Minggu, 25 November 2012

BANYAK ALASAN UNTUK MENUNDA



BANYAK ALASAN UNTUK MENUNDA

Begitu bulan Ramadhan berlalu
Ada hutang puasa yang harus dibayar
Oleh orang yang tak melaksanakan puasa
Berbagai macam halangannya

Ku coba merenungi puisi sahabatku Fuadri
“MENUJU MARTHATILLAH”
Kucoba pula instrospeksi diri
Sungguh
Aku malu
Aku masih jauh dari doanya yang kuamini
Banyak alasanku untuk menunda puasa ganti

Pada saat yang sama
Dengan alasan yang sama
Bahkan lebih berat dari alasanku
Banyak orang melaksanakan puasa Syawal

Haruskah aku kalah dari mereka
Mengapa aku tak coba seperti mereka
Mumpung masih ada hari yang tersisa
Kalau aku mau aku pasti bisa

Padang, 14 September 2012


Hanifah Damanhuri

MENUJUMARTHATILLA
oleh Fuadri Sh pada 2 September 2012 pukul 11:22 ·
MENUJU MARTHATILLAH

Takbir  tarawih telah pamit
Berjawat salam dengan Takbir Satu Syawal,
dihadiahkan
sebagai hari kemenangan
Oleh Sang Penguasa Jagad
Bagi manusia-manusia  yang mau dan mampu
Menempa iman untuk dipersembahkan
Pada Nya .

Kini, ketika bulanNya beranjak pergi,
Ramadhan yang Dia jadikan bukti
Akan salah satu Rahman dan Rahim Nya yang Tak berhingga
Untuk  dijadikan kesempatan menempa iman,
Meningkatkan kualitas dan kuantitas ubudiyah  hambaNya
Bahkan……………, Ramadhan Nya, di jadikan pintu bagi hambaNya
Untuk mohonkan keampunan atas dosa-dosa
Yang di buat karena kenaifan  sendiri

Dan disaat bulan mulia ini menjauh ,
Berketuyangan hasrat  untuk pinta
Pada Engkau Wahai yang bersemayam
Di Arash sana,…………..!
yang menghitung
tingkah laku kami,
 yang menghimpun semua rahasia kami,

Izinkanlah…………………..,
Sabar , menemani hari-hari kami…………..
Tawaduk, ……….menjadi dinding kami
Untuk kami  dapat bersandar
Tatkala kesombongan menerpa……………

Izinkanlah……….….,
Dan bukakanlah pintu hati kami
Sebagaimana Engkau bukakan
Pintu-pintu kebesaranMu
Ketika Al Qur’an dan As Sunah,
kami gunakan sebagai petunjuk
Tatkala kami terjebak dalam  kesesatan arah

Engkau yang bertahta di Arash sana
Peliharakanlah…………….
Semangat jihad Iman kami
Yang telah kami pupuk
Di sepanjang Ramadhan Mu
Yang baru saja pamit,

Agar kami……………….
Bisa  memeluk Istiqomah,
Ketika kelelahan menyergap
Dalam langkah ,
Menuju Marthatillah.


Fuad,………….Kasih Bundo, 02/09/2012
Top of Form
Bottom of Form








BAGAIKAN PISAU BERMATA DUA



BAGAIKAN PISAU BERMATA DUA

Sudah berhari-hari sejak dapat kado dari Fuadri
Fikiranku selalu tertuju pada kata-kata indah
Sebagai ungkapan cinta Bunda dan cinta pada Bunda
Alinia terakhir bagaikan pisau bermata dua
Kalau bukan aku yang dikuliti
Tentulah lawanku yang dikuliti

Dalam bahagiaku mendapat kado yang sangat indah
Tak henti aku memanjatkan puji dan syukur
Pada Allah yang Maha Kuasa
Karena  aku yakin berkat petunjuk-Nya jualah
Tulisan indah itu
Mengalir dari tangan sahabatku Fuadri

Allahpun memberikan pelajaran berharga padaku
Selama ini aku sangat suka mengagumi
Orang yang menurutku terlihat nyaris sempurna
Kadang membuatku berhiba hati
Dan lupa bersyukur
Atas  kelebihan yang diberikan Allah padaku

Fuadri yang kupandang lemah selama ini
Adalah orang yang diizinkan Allah untuk menolongku
Beberapakali aku dihiburnya disaat yang tepat
Maafkan aku Fuadri
Semoga Allah membalas semua kebaikkanmu
Dengan menjadikanmu bercahaya nanti di akhirat

Dharmasraya, 27 Juli 2012


Hanifah Damanhuri











BUNDA FUADRI PASTILAH WANITA ISTIMEWA



BUNDA FUADRI PASTILAH WANITA ISTIMEWA

Kado istimewa di hari ultah perkawinanku
Dari Fuadri sahabatku
Telah menggetarkan sukmaku
Aku tersanjung sekaligus malu
Aku belum sehebat Bunda yang diceritakannya
Yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan cinta

Secara fisik sahabatku Fuadri
Terlahir tidak sempurna
Bertolak belakang dengan Bapaknya
Guru olah ragaku di SMA
Lelaki gagah, tinggi dan besar
Tetapi Fuadri sangat mandiri

Seperti yang pernah dilantunkannya
Bagaimana caranya menerima dirinya
Yang membuatku terkesima dan salut
Tentu sang Bunda Fuadrilah
Yang paling berperan
Menghantarkan Fuadri mampu menerima dirinya

Aku yakin dan percaya
Bunda Fuadri pastilah wanita istimewa
Yang memiliki cinta
Yang berpikiran maju
Sehingga mampu menghantarkan sang putra
Berbakti kepada orang tua, Agama, Nusa dan Bangsa

Ingin rasanya aku belajar pada Bundamu Fuadri
Bagaimana cara mencintai buah hati
Ceritakanlah padaku
Bagaimana Bundamu
Melepas dirimu
Sehingga dirimu mampu mandiri

Padang, 21 Juli 2012

Hanifah Damanhuri


INSAN YANG MENJABAT SEBAGAI BUNDA
( Persembahan Untuk Sahabatku HANIFAH DAMANHURI)

Masih tampak tegar meski ringkih dalam renta usia, aurapun masih membiaskan ribuan arti dari guratan keriput di wajah yang mempesona, anggun keibuan, tiada berubah sejak saat dalam buaian, hingga kini. Dekapan pun tak berubah, luruh
memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Memang Jemari itu tak lagi lentik, namun selalu fasih
menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan doa-doa

Kaki tampak goyah, tak lagi kokoh menopang tubuh.
Telapak tempat syurga itu pun penuh bekas luka bernanah, pemakna
perjuangan menapak sulitnya kehidupan

Ibunda...
Engkaulah sesungguhnya anugerah terindah untukku
Sejak dalam rahim, aliran tubuh ini tak pernah henti merasakan cinta dan kasih mu yang tak bertepi

Rasa takjub mengiringi berdirinya bulu roma disekujur badan tatkala mengingat jihadmu selama sembilan bulan bersenjatakan kerelaan, keikhlasan dan kesabaran membelai dan melindungiku di rahim mu sampai saat aku disunahkan menghirup udara bumi.

Dan semakin mengganda rasa takjub ini ketika mendengar jihadmu saat melahirkanku.
Kau ikhlaskan sakitmu, kau relakan darahmu tumpah bahkan kau pertaruhkan selembar nyawa untuk aku buah hatimu

Wahai Rabb, Saat kaki ini telah kuat menjejak tanah dan tanganpun
terkepal ke angkasa saat mampu menggapai dunia bahkan menundukannya, dan disaat kemewahan dan popularitas telah berada di pangkuan, tuntunlah dan jagalah hati,pikiran,lidah dan laku hamba agar selalu dalam bingkai ketaatan

Ya Malikul mulk ingatkan selalu hamba untuk ikhlas berbakti pada bunda. Dan jangan tutup kesempatan itu.
Ridhokanlah segala apa yang hamba gapai adalah anuggrah yang hendak hamba persembahkan pada bunda.

Wahai Pemegang Arash, jangan biarkan lisan ini menyakiti hati bunda, jangan Engkau biarkan laku hamba melukai jiwa bunda

Ya Rahman Ya Rahim, limpahkanlah kedalam perbendaharaan hati ini rasa sayang, rasa takzim hamba yang tiada putusnya pada bunda

Sadarkan hamba ya Allah akan tugas dan kewajiban hamba untuk berbakti selama hayat hamba.

Ya Quddus, izinkan hamba untuk senantiasa takjub pada perempuan2 yg menjaga rahimnya dan mengikhlaskannya untuk dititipi amanah melalui jalan yang Engkau halalkan semata2 demi berjihad untukMu

Fuad 20/07/2012 ( Kado HARI jADI PERNIKAHANMU sahabatku )

BELAJAR DARI SAHABATKU FUADRI



BELAJAR DARI SAHABATKU FUADRI

“Mato condong ka nan rancak
Salero condong ka nan lamak”
Begitu salah satu pameo
Yang beredar di tengah masyarakat

Ketika disadari diri
Memiliki kelemahan disana sini
Muncul kesedihan dalam diri
Kadang menyesali kenapa terlahir di dunia ini

Seiring berjalannya waktu
Ilmu dan pengalaman ikut membantu
Bahwa tak selamanya pameo itu berlaku
Tak sempurna lahir tak halangi diri untuk maju

Hal itu dicontohkan oleh sahabatku Fuadri
Dimana-mana hatinya senang
Dimana-mana sahabatnya banyak
Fuadri beritahu aku, caranya menampilkan diri

Sebenarnya aku telah mengenalnya sejak di SMA
Beda kelas membuat kami tak pernah bertegur sapa
Alhamdulillah
Sekarang kami diizinkan-Nya untuk saling menyapa dan berbagi

Terima kasih Ya Allah
Atas Rahmat dan Hidayah-Mu
Banyak jalan yang Engkau bentangkan
Supaya aku belajar mensyukuri nikmat-Mu


Padang, 7 Juli 2012


Hanifah Damanhuri

CARAKU MENAMPILKAN DIRIKU
Oleh: Fuady S.H

Sungguh!
Aku bukanlah sosok ideal untuk sebuah persahabatan karena tampilan fisikku tidak memungkinkan untuk itu
Dan aku tak ingin itu jadi hambatan karena aku meyakini bahwa itu tidak akan merugikan

Sungguh! Aku tidak ingin mengingkari sunah ku.Dan akupun tidak ingin sahabatku terbebani karenanya Aku tidak ingin memintamu ini dan itu. . Aku hanya ingin kau dapat menerima inilah diriku.

Sahabat.........
Sungguh! Aku tak ingin kau jadikan dirimu pelita yang menerangi gulita kalbuku, tapi membuatmu tak berarah kala aku redup. Aku tak ingin dirimu menjadi anak tangga yang menyanggaku saat ku ingin berdiri yang lebih tinggi, tapi mematahkan mimpimu kala aku rapuh. Aku tak ingin kau jadikan dirimu semilir angin yang mengantar bidukku arungi samudra, tapi menghempasmu kala karang menerjang. Aku cuma ingin menjelma jadi setitik pemicu dalam aliran darahmu, bersemayam di relung alam bawah yang menopang untuk maju merengkuh saujana.

Aku sangat menghormati pribadimu, aku sangat tersanjung atas kesediaanmu menerima aku sebagai sahabat

. Aku bahkan tidak berharap kau memahamiku. Karena persahabatan itu indah dan kokoh jika saling memposisikan pada jalur empati bukan sekedar memberi simpati. Jangan pernah memaksa dirimu untuk mengasihaniku. Karena itu akan menyakitiku. …

Aku mengagungkan persahabatan dalam bingkai silaturrahim
Sungguh! Izinkan aku menghargaimu dengan sederhana. Karena… Inilah caraku memelihara silaturrahim......!

~fuad kasihbundo 07/07/2012