Senin, 21 Juli 2008

KOPERASI MAJU SAKATO

KOPERASI MAJU SAKATO


Umua panjang
Rasaki baagakkan
Mantun banalah
Nasib PNS
Tarutamo para guru
Kadang tekor di akhir bulan

Hinggo tajarumus
Gali lubang
Tutuk lubang

Tibo di kaparaluan indak taduga
Pitih banyak paralu bana
Manyalang antah ka sia ?
Mambaiano beko baa ?
Mamak indak punyo
Harato tiado
Kapalo babega
Taraso kejamno
kota

Maraso sanasib saparuntuangan
Mancubo babagi pandaritaan
Saliang mambantu mangurangi baban
Kesempatan pulo manyimpan
Tagaraklah ide dari babarapo guru nan suko bakumpua

Nan maraso ingin mangayomi sasamo
Mereka himpunlah sado guru nan barasa dari ranah bundo
Dibantuaklah koperasi Maju Sakato
Dibueklah aturan mainno

Singkek kato
Dalam wakatu indak barapo lamo
Takumpualah modal partamo
Dibuliahkan anggota manyalangno
Mulono hanyo dapek limo ratuh ribu perkapalo
Kini alah bisa 4 juta perkapalo
Awak indak malu ka pangalolano
Awak indak pusiang mambaiano
Godaan indak kamambaia tainda pulo
Dek pitih punyo basamo

Koperasi Maju Sakato
Alah banyak jasono
Sangaik taraso jalang rayo
Kampuang tajalang baju rancak pulo
Dapek galak manih dari sanak sudaro

Bengkulu 6 Juli 2008

Hanifah Damanhuri

TERKENANG

Wajahmu yang manis dengan senyum yang memikat
Sinar mata yang mencerminkan kecerdasan
Serta gayamu yang lucu
Membuatku tergila-gila padamu
Kamu jadi idola pertamaku
Waktu itu aku masih SD

Kita jarang bertemu
Jarak telah memisahkan kita

Di suatu liburan
Kamu menyadari
Aku remaja
Yang sedang jatuh cinta

Kamu biarkan cintaku berkembang
Anganku melayang
Terbang
Menembus ruang dan waktu

Dalam perjalanan waktu
Aku berhadapan dengan kekasihmu
Temanku pindahan dari rantau
Pengakuanmu
Membuat perih di hatiku
Perih bak disayat sembilu

Ku jalani hidupku
Bak air mengalir
Tak ingin ku jatuh cinta lagi

Dua puluh dua tahun yang lalu
Hari pernikahanmu sudah ditentukan
Pesta besar akan di gelar di ujung
Sumatra sana
Pesta anak-anak pejabat
Pesta pemuda berbakat
Karyawan perusahaan ternama

Sebelum hari bersejarah bagimu itu tiba
Aku dilamar pemuda bersahaja
Kulitnya hitam tapi manis
Senyumnya amat menawan
Penyayang nampaknya
Dia temanku sesama honor
Yang baru ku kenal semester itu

Sinar cinta dimatanya
Membuat papa ikhlas
Menyerahkanku padanya

Beberapa hari sebelum hari bersejarah bagimu
Papa menggelar syukuran sederhana
Untuk pernikahanku
Di rumah kakakku

Alhamdulillah
Aku lebih dulu menikah darimu

Tak terasa
Minggu ini
Dua puluh dua tahun sudah
Usia pernikahan masing-masing kita
Alhamdulillah
Semoga saja tahun depan
Masing-masing kita masih merayakan
Ultah perkawinan kita
Amin

Bengkulu, Juli 2008

Hanifah Damanhuri

Sabtu, 28 Juni 2008

MAIN LORE

MAIN LORE

Samaso ketek dikampuang
Banyak sakali macam pamainan
Babarapo pamainan muncua tiok saat

Nan lain muncua bamusim

Kok dikana
Iyo sabana lasuah gadang dikampuang
Alah mulai tantu jalan pulang karumah
Alah bisa bamain sapueh hati
Indak ado raso sadiah
Walau bapak antah dimano
Indak ado raso ibo ati dan randah diri
Walau ragi baju indak jaleh lai
Kayo dan bansaik
Laki-laki dan padusi
Basatu di lapangan
Basatu dihalaman
Basatu ditabek

Salah satu pamaian kami adolah main lore
Ado lore abang, lore baju dan lore saribu
Masiang-masiang lore
Babedo gambar dan aturan mainno
Tapi samo-samo pakai batu layah
Kaki samo samo basigengkeng
Gambar lore diukia di tanah

Main lore gon saisuak
Acok dimainkan katiko pose
Bisa main di halaman rumah di sakitar sikola
Bisa main dihalaman sikola
Sangkek itu
Pose sakali sen noh
Tapi wakatuno lamo
Anak klas limo dan klas anam SD
Labiah suko main lore saribu
Disampiang basigengkeng
Pamain harus pandai mancari nilai nan sagadang gadangno
Pandai pulo manjumlahkan hasia nan di dapek

Takana main lore
Takana rumah gadang dakek SD
Takana bangunan SD nan rancak dan mewah
Kini rumnah gadang alah punah
SD nan rancak alah batuka roman
Arena bamain samakin sampik
Antah apo pamainan anak-anak kini
Antahlah
Nyampang kok santiang generasi saisuak
Baiak strategi mapun katarampilan
Mungkin dek alah dilatiah sajak kicik
Liwaik pamainan

Bangkulu, 29 Juni 2009

Hanifah Damanhuri

He he he lasuahlo babaso kampuang ooiii

Kamis, 26 Juni 2008

SELIMUT MERAH

SELIMUT MERAH

Di kampungku waktu itu
Selimut merah cap angsa
Selimut bawaan marapulai ke rumah anak daro
Dimalam pertama pulang

Selimutku juga selimut merah cap angsa
Hangat dan tahan lama
Kebiasaan ABG dijamanku
Saling bertandang
Kadang teman-teman tidur dirumahku
Selimut merah yang lebar
Menutupi tubuh kami semua

Sangat jarang kami tidur sendirian
Kadang kami belajar bersama
Kadang cuman berkumpul-kumpul saja
Baca novel,majalah, cersil dan koran
Main kartu, main halma
Bercerita kian kemari
Cerita tentang pacar
Cerita tentang cowok idaman
Cerita tentang orang lain
Yang bisa menghabiskan waktu
Santai sekali kami waktu itu

Suatu hari aku tidur siang
Tak biasanya aku tidur siang
Papa periksa jidatku
Papa pasang selimut merah ketubuhku
Kali papa kira aku sakit

Ketika aku baru jadi mahasiswa IKIP Padang
Selimut merahku ku tinggalkan saja di kampung
Suatu hari papaku datang ke Padang
Papa bawakan selimut merahku
Aku jadi manyun
Teman-teman yang lain tertawa
Karena diantara mereka
Tidur pakai dalaman ditutup kain panjang
Entah bagaimana perasaan papaku waktu itu
Selimut merahkupun terpaksa dibawa pulang

Sekarang
Ketika demam
Aku rindu papaku
Semoga beliau berada ditempat yang lapang
Di alam sana. Amin


Bengkulu, 27 Juni 2008


Hanifah Damanhuri

Senin, 23 Juni 2008

PUTRI MUHARNI

PUTRI MUHARNI

Sosoknya mungil tapi manis
Senyumnya ikhlas
Membuatku senang tersenyum padanya
Cerdas, rajin dan bersemangat untuk maju
Sahabatnya Endina Putri sama mungil dan manisnya
Kemana-mana sering bersama

Suatu hari
Aku dan putri se angkot menuju kampus
Putri berceritra
“ papanya Nizamuddin karyawan bank BNI Bengkulu
dan mamanya Marnis pada tahun tahun 1995.
mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat.
Papa dan mama berasal dari Painan SUMBAR.
Sejak itu hidup kami bersaudara jadi tidak menentu
Akhirnya putri di asuh bapak Masbudi Hanifah pimpinan bank BNI Bengkulu
Ketika beliau hijrah ke Jakarta putri di ajak hingga tamat SD
Putri kembali ke Bengkulu ikut adik mama dan masuk ke SMP I
Sahabat putri Rosalina Dwiyanti
Meminta mamanya mengangkat putri jadi saudara
Sejak itu sampai kelas 2 SMA
Putri tinggal bersama keluarga Ayah Rustam orang Lintau SUMBAR
Dari kelas 2 SMA sampai sekarang putri kembali ke adik mama “

April 2008
Di acara yudisium FT
Mama Rufita salah seorang mahasiswaku yang yudisium
Ketika kami bersalaman beliau bercerita
“ Putri Muharni adalah anak angkatnya,
Rosalina adalah adik Rufita temannya si putri di SMP “
Di bulan yang sama
Putri dan Endina Putri seminar proposal berbarengan
Ketika itu Endina Putri sempat berlinang air mata
Endina putri anak dari temanku Dr Endang Widi Winarni

Bulan ini kegiatanku padat sekali
Musim UAS
Musim menguji skripsi
Hingga aku kelelahan dan akhirnya demam
Sebelum demam aku sempat menguji skripsi si Endina Putri
Endina Putri sukses mempertahankan skripsinya tanpa air mata

Ketika badanku sedang panas-panasnya
Si Putri Muharni bertanya, apa aku bersedia mengujinya ?
Aku tercenung
Perasaanku yang bermain
Ku tunda berarti tertunda satu semester
Masih belum sempurna segar badanku
Kuhadapi juga ujian skripsi si putri kemaren
Aku mendampingi Dr Edi penguji utama
Alhamdulillah
Si Putri Muharni sukses dengan air mata berlinangan


Bengkulu, 24 Juni 2008


Hanifah Damanhuri

Rabu, 18 Juni 2008

IJUL MAU IKAN

IJUL MAU IKAN

Kubawa bayiku dari Padang ke Bengkulu
Memasuki rumah baru PERUMNAS
Rumah yang ku ambil dengan nekad
Tipe besar dengan cicilan 60 % gajiku
Tipe kecil belum ada dapur
Aku tak punya duit untuk buat daspur
Ku pilih saja yang lengkap

Aku picing mata untuk rumah tetangga yang tumbuh dan berkembang
Aku picing mata untuk perlengkapan di dalamnya
Sebelum bongkar mesin di
Padang
Aku sudah beli
Kursi rotan untuk ruang tamu
Meja makan dari kayu
Tempat tidur kayu
Dari uang kiriman papaku

Kubesarkan ijul dengan cara sederhana
Kuberi ASI biar irit dan praktis
Dia suka makan
Ketika aku sedang menggoreng ikan atau udang
Dia sering minta makan
Aku suka menggoreng ikan dencis dan gambolo yang kecil
Utuh dari ekor hingga kepala

Suatu hari jelang lebaran ijul ngomong
“ Mama, kakak ratih baju lebarannya empat “
Aku sempat bingung
Kualitas atau kuantitas
Mumpung dia belum ngerti
Akhirnya kubeli pula bajunya empat di kaki
lima

Ketika itu kami ada keperluan ke Jakarta
Kami bawa ijul kerumah kakakku
Sebelum kepasar kakakku bertanya
“ Ijul mau makan sama apa “
“ Ijul mau ikan” jawab ijul
Pulangnya dengan bangga
Kakakku membawa ikan tuna yang sudah di potong-potong
Ikan itu digoreng
Ketika makan ijul bertanya
“ Mana ikannya ? “
Kakakku memberikan ikan tuna ke ijul
“ Bukan, ini bukan ikan “, kata ijul
Kami saling berpandangan
“Ini ikan “, jawabku
“ Mana ekor dan kepalanya ? “

Bengkulu, 19 Juni 2008

Hanifah Damanhuri

Selasa, 17 Juni 2008

LIBURAN

LIBURAN

Liburan ketika aku remaja
Ketika aku jadi tuan rumah
Ku bawa mereka
Mandi di pincuran
Berenang di Tiagan
Mendaki ke Pinus
Makan disawah
Duduk-duduk di tepian Tabek Gadang
Semua menyenangkan dan tak terlupakan

Giliran anak-anakku ABG
Aku selalu berusaha
Membawa mereka pulang kampung
Biar mereka ketemu kakek dan neneknya
Biar mereka menikmati indahnya kampung
Kubiarkan mereka mandi-mandi sepuasnya di tabek
Main kesawah ikut temannya dikampung
Sampai kulit mereka jadi bersisik

Masih kuingat waktu itu
Uang gajiku tak pernah berlebih dari bulan ke bulan
Hingga aku tak punya tabungan
Kuakalin saja gaji bulanan untuk ongkos PP
Tak peduli dengan oleh-oleh untuk siapapun
Tak peduli kami jadi beban
Toh mamaku pensiunan dan punya sawah
Kolam ikan, ayam dan itik juga ada
Kakakku juga tidak keberatan kalau kukunjungi
Dengan santai kami ngomong
" Kami pulang gaya mahasiswa "

Suatukali ketika hendak kembali ke Bengkulu
Mamaku memintaku untuk membawa nasi untuk bekal di jalan
Aku tidak menggubrisnya
Ku bilang ke mama " Di jalan banyak rumah makan, nasinya panas "
Diam-diam mamaku tetap membungkuskan nasi untuk kami
Dengan enggan aku membawanya
Ditengah jalan mobil macet dipesawangan
Jauh dari rumah makan
Betapa malunya aku ke diri sendiri
Betapa panjangnya pikiran orang tua

Liburan telah tiba
Kali ini gadisku ingin naik pesawat ke Jakarta
Biar irit
Gadisku sudah liburan duluan
Mulanya mau berangkat sendirian
Alhamdulillah papanya dikirim ke Jakarta pada tanggal yang sama
Akhirnya mereka bisa bersama

Ku biarkan gadisku berlibur ke Jakarta
Biar ketemu saudaranya
Biar bertambah wawasan
Biar muncul rasa syukur
Biar punya cita-cita

Pesawat yang akan mereka tumpangi
Tak kunjung datang
Setelah 2 jam menunggu
Pesawat datang juga
Baru beberapa menit naik pesawat
Semua penumpang turun kembali
Mesin tidak bisa nyala
Tunggu 30 menit lagi.
30 menit berubah jadi 2 jam
Akhirnya mesin bisa nyala
Penumpang kembali naik ke pesawat

Sekarang aku kena batunya
Ketika pertama naik pesawat dulu
Dan tidak bisa mendarat di Bengkulu
Hingga bolak balik ke Palembang
Aku tenang-tenang saja
Menikmati goncangan pesawat menembus awan
Anak-kecil yang pada menangis
Orang tua yang pada berzikir
Landasan pacu yang tidak kelihatan
Tak sadar betapa gelisahnya yang menunggu
Betapa berat rasanya aku melepas mereka pergi
Wajahku sedikit tegang
Terbayang andai mesinnya berhenti di udara
Mulutku jadi komat kamit berdoa
Memohon pada Allah
Selamatkan perjalanan mereka

Satu jam kemudian
Perasaanku jadi lega
Mereka selamat sampai di Jakarta
Alhamdulillah


Bengkulu, 17 Juni 2008


Hanifah Damanhuri