GULAI UDANG
Dulu ketika masih ABG dikampung
Kami sering menyenter udang yang menempel
Di tepian tabek gadang
Lalu menangkapnya dan mempermainkannya
Ketika kolam tetanggaku yang banyak udangnya
Di lepas airnya dan dipanen ikannya
Aku sering ikut menangkap udang disana
Udangpun banyak ditemui di aliran air
Yang keluar dari kolam itu
Sehingga sewaktu waktu aku menangkapnya
Menggorengnya dan memakannya panas-panas
Hmm harum baunya , dan manis rasanya
Di rantauku Bengkulu
Banyak udang di jual di pasar
Dengan berbagai jenis dan
Harga yang berbeda
Mulanya aku tak tau
Rasa udang tidak sama dan harganya berbeda
Pokoknya udang ya begitulah rasanya
Ku beli yang harganya murah saja
Pernah suatu hari ketika kami di Jakarta
Maksud hati ingin irit
Kami pilih menu udang
Ketika perut sudah kenyang dan
Hendak membayar di kasir
Kami jadi tercengang
Harga udang lebih dari yang lainnya
Lama-lama membeli dan mengkonsumsi udang
Akhirnya aku jadi tau mana yang enak sekali rasanya
Aku tak tau namanya
Tapi sudah hapal bentuk dan warnanya
Paling enak rasanya kalau ketika membeli
Udangnya masih hidup dan
Di goreng atau di gulai hari itu juga
Beberapa hari yang lalu
Banyak wajah yang kelihatan sendu
Tanggal satu Agustus menjadi tanggal tua sekali
Karena tidak mungkin gajian
Kemaren wajah sendu berubah ceria
Seperti rumput dapat air di musim panas
Tadinya mulai layu, kemudian jadi segar
Di tanggal tua dapat rejeki tak terduga
Bendahara membagikan uang ….
Yang memang menjadi hak kami
Alhamdulillah
Akhir pekan mejadi ceria
Pagi ini tukang ikan yang baru jadi langgananku
Datang dan memanggil-manggilku
Ikan terusan yang pernah ku beli padanya
Rasanya luar biasa
Cepat=cepat ku bilang padanya
Aku mau beli ikan Terusan
Lalu mulailah dia memotong dan
Memperlihatkan padaku sesuatu yang warnanya putih
Yang di keluarkannya dari perut ikan
“ Ini di ekspor keluar untuk dijadikan
Benang yang dipakai untuk operasi
Cobalah lihat, kuat sekali dan tak mudah di gunting”
Sementara dia memotong-motong ikan
Aku lihat jualannya yang lain
Eh ada udang yang lumayan besar
Aku coba timbang dan hitung
Ada 28 ekor jumlahnya sekilo
Ku Tanya berapa harganya sekilo
“ Rp 70 ribu, ini biasanya orang Cina yang beli “
Aku jadi bimbang
Akhirnya ku beli juga
Sesekali memanjakan selera kataku padanya
Kubersihkan udang tersebut
Ku kasih garam dan jeruk
Ku siapkan bumbu langkok dan daun
Bawang putih, bawang merah
Cabe giling sedikit saja
Santan kelapa dari kelapa yang sedang tuanya
Lalu ku gulai dan kucoba garamnya
Hmmm enak sekali
Ketika sudah masak
Terbayang ke dua orang anak
Mereka makan apa ya hari ini ??
Bengkulu, 1 Agustus 2009
Hanifah Damanhuri
Jumat, 31 Juli 2009
Kamis, 30 Juli 2009
TAK BISA KE SMA I BKT
TAK BISA KE SMA I BKT
Keharuman nama SMA I BKT
Sudah sampai keseberang lautan
Sehingga sekolah SMA I BKT menjadi sekolah impian
Bagi setiap pelajar yang mendambakan sekolah bermutu
Banyak orang Banuhampu yang bersekolah di SMA I BKT ini
Setelah tamat umumnya mereka melanjutkan ke PTN ternama
Baik di Sumatera maupun Jawa
Sehingga dibangunlah asrama Banuhampu
Di dekat ITB, dekat UI dan dekat UGM
Akupun bermimpi ingin sekolah di SMA I BKT
Namun impian tinggal impian
Walau nilaiku tergolong tinggi untuk sekolahku
Pada saat giliranku masuk ke SLTA
Aturan main untuk masuk ke SMA di rubah
Pendaftaran di lakukan oleh sekolah
Tempatnya terpusat di salah satu SMA
Kami tinggal pasrah dan harus mau
Ditempatkan disalah satu SMAN BKT
Yang ada waktu itu
Masuklah aku ke SMA 2 BKT sesuai penempatan
Dampak diberlakukan sistem pendaftaran terpusat
SMAN I mulai dapat saingan
SMAN 2 dan SMAN 3 mulai terangkat namanya
Karena para bintang di SLTP
Tersebar merata di ketiga sekolah ini
Namun keharuman SMA I BKT sulit tertandingi
Guru-guru di sana tentu lebih hebat
Karena sudah biasa menghadapi murid hebat-hebat
Terbayang kembali beberapa peristiwa
Antara guru dan siswa
Kadang persoalannya hanya sederhana
Karena guru kehilangan wibawa
Suatu hari aku dan kelompok belajarku
Mengeluarkan uneg-uneg hendak jadi apa nanti
Semuanya berkata “ tak akan mau jadi guru “
Apa yang terjadi kini
Semua jadi guru di perguruan tinggi
Alhamdulillah
Tuhan tidak mengabulkan uneg-uneg kami dulu
Bengkulu, 29 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Keharuman nama SMA I BKT
Sudah sampai keseberang lautan
Sehingga sekolah SMA I BKT menjadi sekolah impian
Bagi setiap pelajar yang mendambakan sekolah bermutu
Banyak orang Banuhampu yang bersekolah di SMA I BKT ini
Setelah tamat umumnya mereka melanjutkan ke PTN ternama
Baik di Sumatera maupun Jawa
Sehingga dibangunlah asrama Banuhampu
Di dekat ITB, dekat UI dan dekat UGM
Akupun bermimpi ingin sekolah di SMA I BKT
Namun impian tinggal impian
Walau nilaiku tergolong tinggi untuk sekolahku
Pada saat giliranku masuk ke SLTA
Aturan main untuk masuk ke SMA di rubah
Pendaftaran di lakukan oleh sekolah
Tempatnya terpusat di salah satu SMA
Kami tinggal pasrah dan harus mau
Ditempatkan disalah satu SMAN BKT
Yang ada waktu itu
Masuklah aku ke SMA 2 BKT sesuai penempatan
Dampak diberlakukan sistem pendaftaran terpusat
SMAN I mulai dapat saingan
SMAN 2 dan SMAN 3 mulai terangkat namanya
Karena para bintang di SLTP
Tersebar merata di ketiga sekolah ini
Namun keharuman SMA I BKT sulit tertandingi
Guru-guru di sana tentu lebih hebat
Karena sudah biasa menghadapi murid hebat-hebat
Terbayang kembali beberapa peristiwa
Antara guru dan siswa
Kadang persoalannya hanya sederhana
Karena guru kehilangan wibawa
Suatu hari aku dan kelompok belajarku
Mengeluarkan uneg-uneg hendak jadi apa nanti
Semuanya berkata “ tak akan mau jadi guru “
Apa yang terjadi kini
Semua jadi guru di perguruan tinggi
Alhamdulillah
Tuhan tidak mengabulkan uneg-uneg kami dulu
Bengkulu, 29 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
SENAM IRAMA
SENAM IRAMA
Minggu lalu aku dapat seragam olah raga FT
Warna merah jingga di padu dengan hitam
Membuat wajahku jadi kelihatan segar
Akibat pantulan warnanya
Sudah lama sekali aku tak senam di kampus
Disamping tak wajib lagi seperti di tahun 80 an
Tak banyak teman yang bersenam
Kecuali karyawan direktorat setiap pagi Jumat
Dulu di tahun 80 an
Walau rumahku jauh dari kampus
Ku usahakan datang di acara SKJ
Bersenam dan berolah raga bersama
Senam Kesegaran Jasmani (SKJ)
Gerakannya sangat teratur
Di awali dengan pemanasan
Dengan menggerakkan kepala
Sementara kaki jalan di tempat
Lalu semakin lama gerakan semakin cepat
Mengikuti irama musik
Tak ingat lagi aku gerakannya
Lalu di akhiri dengan gerakan lambat kembali
Sambil menghirup udara
Asyik dan menyenangkan sekali
Di antara senam yang pernah ku ikuti
Aku terkenang dengan Senam Irama
Yang ku jalani setiap pagi ketika di SD
Gerakannya seperti menari
Nyanyikanlah lagu berikut dengan irama
Naik-naik ke puncak gunung
“ Mari kawan-kawan semua
Jangan duduk bermuram durja
Mari kita bersama sama
Melakukan senam irama
Dalam tubuh kuat sehat
Terdapatlah otak yang waras
Agar tubuh kuat sehat
Latih diri dengan semangat “
Begitu musik mulai berkumandang
Tangan di rentang seperti merentang
Bendera simapur di acara pramuka
Kaki kanan di tekuk hingga tumit bertumpu pada jari
Tangan kanan bergerak ke kiri
Gantian tangan kiri bergerak ke kanan
Dengan posisi kaki yang ditekuk juga diganti
Di sambung dengan gerakan lain
Semuanya seperti gerakan menari
Suatu waktu sibuklah guru melatih dan menyiapkan
Beberapa orang dari kami
Untuk mengikuti senam massal
Di lapangan Atas Ngarai Bukittinggi
Ketika tiba hari H
Kami berpakaian putih-putih
Rambut dikuncir dikasih pita merah
Dibekali cincin yang dipakai saat bersenam nanti
Kami diangkut memakai oto Prah
Ketika sampai dilapangan
Sudah berkumpul anak-anak SD lain
Wuih ramai sekali
Bangga rasanya berada di antara banyak orang
Begitu sudah berada di tengah lapangan
Sesaat menjelang senam dimulai
Dipakailah cincin ajaib yang di bawa tadi
Kami genggam erat cincin ajaib tersebut
Begitu alunan musik terdengar
Tangan mulai bergerak
Dari telapak tangan kami
Ikut bergerak pita warna warni yang menjuntai
Yang tadinya di gulung dan dipasang ke jari
Membuat senam massal jadi semarak
Puas, bangga dan menyenangkan sekali
Bengkulu, 28 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Minggu lalu aku dapat seragam olah raga FT
Warna merah jingga di padu dengan hitam
Membuat wajahku jadi kelihatan segar
Akibat pantulan warnanya
Sudah lama sekali aku tak senam di kampus
Disamping tak wajib lagi seperti di tahun 80 an
Tak banyak teman yang bersenam
Kecuali karyawan direktorat setiap pagi Jumat
Dulu di tahun 80 an
Walau rumahku jauh dari kampus
Ku usahakan datang di acara SKJ
Bersenam dan berolah raga bersama
Senam Kesegaran Jasmani (SKJ)
Gerakannya sangat teratur
Di awali dengan pemanasan
Dengan menggerakkan kepala
Sementara kaki jalan di tempat
Lalu semakin lama gerakan semakin cepat
Mengikuti irama musik
Tak ingat lagi aku gerakannya
Lalu di akhiri dengan gerakan lambat kembali
Sambil menghirup udara
Asyik dan menyenangkan sekali
Di antara senam yang pernah ku ikuti
Aku terkenang dengan Senam Irama
Yang ku jalani setiap pagi ketika di SD
Gerakannya seperti menari
Nyanyikanlah lagu berikut dengan irama
Naik-naik ke puncak gunung
“ Mari kawan-kawan semua
Jangan duduk bermuram durja
Mari kita bersama sama
Melakukan senam irama
Dalam tubuh kuat sehat
Terdapatlah otak yang waras
Agar tubuh kuat sehat
Latih diri dengan semangat “
Begitu musik mulai berkumandang
Tangan di rentang seperti merentang
Bendera simapur di acara pramuka
Kaki kanan di tekuk hingga tumit bertumpu pada jari
Tangan kanan bergerak ke kiri
Gantian tangan kiri bergerak ke kanan
Dengan posisi kaki yang ditekuk juga diganti
Di sambung dengan gerakan lain
Semuanya seperti gerakan menari
Suatu waktu sibuklah guru melatih dan menyiapkan
Beberapa orang dari kami
Untuk mengikuti senam massal
Di lapangan Atas Ngarai Bukittinggi
Ketika tiba hari H
Kami berpakaian putih-putih
Rambut dikuncir dikasih pita merah
Dibekali cincin yang dipakai saat bersenam nanti
Kami diangkut memakai oto Prah
Ketika sampai dilapangan
Sudah berkumpul anak-anak SD lain
Wuih ramai sekali
Bangga rasanya berada di antara banyak orang
Begitu sudah berada di tengah lapangan
Sesaat menjelang senam dimulai
Dipakailah cincin ajaib yang di bawa tadi
Kami genggam erat cincin ajaib tersebut
Begitu alunan musik terdengar
Tangan mulai bergerak
Dari telapak tangan kami
Ikut bergerak pita warna warni yang menjuntai
Yang tadinya di gulung dan dipasang ke jari
Membuat senam massal jadi semarak
Puas, bangga dan menyenangkan sekali
Bengkulu, 28 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
BINGUNG
BINGUNG
Sebagai rakyat badarai
Aku bingung, bangga dan kecewa
Tiba-tiba CALEG yang dinyatakan kalah
Dinyatakan akan melaju ke Senayan
Aku bangga karena temanku akhirnya akan ke senayan
Tiba-tiba CALEG yang pernah dinyatakan menang
Beberapa diantaranya tak jadi ke Senayan
Aku kecewa karena saudaraku batal ke Senayan
Tak terbayangkan
Betapa sakit dan kecewanya
CALEG yang akhirnya batal ke Senayan
Entah sudah berapa pula dana habis untuk selamatan
Bisa dibayangkan
Betapa bahagia akhirnya
CALEG yang dinyatakan kalah
Akhirnya melenggang ke Senayan
Aku bingung
Untuk apa kita memilih Partai
Kalau toh akhirnya
CALEG ditentukan oleh suara terbanyak
Terbanyak secara umum ?
Bukan terbanyak dari sisi Partai ?
Atau aku yang tidak mengerti
Bagaimana cara menghitung suara terbaru
Bantulah aku hai saudaraku yang mengerti
Bengkulu, 27 juli 2009
Hanifah Damanhuri
Sebagai rakyat badarai
Aku bingung, bangga dan kecewa
Tiba-tiba CALEG yang dinyatakan kalah
Dinyatakan akan melaju ke Senayan
Aku bangga karena temanku akhirnya akan ke senayan
Tiba-tiba CALEG yang pernah dinyatakan menang
Beberapa diantaranya tak jadi ke Senayan
Aku kecewa karena saudaraku batal ke Senayan
Tak terbayangkan
Betapa sakit dan kecewanya
CALEG yang akhirnya batal ke Senayan
Entah sudah berapa pula dana habis untuk selamatan
Bisa dibayangkan
Betapa bahagia akhirnya
CALEG yang dinyatakan kalah
Akhirnya melenggang ke Senayan
Aku bingung
Untuk apa kita memilih Partai
Kalau toh akhirnya
CALEG ditentukan oleh suara terbanyak
Terbanyak secara umum ?
Bukan terbanyak dari sisi Partai ?
Atau aku yang tidak mengerti
Bagaimana cara menghitung suara terbaru
Bantulah aku hai saudaraku yang mengerti
Bengkulu, 27 juli 2009
Hanifah Damanhuri
GORENG PISANG RAJA DAN KETAN
GORENG PISANG RAJA DAN KETAN
Dinginnya hawa pegunungan di pagi hari
Membuat sebagian warga dikampungku
Sehabis sholat subuh atau cuci muka
Mampir dulu ke warung kopi
Disamping menghirup kopi panas
Untuk menghangatkan badan
Mereka umumnya memakan goreng pisang raja dan
Ketan beras merah yang ditaburi kelapa parut
Sesekali papaku juga mampir ke warung kopi
Memesan goreng pisang raja dan
Ketan yang dibungkus daun
Untuk di bawa pulang
Beberapa kali aku membawa teman dari Padang
Setiap yang ikut pasti kedinginan dan
Memilih bakalumun lagi setelah sholat subuh
Aku juga kedinginan dan ikut bakalumun
Kasih orang tua memang tiada tara
Dibiarkannya kami bakalumun
Sementara papa pergi kewarung kopi
Membeli ketan dan goreng pisang raja
Mamaku menyiapkan teh hangat untuk kami dan
Kopi panas untuk papaku
Begitu goreng dan ketan terhidang
Langsung kami sikat hmmmm nikmattt
Teringat goreng pisang raja
Teringat kampung yang jauh dimata
Teringat papaku yang telah tiada
Semoga beliau tenang di alam sana
Bengkulu, 25 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Dinginnya hawa pegunungan di pagi hari
Membuat sebagian warga dikampungku
Sehabis sholat subuh atau cuci muka
Mampir dulu ke warung kopi
Disamping menghirup kopi panas
Untuk menghangatkan badan
Mereka umumnya memakan goreng pisang raja dan
Ketan beras merah yang ditaburi kelapa parut
Sesekali papaku juga mampir ke warung kopi
Memesan goreng pisang raja dan
Ketan yang dibungkus daun
Untuk di bawa pulang
Beberapa kali aku membawa teman dari Padang
Setiap yang ikut pasti kedinginan dan
Memilih bakalumun lagi setelah sholat subuh
Aku juga kedinginan dan ikut bakalumun
Kasih orang tua memang tiada tara
Dibiarkannya kami bakalumun
Sementara papa pergi kewarung kopi
Membeli ketan dan goreng pisang raja
Mamaku menyiapkan teh hangat untuk kami dan
Kopi panas untuk papaku
Begitu goreng dan ketan terhidang
Langsung kami sikat hmmmm nikmattt
Teringat goreng pisang raja
Teringat kampung yang jauh dimata
Teringat papaku yang telah tiada
Semoga beliau tenang di alam sana
Bengkulu, 25 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
PULANG POKOK
PULANG POKOK
Tak terasa begitu cepat waktu berlalu
Terasa baru kemaren kami menempuh hidup baru
Kemudian lahirlah berturut turut dari rahimku
Seorang putra dan seorang putriku yang lucu-lucu
Ketika mereka dalam perutku
Mereka sudah suka menggodaku
Tiap sebentar menendang dan menggelitikku
Aku menjadi geli dan meng usap-usap perutku
Ketika mereka sudah lahir dan menyusu
Aku tak peduli pada tubuhku
Yang kupikirkan saat itu
Anakku tumbuh sehat, pintar dan lucu
Kudaftarkan putraku masuk TK pagi itu
Sore harinya di RSU lahirlah putriku
Masih kuingat hari pertama sekolah anakku itu
Dia tak langsung pulang karena tak ditunggu
Walau hanya berdua anak-anakku
Dirumah terasa ramai selalu
Entah karena cemburu
Tiap sebentar mereka berseteru
Tak terasa waktu berlalu
Setamat SMA putraku pergi meninggalkanku
Rumah yang tadinya ramai selalu
Mulai terasa sepi karena hanya ada putriku
Tamat pula dari SMA putriku itu
Dia juga memilih tinggalkan aku
Dengan berat hati ku ikuti yang dia mau
Allahpun melapangkan jalan untuk putriku
Kukira aku masih akan bersama untuk beberapa minggu
Panggilan kota Jakarta tempat di rawat kakakku
Telah membuatku mengirim putriku
Untuk menggantikanku menemani kakakku
Kini tinggallah aku dan suamiku
Kembali berdua seperti pengantin baru
Pulang pokok kata orang padaku
Hari ini 23 tahun usia pernikahanku
Bengkulu, 20 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
Tak terasa begitu cepat waktu berlalu
Terasa baru kemaren kami menempuh hidup baru
Kemudian lahirlah berturut turut dari rahimku
Seorang putra dan seorang putriku yang lucu-lucu
Ketika mereka dalam perutku
Mereka sudah suka menggodaku
Tiap sebentar menendang dan menggelitikku
Aku menjadi geli dan meng usap-usap perutku
Ketika mereka sudah lahir dan menyusu
Aku tak peduli pada tubuhku
Yang kupikirkan saat itu
Anakku tumbuh sehat, pintar dan lucu
Kudaftarkan putraku masuk TK pagi itu
Sore harinya di RSU lahirlah putriku
Masih kuingat hari pertama sekolah anakku itu
Dia tak langsung pulang karena tak ditunggu
Walau hanya berdua anak-anakku
Dirumah terasa ramai selalu
Entah karena cemburu
Tiap sebentar mereka berseteru
Tak terasa waktu berlalu
Setamat SMA putraku pergi meninggalkanku
Rumah yang tadinya ramai selalu
Mulai terasa sepi karena hanya ada putriku
Tamat pula dari SMA putriku itu
Dia juga memilih tinggalkan aku
Dengan berat hati ku ikuti yang dia mau
Allahpun melapangkan jalan untuk putriku
Kukira aku masih akan bersama untuk beberapa minggu
Panggilan kota Jakarta tempat di rawat kakakku
Telah membuatku mengirim putriku
Untuk menggantikanku menemani kakakku
Kini tinggallah aku dan suamiku
Kembali berdua seperti pengantin baru
Pulang pokok kata orang padaku
Hari ini 23 tahun usia pernikahanku
Bengkulu, 20 Juli 2009
Hanifah Damanhuri
MENYUSUI
MENYUSUI
> Membaca tentang pentingnya menyusui
> Aku jadi teringat ketika anak-anak masih bayi
> Alhamdulillah keduanya kususui
> Mungkin waktu itu karena faktor ekonomi
>
> Kulahirkan di Padang anak pertamaku
> Kubawa anakku memasuki rumah baru
> Perumnas yang potongannya terasa besar bagiku
> Dua pertiga dari gajiku
>
> Gabungan sisa uangku dan uang suamiku
> Membuatku harus pandai-pandai mengatur menu
> Ku hitung-hitung andai kebelikan susu
> Yang teririt dan praktis adalah menyusu padaku
>
> Aku beruntung sabagi ibu
> Yang bisa atur jadwal kuliah sesuai seleraku
> Kegiatan lain aku tak mau tau
> Sampai anakku berhenti menyusu
>
> Dua tahun lamanya anak pertamaku menyusu
> Sudah malu pula orang melihatku
> Ketika kususukan saja dimana dia mau
> Entah kemana perginya malu
>
> Tak mudah menyuruhnya berhenti
> Pahir sedikit dia tidak peduli
> Akhirnya kuusap putingku dengan akar ali-ali
> Baru dia berhenti karena pahit sekali
>
> Anakku yang kedua
> Tak serakus yang pertama
> Kususukan enam belas bulan lamanya
> Berhenti sendiri karena ku tinggal lama
>
> Waktu itu aku tinggalkan dia bersama bapaknya
> Aku ikut penataran di USU FMIPA Matematika
> Sebenarnya aku tersiksa disana
> Susuku bengkak dan sakit karena penuh isinya
>
> Kubeli penyedot air susu
> Ku sedot air susuku
> Beberapa hari berlalu
> Berkurang sendiri air susuku
>
> Begitu aku kembali ke Bengkulu
> Ku susukan lagi anakku
> Entah kenapa aku tak tau
> Tak mau lagi dia menyusu padaku
>
>
> Bengkulu, 17 Juli 2009
>
>
> Hanifah Damanhuri
> Membaca tentang pentingnya menyusui
> Aku jadi teringat ketika anak-anak masih bayi
> Alhamdulillah keduanya kususui
> Mungkin waktu itu karena faktor ekonomi
>
> Kulahirkan di Padang anak pertamaku
> Kubawa anakku memasuki rumah baru
> Perumnas yang potongannya terasa besar bagiku
> Dua pertiga dari gajiku
>
> Gabungan sisa uangku dan uang suamiku
> Membuatku harus pandai-pandai mengatur menu
> Ku hitung-hitung andai kebelikan susu
> Yang teririt dan praktis adalah menyusu padaku
>
> Aku beruntung sabagi ibu
> Yang bisa atur jadwal kuliah sesuai seleraku
> Kegiatan lain aku tak mau tau
> Sampai anakku berhenti menyusu
>
> Dua tahun lamanya anak pertamaku menyusu
> Sudah malu pula orang melihatku
> Ketika kususukan saja dimana dia mau
> Entah kemana perginya malu
>
> Tak mudah menyuruhnya berhenti
> Pahir sedikit dia tidak peduli
> Akhirnya kuusap putingku dengan akar ali-ali
> Baru dia berhenti karena pahit sekali
>
> Anakku yang kedua
> Tak serakus yang pertama
> Kususukan enam belas bulan lamanya
> Berhenti sendiri karena ku tinggal lama
>
> Waktu itu aku tinggalkan dia bersama bapaknya
> Aku ikut penataran di USU FMIPA Matematika
> Sebenarnya aku tersiksa disana
> Susuku bengkak dan sakit karena penuh isinya
>
> Kubeli penyedot air susu
> Ku sedot air susuku
> Beberapa hari berlalu
> Berkurang sendiri air susuku
>
> Begitu aku kembali ke Bengkulu
> Ku susukan lagi anakku
> Entah kenapa aku tak tau
> Tak mau lagi dia menyusu padaku
>
>
> Bengkulu, 17 Juli 2009
>
>
> Hanifah Damanhuri
Langganan:
Postingan (Atom)