HARI PANAS SEKALI
Sudah hampir sebulan
Aku merasa kegerahan
Tiap sebentar rambut dan sekujur tubuh
Bermandikan peluh
Salah memilih baju
Kulit penuh biang keringat
Jadi serba salah
Kupakai baju katun yang tipis
Ketika berada di ruang AC
Atau berada di depan kipas angin
Aku kedinginan
Kepala jadi pusing
Tadi pagi
Aku kekuburan mengantar teman
Aku memakai baju hitam
Terasa hari panas sekali
Padahal aku berada
Dibawah pohon yang rindang
Tadi sore
Aku dapat SMS
Dari teman sepermainan
Ketika di kampung
“Info penting:
Pengumuman!
4 hr k dpn
Mulai hari ini
Jgn pke bju wrn hitam
Krn mathari
Sdng mncapai
Titik trdkt dg bumi
Slruh dunia
Mrngalami kebaikan suhu 4 drajat
Brpluang tjd kanker
Jd gunakan sunblock &
Byk mnum air putih.
Infokan lagi k org2
Yg kita pedulikan”
Bengkulu, 30 April 2010
Hanifah Damanhuri
Jumat, 30 April 2010
BAHASA IBU
BAHASA IBU
Adat dan budaya serta bahasa
Berlaku salingka Nagari di Ranah Minang
Ketika sudah mulai keluar dari Nagari
Dan berkumpul dengan orang berlainan Nagari
Walau Nagari bersebelahan
Kadang perbedaan menjadi pertengkaran
Kadang perbedaan menambah erat persahabatan
Terasa baru kemaren rasanya
Ketika teman-teman kos kakakku di Padang
Tertawa mendengar kata-kataku
“Sia di dalam kamar mandi”, tanya tante Yur
“Aden”, jawabku
“Ha ha ha”, dia tertawa ke temannya
Akupun ditatar agar tidak ber “Aden”
Pulang dari liburan
Aku memanggil nama sendiri untuk diri
Aku juga melarang orang jangan ber’Kau” ke aku
“Alah, baru libur ka Padang, sombong”
Begitu kata teman-temanku sekampung
Dari pada jadi orang asing di kampung sendiri
Aku kembali berbahasa ibu
Beranjak ABG
Kembali bahasa ibu menjadi masalah
Terutama ketika libur
Kadang saudara yang kekampung
Kadang aku yang ke kota
Saudaraku sering tertawa
Ketika aku berkata-kata
Biar tidak diketawakan lagi
Aku dan beberapa temanku
Berbahasa Indonesia setiap hari
Sebutan “Aden dan Kau”
Berganti “Lu dan Gua”
Tak peduli orang berkata apa
Sesekali berbahasa ibu
Ketika sudah merantau
Bahasa ibu ditinggalkan sama sekali
Anehnya
Ketika rindu kampung
Rindu sanak saudara
Kami memilih berbahasa ibu
Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan
Selucu-lucunya bahasa ibu
Sekasar-kasarnya logat bahasa ibu
Ketika sudah jauh dari rumah ibu
Bahasa ibu
Membantu mengingat kembali
Kenangan indah tentang suatu komunitas
Lengkap dengan adat dan budayanya
Bengkulu, 27 April 2010
Hanifah Damanhuri
Adat dan budaya serta bahasa
Berlaku salingka Nagari di Ranah Minang
Ketika sudah mulai keluar dari Nagari
Dan berkumpul dengan orang berlainan Nagari
Walau Nagari bersebelahan
Kadang perbedaan menjadi pertengkaran
Kadang perbedaan menambah erat persahabatan
Terasa baru kemaren rasanya
Ketika teman-teman kos kakakku di Padang
Tertawa mendengar kata-kataku
“Sia di dalam kamar mandi”, tanya tante Yur
“Aden”, jawabku
“Ha ha ha”, dia tertawa ke temannya
Akupun ditatar agar tidak ber “Aden”
Pulang dari liburan
Aku memanggil nama sendiri untuk diri
Aku juga melarang orang jangan ber’Kau” ke aku
“Alah, baru libur ka Padang, sombong”
Begitu kata teman-temanku sekampung
Dari pada jadi orang asing di kampung sendiri
Aku kembali berbahasa ibu
Beranjak ABG
Kembali bahasa ibu menjadi masalah
Terutama ketika libur
Kadang saudara yang kekampung
Kadang aku yang ke kota
Saudaraku sering tertawa
Ketika aku berkata-kata
Biar tidak diketawakan lagi
Aku dan beberapa temanku
Berbahasa Indonesia setiap hari
Sebutan “Aden dan Kau”
Berganti “Lu dan Gua”
Tak peduli orang berkata apa
Sesekali berbahasa ibu
Ketika sudah merantau
Bahasa ibu ditinggalkan sama sekali
Anehnya
Ketika rindu kampung
Rindu sanak saudara
Kami memilih berbahasa ibu
Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan
Selucu-lucunya bahasa ibu
Sekasar-kasarnya logat bahasa ibu
Ketika sudah jauh dari rumah ibu
Bahasa ibu
Membantu mengingat kembali
Kenangan indah tentang suatu komunitas
Lengkap dengan adat dan budayanya
Bengkulu, 27 April 2010
Hanifah Damanhuri
Minggu, 25 April 2010
MABUK “KEPAHYANG”
MABUK “KEPAHYANG”
“Nanti kalau Pulkam lagi
Ganti mobil ya”, kata kakakku
Aku tertawa nyengir
Sementara hati bersedih
Pulang ke Padang beberapa hari yang lalu
Kubeli mobil baru yang keren
Lengkap dengan sopir
Tapi belinya sebangku
Dari Bengkulu ke Padang
Aku merasa nyaman saja
Ketika meliwati perbukitan
Dengan jalan mendaki dan berkelok-kelok
Jelang memasuki kota Kepahyang
Di sore yang cerah sekali waktu itu
Ketika dari Padang ke Bengkulu
Mobil yang kami beli sebangku
Ukurannya lebih kecil dari sebelumnya
Walau dilengkapi AC
Sang sopir lebih suka buka kaca
Dini hari
Mobil kami
Berada di perbukitan
Menurun pelan-pelan
Di jalan yang berkelok-kelok
Terpaan angin dan dinginnya udara perbukitan
Serta guncangan mobil meliwati belokkan
Membuat perutku mual
Mobil dihentikan ketika aku minta kantong
“Buka pintu dan muntahkan diluar bu”, kata sopir
Begitu pintu terbuka
Buuuuaaaarrrr
Aku muntah menjadi-jadi
Lemas langsung badanku
Terbebas dari tikungan
Dan ketika bertemu warung makan
Kami singgah
Aku beli teh hangat
Ketika mobil berjalan lagi
Aku tertidur
Terjaga ketika sopir bertanya
Yang mana rumahnya
Pas mobil berhenti di depan rumah
Aku kembali muntah lagi
Mabuk “Kepahyang”, kata orang Bengkulu
Begitulah penderitaanku
Bila melewati bukit daerah Kepahyang
Kecuali aku makan antimo
Dan tidur disepanjang jalan tersebut
Tanpa melihat pemandangan yang indah
Bengkulu, 25 April 2010
Hanifah Damanhuri
NB. Ini catatan orla tentang tikungan http://www.pdp.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=841
“Nanti kalau Pulkam lagi
Ganti mobil ya”, kata kakakku
Aku tertawa nyengir
Sementara hati bersedih
Pulang ke Padang beberapa hari yang lalu
Kubeli mobil baru yang keren
Lengkap dengan sopir
Tapi belinya sebangku
Dari Bengkulu ke Padang
Aku merasa nyaman saja
Ketika meliwati perbukitan
Dengan jalan mendaki dan berkelok-kelok
Jelang memasuki kota Kepahyang
Di sore yang cerah sekali waktu itu
Ketika dari Padang ke Bengkulu
Mobil yang kami beli sebangku
Ukurannya lebih kecil dari sebelumnya
Walau dilengkapi AC
Sang sopir lebih suka buka kaca
Dini hari
Mobil kami
Berada di perbukitan
Menurun pelan-pelan
Di jalan yang berkelok-kelok
Terpaan angin dan dinginnya udara perbukitan
Serta guncangan mobil meliwati belokkan
Membuat perutku mual
Mobil dihentikan ketika aku minta kantong
“Buka pintu dan muntahkan diluar bu”, kata sopir
Begitu pintu terbuka
Buuuuaaaarrrr
Aku muntah menjadi-jadi
Lemas langsung badanku
Terbebas dari tikungan
Dan ketika bertemu warung makan
Kami singgah
Aku beli teh hangat
Ketika mobil berjalan lagi
Aku tertidur
Terjaga ketika sopir bertanya
Yang mana rumahnya
Pas mobil berhenti di depan rumah
Aku kembali muntah lagi
Mabuk “Kepahyang”, kata orang Bengkulu
Begitulah penderitaanku
Bila melewati bukit daerah Kepahyang
Kecuali aku makan antimo
Dan tidur disepanjang jalan tersebut
Tanpa melihat pemandangan yang indah
Bengkulu, 25 April 2010
Hanifah Damanhuri
NB. Ini catatan orla tentang tikungan http://www.pdp.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=841
Senin, 19 April 2010
BECAK MOTOR
BECAK MOTOR
Kali ini kami (aku dan suami) ke Padang
Menggunakan jasa travel
Irit dan hemat tenaga
Dan diantar sampai ke alamat
Masalah muncul ketika hendak bepergian
Dari dan ke rumah adikku di Siteba
Tak mudah mendapatkan angkot
Sesuai keinginan dalam waktu yang singkat
Ketika kami melangkah hendak menuju UNP
Kami melihat becak motor
Pemandangan yang terasa aneh bagiku
Kami panggil becak motor
Dan kamipun menuju UNP
Lewat jalan yang tersingkat
Jalan yang tak ditempuh Angkot
Hingga akhirnya sampai di Simpang Tunggul Hitam
Aku pikir kami akan diturunkan di Simpang ini
Eh sang becak ikut melaju di tengah keramaian
Bersaing dengan bermacam-macam mobil
Di jalan Hamka yang padat
Dengan lincah sang becak
Mengambil posisi di paling kanan
Sesampai di depan UNP
Becakpun berbelok dengan sigap
Dan meluncur kehalaman BNI
Kulihat pegawai BNI
Senyum-senyum melihat kami
Kami balas pula dengan senyuman
Sambil bergegas turun dan melangkah ke jalan
Becak motor telah membahagiakan kami di siang itu
Usai urusan kami di UNP siang itu
Kami naik biskota ke Pasar
Waduh mak
Musiknya keras sekali
Bikin kepala nyut-nyutan
Kalau seseorang ingin turun
Tinggal tepuk tangan
Menyaingi suara musik yang keras
Ada almari di atas kepala sopir
Yang berisi botol bekas dengan berbagai model
Apa itu botol bekas minuman keras?
Atau botol apa ya ?
Modelnya bagus-bagus
Indah juga nampaknya
Ketika sampai di Taman Melati
Kami diturunkan
Habiiis-habiiiiiis kata keneknya
Ya udah, kami turun
Kami telusuri jejak yang pernah di tinggalkan
Puluhan tahun yang silam
ketika kasih mulai bersemi
Kami ulangi pula
Makan martabak Mesir Kubang
Sambil makan terkenang
Masa-masa indah di masa muda
Pulangnya kami putuskan naik becak motor lagi
Kami naik angkot dulu menuju Simpang Tunggul Hitam
Angkot Padang aneh-aneh warnanya
Diangkot ini aku juga melihat almari kecil
Tempat 3 buah botol di pajang
Red Label, X, Black Label
Dekat sopir juga ada botol minuman
Sama dengan biskota
Musik di angkot ini juga keras
Sssttt kata suamiku melarang
Ketika aku ingin minta sopir mengecilkan volumenya
Jangan kencang-kencang mas
Teriakku pada sopir
Yang mencoba menyalib mobil lain
Sial bagi sopir tersebut
Ketika dia menaikkan penumpang
Di tempat yang salah
Ketangkap basah polisi
Kami dipaksa polisi ganti mobil
Setelah sampai di Simpang Tunggul Hitam
Hujan lebat mengguyur Padang
Untung ada becak motor
Asyikk juga naik becak motor
Di bawah guyuran hujan lebat
Di jalan yang berbatuan/tidak rata
Kepala terantuk-antuk ke penutup becak
Padang, 16 April 2010
Hanifah Damanhuri
Kali ini kami (aku dan suami) ke Padang
Menggunakan jasa travel
Irit dan hemat tenaga
Dan diantar sampai ke alamat
Masalah muncul ketika hendak bepergian
Dari dan ke rumah adikku di Siteba
Tak mudah mendapatkan angkot
Sesuai keinginan dalam waktu yang singkat
Ketika kami melangkah hendak menuju UNP
Kami melihat becak motor
Pemandangan yang terasa aneh bagiku
Kami panggil becak motor
Dan kamipun menuju UNP
Lewat jalan yang tersingkat
Jalan yang tak ditempuh Angkot
Hingga akhirnya sampai di Simpang Tunggul Hitam
Aku pikir kami akan diturunkan di Simpang ini
Eh sang becak ikut melaju di tengah keramaian
Bersaing dengan bermacam-macam mobil
Di jalan Hamka yang padat
Dengan lincah sang becak
Mengambil posisi di paling kanan
Sesampai di depan UNP
Becakpun berbelok dengan sigap
Dan meluncur kehalaman BNI
Kulihat pegawai BNI
Senyum-senyum melihat kami
Kami balas pula dengan senyuman
Sambil bergegas turun dan melangkah ke jalan
Becak motor telah membahagiakan kami di siang itu
Usai urusan kami di UNP siang itu
Kami naik biskota ke Pasar
Waduh mak
Musiknya keras sekali
Bikin kepala nyut-nyutan
Kalau seseorang ingin turun
Tinggal tepuk tangan
Menyaingi suara musik yang keras
Ada almari di atas kepala sopir
Yang berisi botol bekas dengan berbagai model
Apa itu botol bekas minuman keras?
Atau botol apa ya ?
Modelnya bagus-bagus
Indah juga nampaknya
Ketika sampai di Taman Melati
Kami diturunkan
Habiiis-habiiiiiis kata keneknya
Ya udah, kami turun
Kami telusuri jejak yang pernah di tinggalkan
Puluhan tahun yang silam
ketika kasih mulai bersemi
Kami ulangi pula
Makan martabak Mesir Kubang
Sambil makan terkenang
Masa-masa indah di masa muda
Pulangnya kami putuskan naik becak motor lagi
Kami naik angkot dulu menuju Simpang Tunggul Hitam
Angkot Padang aneh-aneh warnanya
Diangkot ini aku juga melihat almari kecil
Tempat 3 buah botol di pajang
Red Label, X, Black Label
Dekat sopir juga ada botol minuman
Sama dengan biskota
Musik di angkot ini juga keras
Sssttt kata suamiku melarang
Ketika aku ingin minta sopir mengecilkan volumenya
Jangan kencang-kencang mas
Teriakku pada sopir
Yang mencoba menyalib mobil lain
Sial bagi sopir tersebut
Ketika dia menaikkan penumpang
Di tempat yang salah
Ketangkap basah polisi
Kami dipaksa polisi ganti mobil
Setelah sampai di Simpang Tunggul Hitam
Hujan lebat mengguyur Padang
Untung ada becak motor
Asyikk juga naik becak motor
Di bawah guyuran hujan lebat
Di jalan yang berbatuan/tidak rata
Kepala terantuk-antuk ke penutup becak
Padang, 16 April 2010
Hanifah Damanhuri
KESEMPATAN MENGUSAP KEPALA PAK ETEKKU
KESEMPATAN MENGUSAP KEPALA PAK ETEKKU
Di waktuku yang sempit
Dan langkahku yang singkat
Tak banyak yang sempat kukunjungi
Malam minggu 17 April 2010
Aku, suami dan keluarga adikku
Berkunjung ke rumah pak etekku
Bapak Akhiarly Djalil
Tak seperti biasanya
Pak etekku lama sekali menemui kami
Ketika keluar mulutnya di tutup sapu tangan
Setelah menyalami kami, masuk lagi kekamar
Ketika keluar lagi dari kamar
Pak etek ngomong barusan dia muntah
Kami jadi terkejut
Adikku dan aku memeriksa jidatnya
Tidak panas, tetapi dingin
Tangan juga dingin
“Ambil nasi panas” kata suamiku
Nasi yang dibungkus sapu tangan
Di usap-usap ke jidat, punggung dan tempat lain
Aku dan adikku memijit-mijit kaki dan tangan
Sambil memijit pak etek
Aku dan adikku tertawa lepas
Teringat ketika memijit papaku
Bayaran adikku lebih banyak dariku
Kami jadi terdiam
Ketika tanteku menangis dan berkata
“Uda, baa uda….”
Aku jadi cemas juga
Kami minta pak etek pindah kekamar
Sebelum pak etek naik ketempat tidur
Adikku sudah menghubungi kakakku
Pak etek konsultasi langsung dengan kakakku yang dokter
Saat itu kami merasa
Menghadapi papa sendiri
Bajunya diganti
Badannya dibalsemi
Kaki, tangan, dan kepala semuanya di pijit
Kesempatan mengusap kepala pak etek
Aku agak trauma rasanya
Terbayang saat terakhir papaku
Terbayang saat terakhir kakak iparku
Dalam hati aku berdoa
Semoga pak etek cepat sembuh
Setelah kami merasa badan pak etek mulai panas
Haripun sudah malam
Kami pamit
Sebelum pulang kerumah adikku
Kami mampir dulu ke rumah kakak tante
Memberitahukan keadaan pak etek
Biar ada yang menemani tante
Alhamdulillah
Tadi suara pak etek di telpon
Sudah kencang seperti biasa
Dan terdengar senang dan bahagia
Terima kasih Ya Allah
Engkau beri kesempatan padaku
Untuk mengusap kepala pak etekku
Yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku
Bengkulu, 10 April 2010
Hanifah Damanhuri
Di waktuku yang sempit
Dan langkahku yang singkat
Tak banyak yang sempat kukunjungi
Malam minggu 17 April 2010
Aku, suami dan keluarga adikku
Berkunjung ke rumah pak etekku
Bapak Akhiarly Djalil
Tak seperti biasanya
Pak etekku lama sekali menemui kami
Ketika keluar mulutnya di tutup sapu tangan
Setelah menyalami kami, masuk lagi kekamar
Ketika keluar lagi dari kamar
Pak etek ngomong barusan dia muntah
Kami jadi terkejut
Adikku dan aku memeriksa jidatnya
Tidak panas, tetapi dingin
Tangan juga dingin
“Ambil nasi panas” kata suamiku
Nasi yang dibungkus sapu tangan
Di usap-usap ke jidat, punggung dan tempat lain
Aku dan adikku memijit-mijit kaki dan tangan
Sambil memijit pak etek
Aku dan adikku tertawa lepas
Teringat ketika memijit papaku
Bayaran adikku lebih banyak dariku
Kami jadi terdiam
Ketika tanteku menangis dan berkata
“Uda, baa uda….”
Aku jadi cemas juga
Kami minta pak etek pindah kekamar
Sebelum pak etek naik ketempat tidur
Adikku sudah menghubungi kakakku
Pak etek konsultasi langsung dengan kakakku yang dokter
Saat itu kami merasa
Menghadapi papa sendiri
Bajunya diganti
Badannya dibalsemi
Kaki, tangan, dan kepala semuanya di pijit
Kesempatan mengusap kepala pak etek
Aku agak trauma rasanya
Terbayang saat terakhir papaku
Terbayang saat terakhir kakak iparku
Dalam hati aku berdoa
Semoga pak etek cepat sembuh
Setelah kami merasa badan pak etek mulai panas
Haripun sudah malam
Kami pamit
Sebelum pulang kerumah adikku
Kami mampir dulu ke rumah kakak tante
Memberitahukan keadaan pak etek
Biar ada yang menemani tante
Alhamdulillah
Tadi suara pak etek di telpon
Sudah kencang seperti biasa
Dan terdengar senang dan bahagia
Terima kasih Ya Allah
Engkau beri kesempatan padaku
Untuk mengusap kepala pak etekku
Yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku
Bengkulu, 10 April 2010
Hanifah Damanhuri
Senin, 12 April 2010
CALON PAHLAWAN
CALON PAHLAWAN
Rakyat berderai sepertiku
Sering tercengang-cengang
Menyaksikan berita/pemandangan di TV
Jadi bingung sendiri
Mana berita yang benar
Mana berita yang direkayasa
Siapa yang benar
Siapa yang salah
Sebagai rakyat berderai
Aku mengimpikan Negara yang hebat
Para pemimpinnya berpihak ke rakyat
Bijaksana, adil, jujur dan disiplin
Tapi saat ini aku merasa
Seperti meminta sisik ke lele
Pesona harta
Pesona tahta
Pesona wanita
Sangat susah terlepas dari manusia
Berbagai cara dilakukan
Kadang teman jadi lawan
Kadang lawan jadi teman
Orientasi ke rakyat
Hanya di bib ir saja
Tak jarang
Rakyatlah jadi korbannya
Di tengah hiruk pikuk perang bintang
Tak peduli entah apa alasannya
Mungkin juga sebagai balas dendam
Muncul bintang SD yang terang dimata rakyat
Di bongkarnyalah beberapa kasus di kantornya
Yang menggemparkan NKRI
Simpati rakyat tertuju padanya
Ingin betul rakyat menyaksikan
Siapa saja para penjahat berdasi
Yang telah melukai hati rakyat
Telah mencuri uang rakyat
Di tengah-tengah penantian rakyat
Muncul berita/pemandangan yang aneh di TV
Sang bintang SD yang sedang bersinar
Yang ingin berobat ke LN
Di tangkap teman kantornya
Huuuhhh ada apa ya?
Semua orang bertanya
Andai penangkapan ini tak benar prosedurnya
Aku rasa sang bintang SD
Akan tampil sebagai Calon Pahlawan
Jarak antara
Pahlawan dan Pengkhianat
Sangat tipis
Tergantung
Dari sisi mana seseorang melihatnya
Bengkulu, 12 April 2010
Hanifah Damanhuri
Rakyat berderai sepertiku
Sering tercengang-cengang
Menyaksikan berita/pemandangan di TV
Jadi bingung sendiri
Mana berita yang benar
Mana berita yang direkayasa
Siapa yang benar
Siapa yang salah
Sebagai rakyat berderai
Aku mengimpikan Negara yang hebat
Para pemimpinnya berpihak ke rakyat
Bijaksana, adil, jujur dan disiplin
Tapi saat ini aku merasa
Seperti meminta sisik ke lele
Pesona harta
Pesona tahta
Pesona wanita
Sangat susah terlepas dari manusia
Berbagai cara dilakukan
Kadang teman jadi lawan
Kadang lawan jadi teman
Orientasi ke rakyat
Hanya di bib ir saja
Tak jarang
Rakyatlah jadi korbannya
Di tengah hiruk pikuk perang bintang
Tak peduli entah apa alasannya
Mungkin juga sebagai balas dendam
Muncul bintang SD yang terang dimata rakyat
Di bongkarnyalah beberapa kasus di kantornya
Yang menggemparkan NKRI
Simpati rakyat tertuju padanya
Ingin betul rakyat menyaksikan
Siapa saja para penjahat berdasi
Yang telah melukai hati rakyat
Telah mencuri uang rakyat
Di tengah-tengah penantian rakyat
Muncul berita/pemandangan yang aneh di TV
Sang bintang SD yang sedang bersinar
Yang ingin berobat ke LN
Di tangkap teman kantornya
Huuuhhh ada apa ya?
Semua orang bertanya
Andai penangkapan ini tak benar prosedurnya
Aku rasa sang bintang SD
Akan tampil sebagai Calon Pahlawan
Jarak antara
Pahlawan dan Pengkhianat
Sangat tipis
Tergantung
Dari sisi mana seseorang melihatnya
Bengkulu, 12 April 2010
Hanifah Damanhuri
Sabtu, 10 April 2010
MENGGAPAI IMPIAN
MENGGAPAI IMPIAN
Hampir setengah abad usiaku kini
Usia yang sudah tidak muda lagi
Namun aku masih punya mimpi-mimpi
Mimpi yang kadang baru terpikirkan kini
Selama ini
Karirku mengalir bak air
Terhalang aku di suatu jalur
Aku berpindah ke jalur yang lain
Alhamdulillah untung saja
Aku tak terjebak di lubang yang dalam
Yang akan membuatku diam di tempat
Di usiaku yang tak muda lagi
Aku melihat masih ada kesempatan
Kesempatan untuk mengembangkan diri
Untuk itu kubangun suatu impian
Impian yang membutuhkan banyak pengorbanan
Untuk menggapai impianku
Aku bangun mimpi-mimpi yang lain
Seperti kata pepatah
Sekali merangkuh dayung
Dua tiga pulau terlampau
Minggu ini
Minggu penentuan bagiku
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Izinkanlah aku untuk menggapai impianku
Seandainya itu menjadikan aku lebih baik nanti
Mudahkanlah urusanku
Amin
Bengkulu, 11 April 2010
Hanifah Damanhuri
Hampir setengah abad usiaku kini
Usia yang sudah tidak muda lagi
Namun aku masih punya mimpi-mimpi
Mimpi yang kadang baru terpikirkan kini
Selama ini
Karirku mengalir bak air
Terhalang aku di suatu jalur
Aku berpindah ke jalur yang lain
Alhamdulillah untung saja
Aku tak terjebak di lubang yang dalam
Yang akan membuatku diam di tempat
Di usiaku yang tak muda lagi
Aku melihat masih ada kesempatan
Kesempatan untuk mengembangkan diri
Untuk itu kubangun suatu impian
Impian yang membutuhkan banyak pengorbanan
Untuk menggapai impianku
Aku bangun mimpi-mimpi yang lain
Seperti kata pepatah
Sekali merangkuh dayung
Dua tiga pulau terlampau
Minggu ini
Minggu penentuan bagiku
Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Izinkanlah aku untuk menggapai impianku
Seandainya itu menjadikan aku lebih baik nanti
Mudahkanlah urusanku
Amin
Bengkulu, 11 April 2010
Hanifah Damanhuri
Langganan:
Postingan (Atom)