JANGAN BERSEDIH BUNDO
Bundo yang lagi gundah
Resah
Gelisah
Melihat polah
Kaula muda yang bertingkah
Mengusik usik budaya Ranah
Bundo yang masih jelita di usia senja
Lebih baik sabar saja
Selagi masih ada lelaki Ranah
Yang menyayangi bundanya
Yang menyayangi saudara wanitanya
Selama itu pula
Budaya Ranah yang kita cinta
Tetap abadi di dunia
Jangan bersedih bundo
Bundo yang mewarisi pusako
Lihatlah disekeliling kita
Dimana mana di Indonesia
Orang berebut harta pusaka
Tak sedikit darah yang tertumpah
Tak sedikit nyawa yang melayang
Entah apa sebabnya
Dengarlah aku bundo
Di sukuku
Di kampungku
Ada juga yang serakah
Menghalalkan segala cara
Supaya semua jadi miliknya
Walau kepemilikan sudah di tata
Tanah hibah disikatnya juga
Biarlah Allah yang menghukumnya
Begitu doa orang semua
Langkah pengamanan oleh kakakku
Mengsertifikat semua pusaka
Atas nama mama atau nama kakak mama
Apalagi tak satupun diantara kami
Yang menetap dikampung
Langkah ini sangat menentramkan hati
Cobalah bundo
Perhatikanlah baik-baik bundo
Renungkanlah
Siapa yang paling sibuk mengupas pusako
Tak peduli penjelasan siapapun
Tak peduli tak ilmiah sekalipun
Dengan alasan sorga dan neraka
Puiihhhh
Aku tak percaya
Kalau tak ada rencana
Paling tidak
Balas dendam untuk keluarga
Bengkulu, 28 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Kamis, 28 Februari 2008
PESTA MAIRIAK DISAWAH BAKO
PESTA MAIRIAK DISAWAH BAKO
Sawah bakoku
Tak jauh dari rumahku
Dan bisa kupandang dari jendela rumah
Pemandangan yang indah
Ketika padi mulai meninggi
Berbuah dan menguning
Sawah bakoku ada beberapa tumpak
Ada yang milik nenekku saja
Ada yang milik saudara nenekku saja
Ada yang milik bersama
Nenek dan etekku merantau
Yang tinggal dikampuang saat itu
Papaku dan sepupu perempuannya
Sawah nenekku digarap papaku
Sawah bersama digarap oleh sepupu papaku
Dimusim padi
Ketika padi mulai berisi
Dan sawah harus dijaga
Dari burung- burung dan ayam
Aku sering diajak bakoku
Yang usianya tiga tahun diatasku
Ikut bersamanya manggora
Sambil manggora
Kami bermain
Kadang main layangan
Kadang main lore dihalaman rumah dekat sawah
Kadang main sembunyi-sembunyian bersama teman lain
Dan lain sebagainya mengikuti musim
Masa anak-anak
Masa yang indah
Tiada hari tanpa bermain
Ketika padi sudah sempurna menguning
Padi di sabit
Hasil sabitan
Di tumpuk membentuk balok
Tangkai yang berisi padi
Berada di tengah tengah
Sehingga buah padi tidak akan dimakan ayam
Tumpukkan ini dibiarkan dua malam
Tibalah saatnya padi diriak
Yaitu melepas buah padi dari batangnya (jerami)
Acara mairiak ini dibikin meriah oleh bakoku
Kaluarga besar bako
Keluarga besar papa
Beserta yang membantu mairiak
Berkumpul disawah
Yang laki-laki mengambil segumpalan batang padi
Dengan bertumpu pada dua tongkat
Para lelaki menginjak-injak padi tersebut
Sekilas kelihatan seperti menari
Setelah merasa padi sudah lepas dari jerami semua
Yang perempuan mengisai jerami tersebut
Setelah dirasa tidak ada lagi padi yang menyangkut
Jerami di lempar ditumpuk yang kadang membentuk gunung
Biasanya anak-anak akan bermain di tumpukkan jerami
Main guling-gulingan, loncat loncatan dan sebagainya
Tiba satnya makan bersama
Daun pisang di tata untuk makan berjamba
Lelaki sama lelaki
Perempuan sama perempuan
Anak-anak makan sendiri
Sambil makan bercengkerama juga
Semua wajah terlihat gembira
Makanan yang ada tandas semua
Nikmat, nikmat, nikmat sekali
Makan ketika panen padi
Nikmatnya melebihi pesta dimanapun
Tahun bertukar
Musim berganti
Sepupu papapun merantau semua
Hingga papalah yang menggarap sawah itu
Pesta mairiak disawah bako
Tak lagi semeriah dulu
Waktu terus bergulir
Anak-anak papapun
Satu persatu tinggalkan kampung
Adik-adik serta sepupu papa beserta keturunannya
Larek dirantau orang
Dengan sawah yang baru
Yang lebih luas dan luas
Yang menjamin masa depan
Anak-anak dan keturunan
Hingga sawah bako
Di garap orang lain
Ketika papa masih ada
Kulihat sawah bako
Sudah berpematang
Tanda dibagi bagi
Papa sudah membaginya
Mana bagian nenekku
Mana bagian saudara nenekku
Papa sendiri
Tidak membawa
Sawah bako kerumah kami
Bengkulu, 26 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Sawah bakoku
Tak jauh dari rumahku
Dan bisa kupandang dari jendela rumah
Pemandangan yang indah
Ketika padi mulai meninggi
Berbuah dan menguning
Sawah bakoku ada beberapa tumpak
Ada yang milik nenekku saja
Ada yang milik saudara nenekku saja
Ada yang milik bersama
Nenek dan etekku merantau
Yang tinggal dikampuang saat itu
Papaku dan sepupu perempuannya
Sawah nenekku digarap papaku
Sawah bersama digarap oleh sepupu papaku
Dimusim padi
Ketika padi mulai berisi
Dan sawah harus dijaga
Dari burung- burung dan ayam
Aku sering diajak bakoku
Yang usianya tiga tahun diatasku
Ikut bersamanya manggora
Sambil manggora
Kami bermain
Kadang main layangan
Kadang main lore dihalaman rumah dekat sawah
Kadang main sembunyi-sembunyian bersama teman lain
Dan lain sebagainya mengikuti musim
Masa anak-anak
Masa yang indah
Tiada hari tanpa bermain
Ketika padi sudah sempurna menguning
Padi di sabit
Hasil sabitan
Di tumpuk membentuk balok
Tangkai yang berisi padi
Berada di tengah tengah
Sehingga buah padi tidak akan dimakan ayam
Tumpukkan ini dibiarkan dua malam
Tibalah saatnya padi diriak
Yaitu melepas buah padi dari batangnya (jerami)
Acara mairiak ini dibikin meriah oleh bakoku
Kaluarga besar bako
Keluarga besar papa
Beserta yang membantu mairiak
Berkumpul disawah
Yang laki-laki mengambil segumpalan batang padi
Dengan bertumpu pada dua tongkat
Para lelaki menginjak-injak padi tersebut
Sekilas kelihatan seperti menari
Setelah merasa padi sudah lepas dari jerami semua
Yang perempuan mengisai jerami tersebut
Setelah dirasa tidak ada lagi padi yang menyangkut
Jerami di lempar ditumpuk yang kadang membentuk gunung
Biasanya anak-anak akan bermain di tumpukkan jerami
Main guling-gulingan, loncat loncatan dan sebagainya
Tiba satnya makan bersama
Daun pisang di tata untuk makan berjamba
Lelaki sama lelaki
Perempuan sama perempuan
Anak-anak makan sendiri
Sambil makan bercengkerama juga
Semua wajah terlihat gembira
Makanan yang ada tandas semua
Nikmat, nikmat, nikmat sekali
Makan ketika panen padi
Nikmatnya melebihi pesta dimanapun
Tahun bertukar
Musim berganti
Sepupu papapun merantau semua
Hingga papalah yang menggarap sawah itu
Pesta mairiak disawah bako
Tak lagi semeriah dulu
Waktu terus bergulir
Anak-anak papapun
Satu persatu tinggalkan kampung
Adik-adik serta sepupu papa beserta keturunannya
Larek dirantau orang
Dengan sawah yang baru
Yang lebih luas dan luas
Yang menjamin masa depan
Anak-anak dan keturunan
Hingga sawah bako
Di garap orang lain
Ketika papa masih ada
Kulihat sawah bako
Sudah berpematang
Tanda dibagi bagi
Papa sudah membaginya
Mana bagian nenekku
Mana bagian saudara nenekku
Papa sendiri
Tidak membawa
Sawah bako kerumah kami
Bengkulu, 26 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Senin, 25 Februari 2008
SELAMAT JALAN SANG MOTIVATOR
SELAMAT JALAN SANG MOTIVATOR
Ketika sedang membimbing mahasiswa
Ponselku berdering
Kubaca SMS dari keluarga bapak Chaidir
Yang mengabarkan beliau telah berpulang
Innalillahi Wa Ina illaihi Rojiun
Selamat Jalan Bapak Chaidir yang tercinta
Semoga Allah menempatkanmu
Di tempat yang terbaik disisi Mu ya Allah
Aku balas SMS tanda turut berduka
Kurasakan konsentrasiku buyar
Ku bubarkan mahasiswa
Meminta mereka untuk datang lain kali saja
Ingatanku melayang ketika pertama
Bercengkerama dengan beliau di dunia maya
Betapa aku terkagum kagum padanya
Di usia jelang 80 tahun
Masih bisa menangkap dan merespon
Sebagian besar tulisan di milis RN ini
Ketuaan terlihat
Dari seringnya salah ketik huruf
Namun masih bisa kita pahami maksudnya
Pernah aku dipujinya
Pernah juga aku dimarahinya
Hal yang sama beliau lakuan juga
Untuk generasi muda yang lain
Semua dia lakukan
Untuk kebaikan Ranahminang yang tercinta
Begitu cintanya pada Ranah
Bisa kita rasakan
Semangat yang menyala didadanya
Melebihi semangat 45
Walau dalam keadaan sakit
Ketika jarinya masih bisa digerakkannya
Ketika matanya masih bisa membaca
Kita dibuat terpana
Masih berada di rumah sakit
Beliau sudah ngenet
Memotivasi para kaula muda
Berjuang demi Ranahminang tercinta
Bangkit dari keterpurukan
Keterpurukan di segala bidang
Ku ingat kembali
Betapa risaunya beliau
Ketika ku beritahu
Anak Dekan FE UNIB Bengkulu
Yang bersekolah di SLTA Jakarta
Dapat Medali
Pada Olimpiade robot (?)
“ Urang alah maju juo taruih
Awak pabilo ? “
Begitu katanya
Begitu juga katanya
Melihat kemajuan orang lain
Di segala bidang
Kegelisahan
Kegundahan
Serta semangatnya yang tinggi
Mestinya membikin malu generasi muda
Malu melempem
Beberapa generasi muda
Ada yang malu
Lalu berpacu
Mencoba memahami
Apa yang beliau mau
Yang membuatnya sedikit terhibur
Terhibur di ujung hayatnya
Semoga saja beliau pergi
Dengan hati yang damai
Selamat Jalan sang motivator
Bengkulu, 25 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Be
Ketika sedang membimbing mahasiswa
Ponselku berdering
Kubaca SMS dari keluarga bapak Chaidir
Yang mengabarkan beliau telah berpulang
Innalillahi Wa Ina illaihi Rojiun
Selamat Jalan Bapak Chaidir yang tercinta
Semoga Allah menempatkanmu
Di tempat yang terbaik disisi Mu ya Allah
Aku balas SMS tanda turut berduka
Kurasakan konsentrasiku buyar
Ku bubarkan mahasiswa
Meminta mereka untuk datang lain kali saja
Ingatanku melayang ketika pertama
Bercengkerama dengan beliau di dunia maya
Betapa aku terkagum kagum padanya
Di usia jelang 80 tahun
Masih bisa menangkap dan merespon
Sebagian besar tulisan di milis RN ini
Ketuaan terlihat
Dari seringnya salah ketik huruf
Namun masih bisa kita pahami maksudnya
Pernah aku dipujinya
Pernah juga aku dimarahinya
Hal yang sama beliau lakuan juga
Untuk generasi muda yang lain
Semua dia lakukan
Untuk kebaikan Ranahminang yang tercinta
Begitu cintanya pada Ranah
Bisa kita rasakan
Semangat yang menyala didadanya
Melebihi semangat 45
Walau dalam keadaan sakit
Ketika jarinya masih bisa digerakkannya
Ketika matanya masih bisa membaca
Kita dibuat terpana
Masih berada di rumah sakit
Beliau sudah ngenet
Memotivasi para kaula muda
Berjuang demi Ranahminang tercinta
Bangkit dari keterpurukan
Keterpurukan di segala bidang
Ku ingat kembali
Betapa risaunya beliau
Ketika ku beritahu
Anak Dekan FE UNIB Bengkulu
Yang bersekolah di SLTA Jakarta
Dapat Medali
Pada Olimpiade robot (?)
“ Urang alah maju juo taruih
Awak pabilo ? “
Begitu katanya
Begitu juga katanya
Melihat kemajuan orang lain
Di segala bidang
Kegelisahan
Kegundahan
Serta semangatnya yang tinggi
Mestinya membikin malu generasi muda
Malu melempem
Beberapa generasi muda
Ada yang malu
Lalu berpacu
Mencoba memahami
Apa yang beliau mau
Yang membuatnya sedikit terhibur
Terhibur di ujung hayatnya
Semoga saja beliau pergi
Dengan hati yang damai
Selamat Jalan sang motivator
Bengkulu, 25 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Be
Kamis, 21 Februari 2008
PAHAM ADAT, PAHAM AGAMA
PAHAM ADAT, PAHAM AGAMA
Ku ingat pesan Prof Moedomo padaku dulu
Ketika dia membinaku
Aku belajar Analisi Riil padanya
Beliau Ahli Analisis Riil yang terkemuka
Di Jurusan Matematika ITB
“ Kalau ingin melihat indahnya
Pertandingan bola kaki.
Taroklah kamera di atas.
Jangan setara kaki,
Kalau tidak demikian
Yang akan terlihat adalah
Kaki yang berseliweran “
Analog dengan pernyataannya
Sesuai pula dengan pesan
Anak pisang kami
“ Kalau ingin mengupas ABS SBK
Mestilah orang itu
Paham Adat, Paham Agama “
Seperti penghulu kami dimasalalu
Biar tidak terjadi perang saudara
Yang paham adat dengan yang paham agama
Dimana yang seperti itu kini ?
Kemana kita cari ?
Mungkinkah ada di perguruan tinggi ?
Bagaimana kalau ada di Nagari ?
Bagaimana cara mencari ?
Bagaimana cara menseleksi ?
Siapa yang akan mencari ?
Siapa yang akan menseleksi ?
Apa harus lewat sayembara ?
Bagaimana kalau tiada jumpa ?
Bengkulu, 22 Februari 2008
Hanifah Damnhuri
Ku ingat pesan Prof Moedomo padaku dulu
Ketika dia membinaku
Aku belajar Analisi Riil padanya
Beliau Ahli Analisis Riil yang terkemuka
Di Jurusan Matematika ITB
“ Kalau ingin melihat indahnya
Pertandingan bola kaki.
Taroklah kamera di atas.
Jangan setara kaki,
Kalau tidak demikian
Yang akan terlihat adalah
Kaki yang berseliweran “
Analog dengan pernyataannya
Sesuai pula dengan pesan
Anak pisang kami
“ Kalau ingin mengupas ABS SBK
Mestilah orang itu
Paham Adat, Paham Agama “
Seperti penghulu kami dimasalalu
Biar tidak terjadi perang saudara
Yang paham adat dengan yang paham agama
Dimana yang seperti itu kini ?
Kemana kita cari ?
Mungkinkah ada di perguruan tinggi ?
Bagaimana kalau ada di Nagari ?
Bagaimana cara mencari ?
Bagaimana cara menseleksi ?
Siapa yang akan mencari ?
Siapa yang akan menseleksi ?
Apa harus lewat sayembara ?
Bagaimana kalau tiada jumpa ?
Bengkulu, 22 Februari 2008
Hanifah Damnhuri
TAKZIAH
TAKZIAH
Kamupungku Sungai Tanang
Yang berada dikaki Singgalang
Terbagi tiga jorong
Jorong Sungai Tanang Gadang
Berlokasi jelang dan sekitar tabek gadang
Jorong Sungai Tanang ketek
Berlokasi sesudah tabek gadang
Jorong Punung Gadang
Berlokasi lebih keatas Singgalang
Masing-masing jorong
Punya surau batu tempat mengaji
Ketika ada musibah kematian
Yang terjadi dikampungku
Kami anak-anak mengaji
Dari setiap jorong
Secara bergantian
Ikut menghibur
Dengan mendatangi rumah duka
Berombongan dimalam hari
Namanya pergi takziah
Waktu itu belum ada listrik
Kalau takziah ke Punung Gadang
Kami harus melawan hawa dingin pegunungan
Gelap gulita perjalanan ketika tiada rembulan
Sepinya perkampungan
Biasanya disamping membawa strongkeng
Obor juga dinyalakan
Biar tidak takut
Sepanjang jalan
Guru ngaji kadang ngajak bernyanyi
Kadang meneriakkan nama Allah
Pokoknya suasana dibikin rame
Sesampai dirumah duka
Mulanya setiap orang mengaji
Setelah itu
Guru ngaji memilih beberapa diantara kami
Yang ngajinya bagus dan suara merdu
Melantunkan beberapa Ayat Alquran
Secara bergantian
Sementara yang lain menyimak
Setelah itu
Salah seorang guru ngaji
Akan berceramah
Untuk mengingatkan dan menghibur
Tentang kematian dan ketabahan
Usai acara takziah
Tanpa makan dan minum disana
Kami pulang kerumah masing-masing
Kadang diantar guru
Untuk anak yang takut pulang sendiri
Ternasuk aku
Duh indahnya masa kecilku di ranah
Beberapa bulan yanglalu
Ketika suami mertuaku
Bapak tiri suamiku
Berpulang
Aku saksikan acara
Yasinan
Meniga Hari
Manujuh hari
Makan-makan di acara tersebut
Bakar kemenyan sebelum berdoa
Duh kepalaku jadi pusing
Untung aku pusing
Kuminta suamiku
Mengantarkan aku
Pulang ke Payakumbuh
Ke rumah kakakku
Tak kuhiraukan lagi acara
Dua kali tujuh hari
Tiga kali tujuh hari
Tak kuhiraukan juga
Pembagian harta pusaka
Keluarga bapak tiri suamiku
Yang katanya akan dibahas
Setelah tiga kali tujuh hari
Bengkulu, 21 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Kamupungku Sungai Tanang
Yang berada dikaki Singgalang
Terbagi tiga jorong
Jorong Sungai Tanang Gadang
Berlokasi jelang dan sekitar tabek gadang
Jorong Sungai Tanang ketek
Berlokasi sesudah tabek gadang
Jorong Punung Gadang
Berlokasi lebih keatas Singgalang
Masing-masing jorong
Punya surau batu tempat mengaji
Ketika ada musibah kematian
Yang terjadi dikampungku
Kami anak-anak mengaji
Dari setiap jorong
Secara bergantian
Ikut menghibur
Dengan mendatangi rumah duka
Berombongan dimalam hari
Namanya pergi takziah
Waktu itu belum ada listrik
Kalau takziah ke Punung Gadang
Kami harus melawan hawa dingin pegunungan
Gelap gulita perjalanan ketika tiada rembulan
Sepinya perkampungan
Biasanya disamping membawa strongkeng
Obor juga dinyalakan
Biar tidak takut
Sepanjang jalan
Guru ngaji kadang ngajak bernyanyi
Kadang meneriakkan nama Allah
Pokoknya suasana dibikin rame
Sesampai dirumah duka
Mulanya setiap orang mengaji
Setelah itu
Guru ngaji memilih beberapa diantara kami
Yang ngajinya bagus dan suara merdu
Melantunkan beberapa Ayat Alquran
Secara bergantian
Sementara yang lain menyimak
Setelah itu
Salah seorang guru ngaji
Akan berceramah
Untuk mengingatkan dan menghibur
Tentang kematian dan ketabahan
Usai acara takziah
Tanpa makan dan minum disana
Kami pulang kerumah masing-masing
Kadang diantar guru
Untuk anak yang takut pulang sendiri
Ternasuk aku
Duh indahnya masa kecilku di ranah
Beberapa bulan yanglalu
Ketika suami mertuaku
Bapak tiri suamiku
Berpulang
Aku saksikan acara
Yasinan
Meniga Hari
Manujuh hari
Makan-makan di acara tersebut
Bakar kemenyan sebelum berdoa
Duh kepalaku jadi pusing
Untung aku pusing
Kuminta suamiku
Mengantarkan aku
Pulang ke Payakumbuh
Ke rumah kakakku
Tak kuhiraukan lagi acara
Dua kali tujuh hari
Tiga kali tujuh hari
Tak kuhiraukan juga
Pembagian harta pusaka
Keluarga bapak tiri suamiku
Yang katanya akan dibahas
Setelah tiga kali tujuh hari
Bengkulu, 21 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Rabu, 20 Februari 2008
SELAMAT ULTAH BAPAK SUHEIMI
SELAMAT ULTAH BAPAK SUHEIMI
Dari tulisan bapak yang kubaca
Tergambar beberapa kisah
Yang pernah bapak jalani
Dalam kehidupan ini
Walau tidak pernah bertemu
Dari kecil sepertinya
Bapak sudah terbiasa isi waktu
Dengan sesuatu yang berarti
Permainan masa kecil diranah
Yang banyak menuntut gerak badan
Seperti main patah pinggang
Dapat bapak kaitkan dengan kesehatan
Kadang bapak kaitkan dengan
Pelatihan konsentrasi
Dan lain sebagainya
Untuk menambah uang saku
Sambil bermain
Sambil kuliah
bapak berjualan
Hikmahpun dapat bapak ambil
Dari kegiatan ini
Hingga jadi ilmu bagi orang lain
Ketika sudah dewasa
Dengan gelar akademis yang sempurna
Konglomerat diantara pengusaha
Penghasilan yang tiada tara
Istri yang jelita
Anak-anak yang membuat bangga
Bapak tetap santun dalam berkata
Sederhana seperti orang tidak punya
Bergaul dengan siapa saja
Berusaha tebarkan kebaikan
Mengajak semua orang jadi yang terbaik
Sehingga bermanfaat bagi orang lain
Aku yang tak pandai menulis
Bapak dorong terus untuk berlatih dan berlatih
Bapak bilang tulisanku bagus
Aku sendiri ragu
Apa benar bagus
Pujian bapak membuatku bersemangat
Kutulis saja apa yang ku mau
Tak peduli
Apa orang suka tulisanku
15 Februari 2008
Usia bapak tepat 61 tahun
Selamat ulang tahun guruku
Semoga panjang umur
Tetap berkarya demi kebaikan
Terdepan dalam pendidikan
Terdepan dalam kesehatan
Terdepan dalam bisnis
Terdepan dalam syiar agama
Amin YRA
Bengkulu, 16 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Dari tulisan bapak yang kubaca
Tergambar beberapa kisah
Yang pernah bapak jalani
Dalam kehidupan ini
Walau tidak pernah bertemu
Dari kecil sepertinya
Bapak sudah terbiasa isi waktu
Dengan sesuatu yang berarti
Permainan masa kecil diranah
Yang banyak menuntut gerak badan
Seperti main patah pinggang
Dapat bapak kaitkan dengan kesehatan
Kadang bapak kaitkan dengan
Pelatihan konsentrasi
Dan lain sebagainya
Untuk menambah uang saku
Sambil bermain
Sambil kuliah
bapak berjualan
Hikmahpun dapat bapak ambil
Dari kegiatan ini
Hingga jadi ilmu bagi orang lain
Ketika sudah dewasa
Dengan gelar akademis yang sempurna
Konglomerat diantara pengusaha
Penghasilan yang tiada tara
Istri yang jelita
Anak-anak yang membuat bangga
Bapak tetap santun dalam berkata
Sederhana seperti orang tidak punya
Bergaul dengan siapa saja
Berusaha tebarkan kebaikan
Mengajak semua orang jadi yang terbaik
Sehingga bermanfaat bagi orang lain
Aku yang tak pandai menulis
Bapak dorong terus untuk berlatih dan berlatih
Bapak bilang tulisanku bagus
Aku sendiri ragu
Apa benar bagus
Pujian bapak membuatku bersemangat
Kutulis saja apa yang ku mau
Tak peduli
Apa orang suka tulisanku
15 Februari 2008
Usia bapak tepat 61 tahun
Selamat ulang tahun guruku
Semoga panjang umur
Tetap berkarya demi kebaikan
Terdepan dalam pendidikan
Terdepan dalam kesehatan
Terdepan dalam bisnis
Terdepan dalam syiar agama
Amin YRA
Bengkulu, 16 Februari 2008
Hanifah Damanhuri
Selasa, 19 Februari 2008
MALAM KITABAH
MALAM KITABAH
Waktu kecil
Aku belajar ngaji
Di surau batu
Di malam hari
Surau batu tempatku ngaji
Berlantai dua
Di depannya membentang tabek gadang
Rumahku dan gunung merapi
Sangat indah dilihat dari surau batu
Di ujung kiri tabek gadang
Berdiri mesjid yang indah
Mesjid Jamik Sungai Tanang
Mesjid ini kemudian direnovasi
Jadi Mesjid yang besar dan megah
Dan akhirnya punah di hantam gempa
Waktu itu belum ada listrik kekampung kami
Penerangan di surau batu
Menggunakan lampu strongkeng
Dari rumahku kelihatan
Surau batu bermandikan cahaya
Di malam hari
Kadang-kadang di malam minggu
Kami membawa nasi
Untuk dimakan bersama sama
Usai acara kitabah
Aku tak tau arti kitabah
Yang ku ingat
Ada bermacam macam lomba
Seperti : ngaji, azan, dan pidato
Acara yang meriah dan membuat bahagia
Baik guru maupun orang tua
Lagi-lagi karena tergilas roda zaman
Kurangnya perhatian
Entah perhatian siapa harusnya
Surau batu yang tampilannya tambah megah
Penuh cahaya listrik di malam hari
Kini berdiri sunyi
Di tepi tabek gadang
Jauh dari suara anak-anak yang mengaji
Jauh dari merdunya suara anak-anak yang azan
Tiada lagi gegap gempita
Tepuk tangan tanda kemenangan
Begitu cerita yang kutahu
Aku berharap berita itu keliru
Aku berharap masih ada yang mau
Bebaskan suaru batu
Dari sepi dan sunyinya
Hingga kembali terdengar
Alunan suara anak yang mengaji
Merdunya azan anak lelaki
Munculnya cikal bakal calon orator
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 19 Februari 2008
Hanifah Damnhuri
Waktu kecil
Aku belajar ngaji
Di surau batu
Di malam hari
Surau batu tempatku ngaji
Berlantai dua
Di depannya membentang tabek gadang
Rumahku dan gunung merapi
Sangat indah dilihat dari surau batu
Di ujung kiri tabek gadang
Berdiri mesjid yang indah
Mesjid Jamik Sungai Tanang
Mesjid ini kemudian direnovasi
Jadi Mesjid yang besar dan megah
Dan akhirnya punah di hantam gempa
Waktu itu belum ada listrik kekampung kami
Penerangan di surau batu
Menggunakan lampu strongkeng
Dari rumahku kelihatan
Surau batu bermandikan cahaya
Di malam hari
Kadang-kadang di malam minggu
Kami membawa nasi
Untuk dimakan bersama sama
Usai acara kitabah
Aku tak tau arti kitabah
Yang ku ingat
Ada bermacam macam lomba
Seperti : ngaji, azan, dan pidato
Acara yang meriah dan membuat bahagia
Baik guru maupun orang tua
Lagi-lagi karena tergilas roda zaman
Kurangnya perhatian
Entah perhatian siapa harusnya
Surau batu yang tampilannya tambah megah
Penuh cahaya listrik di malam hari
Kini berdiri sunyi
Di tepi tabek gadang
Jauh dari suara anak-anak yang mengaji
Jauh dari merdunya suara anak-anak yang azan
Tiada lagi gegap gempita
Tepuk tangan tanda kemenangan
Begitu cerita yang kutahu
Aku berharap berita itu keliru
Aku berharap masih ada yang mau
Bebaskan suaru batu
Dari sepi dan sunyinya
Hingga kembali terdengar
Alunan suara anak yang mengaji
Merdunya azan anak lelaki
Munculnya cikal bakal calon orator
Amin Ya Rabbal Alamin
Bengkulu, 19 Februari 2008
Hanifah Damnhuri
Langganan:
Postingan (Atom)