telkom Palembang
Ketika jadi mahasiswa adalah pekerja keras dan
Memiliki pergaulan yang luas di dunia maya
Untuk dijadikan tempat bertanya “
Lama menghilang dari pandangan mata
Tiba-tiba kami dapat berita suka cita
Endina Putri mahasiswi kebanggaan kami
Di terima di MIK FASILKOM UI
Dia mengikuti jejak mbak Arie Vatresia
Yang duluan masuk ke MTI FASIKOM UI
Alhamdulillah
Dengan segala keterbatasan
Baik dari sisi staf pengajar maupun sarana
Endina masuk ke FASILKOM UI
Selamat belajar Endina Putri
Semoga berhasil dan mendapat pujian
Semoga kelak bisa mengikuti jejak mamamu Dr Endang Widi
Doa kami menyertaimu
Bengkulu, 2 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Langganan:
Postingan (Atom)